Minggu, 12 Januari 2014

Teori Eksplanasi dan Intepretasi dalam Sejarah

Salah satu chapter dalam buku Theories of History karya Patrick Gardiner ialah membahas mengenai teori eksplanasi dan intepretasi dalam sejarah yang dikembangkan oleh Charles Frankel. Teori eksplanasi merupakan sebuah teori mengenai penjelasan maupun menjelaskan mengenai suatu makna (meaning). Menurut Frankel penjelasan sejarah disusun atas prosedur-prosedur yang sesuai sehingga bukan menjadi sebuah cerita fantasi saja. Sejarah merupakan cerita tentang masa lalu. Peristiwa sejarah berarti peristiwa tentang masa lalu. Namun tidak semua masa lalu bisa menjadi sejarah. Hanya peristiwa-peristiwa yang penting dan memiliki pengaruh cukup signifikan yang bisa tergolong sebagai peristiwa sejarah. Masa lalu menghasilkan fakta-fakta sejarah. Fakta sejarah adalah hasil seleksi atas sifat fakta (kuat atau lemah). Fakta-fakta masa lalu baru menjadi fakta sejarah jika sejarawan memilihnya karena dianggap mempunyai hubungan (relevansi) dan berarti (signifikansi) dengan apa yang diteliti. Hal yang sama juga berlaku bagi penganut multikausal dalam peristiwa sejarah. Susunan sebab-sebab, signifikansi serta relevansi antar satu sebab atau serangkaian sebab dengan yang lainnya merupakan esensi penafsiran sejarah. Fakta-fakta sejarah tersebut kemudian disusun sedemikian rupa mengunakan eksplanasi sejarah sehingga terwujud historiografi. Jika fakta-fakta disusun secara biasa tanpa adanya eksplanasi (penjelasan) maka disebut kronik.
Intepretasi dalam sejarah menurut Frankel merupakan suatu upaya pemaknaan, penilaian dalam membentuk tulisan sejarah (historiografi). Sejarawan mencoba menjelaskan masa lalu dengan mencoba menghayati atau dengan empati, menempatkan dirinya dalam alam pemikiran pelaku sejarah. Sejarawan mencoba memasuki diri pelaku dan berupaya memahami apa yang dipikirkan, dirasakan, dan diperbuat pelaku sejarah. Ada semacam dialog batin antara batin sejarawan yang menggunakan pengalaman hidupnya sendiri dengan sumber-sumber sejarah yang digunakan. Suatu interpretasi muncul atas pemikiran, pandangan, kaca mata si penulis. Dengan demikian maka unsur subyektivitas-obyektivitas menjadi penting untuk diperdebatkan. Semua tulisan sejarah merupakan hasil atas intepretasi penulisnya. Sehingga pada hakekatnya sejarah dan tulisan sejarah itu tidak ada yang obyektif melainkan subyektif. Namun obyektivitas itu tetap ada, hanya saja seberapa jauh obyektifitas itu ada adalah hal yang perlu diutamakan. Artinya tingkat keobyektifan setiap penjelasan yang ada dalam historiografi sejarah berbeda-beda tergantung tingkat intepretasi yang diberikan oleh si penulis. Ada sejarah yang sangat subyektif, lumayan subyektif dan minim subyektif tergantung dari emosional penulis dalam memberikan intepretasinya ke dalam tulisan. Hal-hal demikian menjadi menarik diperbincangkan oleh para filsuf dan sejarawan khususnya. Mereka sepakat beranggapan bahwa tidak ada sejarah yang obyektif  karena semua sejarah adalah hasil buah pikir atas intepretasi seseorang artinya ada unsur emosional di dalamnya. Namun kemudian para sejarawan dan filsuf bukan lagi menperdebatkan hal itu melainkan usaha bagaimana cara supaya unsur obyektivitas itu bisa muncul sebesar-besarnya. Semakin besar tingkat obyektifitas maka semakin tinggi kualitas dan tingkat kebenaran atas fakta peristiwa yang disajikan di dalamnya.
Intepretasi dalam sejarah mejadi masalah yang besar dalam perdebatan para ahli. Intepretasi telah masuk dalam berbagai macam tulisan penjelasan sejarah. Hal demikian akan merubah banyak hal terkait kualitas isi dan mainset (cara pandang, berfikir) seseorang. Karena dalam penjelasan sejarah yang telah diberi intepretasi akan terjadi suatu penambahan atau pengurangan makna atas fakta yang ada sesungguhnya. Bisa terjadi penambahan makna yang dihiperbolakan (dilebih-lebihkan) atau sebaliknya yaitu adanya pengurangan atau penghilangan sebagian makna yang akan mempengaruhi keutuhan penjelasan sejarah yang seharusnya. Ada semacam unsur penggunaan logika (used of the logic) yang sering kali itu menjadi bumerang bagi penulisan sejarah. Jika hal-hal demikian tidak diperhatikan secara cermat maka tidak menutup kemungkinan akan terwujudnya penjelasan sejarah yang terbelok, keluar dari fakta sesungguhnya. Penulisan sejarah menjadi terlalu subyektif, terlalu menyimpang. Adanya kepentingan-kepentingan personal maupun golongan penulis menjadi masalah utama yang terus diperdebatkan.
Di dalam penjelasan sejarah terdapat penjelasan kausal (hubungan sebab-akibat). Pertanyaan when (kapan), where (di mana), what (apa) dan who (siapa) merupakan pertanyaan faktual. Dalam penjelasan sejarah maka keempat pertanyaan faktual tersebut harus digenapi dengan dua pertanyaan yang mencerminkan daripada penjelasan sejarah itu sendiri yaitu why (mengapa) dan how (bagaimana). Kedua pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan analisis-kritis yang juga menuntut jawaban analisis-kritis yang bermuara pada penjelasan atau sintesis sejarah. Dalam kaitannya dengan deskripsi, eksplanasi dibangun atas deskripsi-deskripsi faktual karena eksplanasi tanpa deskripsi adalah fantasi.
Dalam penjelasan sejarah dibutuhkan regularity yaitu suatu keajekan, keteraturan, konsistensi. Kemudian adanya generalisasi yaitu persamaan kharakteristik tertentu. Selain itu penjelasan sejarah juga berkaitan dengan narrative history (cerita sejarah).  Khusus untuk cerita sejarah, bahwa penjelasan sejarah terkadang bermodel cerita sejarah. Artinya bahwa konsep kausalitas kurang diutamakan. Sejarawan ditugaskan untuk merangkai tulisan berdasarkan atas fakta-fakta yang telah dipilih, kemudian direkontruksi sedemikian rupa atas peristiwa masa lalu yang kemudian diceritakannya kembali. Dalam merekontruksi inilah muncul apa yang sebelumnya tadi telah dibahas yaitu interpretasi sehingga unsur subyektifitas-obyektifitas selalu muncul dan diperdebatkan. Penjelasan sejarah menjadi suatu pembahasan yang menarik terutama oleh para ahli-ahli sejarah. Selama penjelasan sejarah merupakan buah pikir manusia maka perdebatan akan selalu muncul dan diperdebatkan.
Mengenai ilmu bantu dalam penjelasan sejarah juga berkaitan dengan masalah bahasa (language). Penggunaan bahasa yang dipilih oleh penulis juga mempengaruhi daya tangkap pembacanya. Penggunaan bahasa yang lugas yang tidak terlalu disembunyikan artinya akan membawa pada tersampainya makna tulisan. Sedangkan sebaliknya tulisan sejarah yang menggunakan penyembunyian makna (cenderung implisit) akan lebih susah ditangkap oleh pembaca. Selain bahasa juga digunakannya analogi. Analogi merupakan alat eksplanasi yang sangat berguna. Analogi berperan penting dalam proses kreativitas intelektual. Selain itu juga berperan ke dalam maupun ke luar. Ke dalam, analogi dapat meningkatkan suatu yang tidak disadari atan inferensi awal ke tingkat rasionalitas dalam pikiran . Ke luar, analogi bekerja sebagai wahana mengalihkan pikiran seseorang kepada orang lain. Meskipun demikian, penggunaan analogi dalam eksplanasi sejarah berpotensi menimbulkan kekeliruan. Karena itu, para sejarawan dituntut lebih selektif dalam menggunakannya. Analogi, meskipun suatu alat untuk menjelaskan peristiwa sejarah, kedudukannya hanya alat bantu (auxiliary) dalam pembuktian. Analogi juga berkaitan dengan metafora. Sejarawan yang menggunakan metafora dalam penjelasannya kerap menggunakan analogi.

1 komentar: