Salah satu chapter
dalam buku Theories of History karya
Patrick Gardiner ialah membahas mengenai teori eksplanasi dan intepretasi dalam
sejarah yang dikembangkan oleh Charles Frankel. Teori eksplanasi merupakan sebuah teori mengenai penjelasan maupun
menjelaskan mengenai suatu makna (meaning).
Menurut Frankel penjelasan sejarah disusun atas prosedur-prosedur yang sesuai
sehingga bukan menjadi sebuah cerita fantasi saja. Sejarah merupakan cerita
tentang masa lalu. Peristiwa sejarah berarti peristiwa tentang masa lalu. Namun
tidak semua masa lalu bisa menjadi sejarah. Hanya peristiwa-peristiwa yang
penting dan memiliki pengaruh cukup signifikan yang bisa tergolong sebagai
peristiwa sejarah. Masa lalu menghasilkan fakta-fakta sejarah. Fakta sejarah adalah hasil seleksi atas
sifat fakta (kuat atau lemah). Fakta-fakta masa lalu baru
menjadi fakta sejarah jika sejarawan memilihnya karena dianggap mempunyai
hubungan (relevansi) dan berarti (signifikansi) dengan apa yang diteliti. Hal
yang sama juga berlaku bagi penganut multikausal dalam peristiwa sejarah.
Susunan sebab-sebab, signifikansi serta relevansi antar satu sebab atau
serangkaian sebab dengan yang lainnya merupakan esensi penafsiran sejarah. Fakta-fakta
sejarah tersebut kemudian disusun sedemikian rupa mengunakan eksplanasi sejarah
sehingga terwujud historiografi. Jika
fakta-fakta disusun secara biasa tanpa adanya eksplanasi (penjelasan) maka
disebut kronik.
Intepretasi dalam sejarah menurut Frankel merupakan suatu upaya
pemaknaan, penilaian dalam membentuk tulisan sejarah (historiografi). Sejarawan
mencoba menjelaskan masa lalu dengan mencoba menghayati atau dengan empati,
menempatkan dirinya dalam alam pemikiran pelaku sejarah. Sejarawan mencoba memasuki
diri pelaku dan berupaya memahami apa yang dipikirkan, dirasakan, dan diperbuat
pelaku sejarah. Ada semacam dialog batin antara batin sejarawan yang
menggunakan pengalaman hidupnya sendiri dengan sumber-sumber sejarah yang
digunakan. Suatu interpretasi muncul atas pemikiran, pandangan, kaca mata si
penulis. Dengan demikian maka unsur subyektivitas-obyektivitas menjadi
penting untuk diperdebatkan. Semua tulisan sejarah merupakan hasil atas intepretasi
penulisnya. Sehingga pada hakekatnya sejarah dan tulisan sejarah itu tidak ada
yang obyektif melainkan subyektif. Namun obyektivitas itu tetap
ada, hanya saja seberapa jauh obyektifitas itu ada adalah hal yang perlu
diutamakan. Artinya tingkat keobyektifan setiap penjelasan yang ada dalam
historiografi sejarah berbeda-beda tergantung tingkat intepretasi yang
diberikan oleh si penulis. Ada sejarah yang sangat subyektif, lumayan subyektif
dan minim subyektif tergantung dari emosional penulis dalam memberikan intepretasinya
ke dalam tulisan. Hal-hal demikian menjadi menarik diperbincangkan oleh para
filsuf dan sejarawan khususnya. Mereka sepakat beranggapan bahwa tidak ada
sejarah yang obyektif karena semua
sejarah adalah hasil buah pikir atas intepretasi seseorang artinya ada unsur
emosional di dalamnya. Namun kemudian para sejarawan dan filsuf bukan lagi
menperdebatkan hal itu melainkan usaha bagaimana cara supaya unsur obyektivitas
itu bisa muncul sebesar-besarnya. Semakin besar tingkat obyektifitas maka
semakin tinggi kualitas dan tingkat kebenaran atas fakta peristiwa yang
disajikan di dalamnya.
Intepretasi
dalam sejarah mejadi masalah yang besar dalam perdebatan para ahli. Intepretasi
telah masuk dalam berbagai macam tulisan penjelasan sejarah. Hal demikian akan
merubah banyak hal terkait kualitas isi dan mainset
(cara pandang, berfikir) seseorang. Karena dalam penjelasan sejarah yang telah
diberi intepretasi akan terjadi suatu penambahan atau pengurangan makna atas
fakta yang ada sesungguhnya. Bisa terjadi penambahan makna yang dihiperbolakan (dilebih-lebihkan) atau
sebaliknya yaitu adanya pengurangan atau penghilangan sebagian makna yang akan
mempengaruhi keutuhan penjelasan sejarah yang seharusnya. Ada semacam unsur
penggunaan logika (used of the logic)
yang sering kali itu menjadi bumerang bagi penulisan sejarah. Jika hal-hal
demikian tidak diperhatikan secara cermat maka tidak menutup kemungkinan akan
terwujudnya penjelasan sejarah yang terbelok, keluar dari fakta sesungguhnya.
Penulisan sejarah menjadi terlalu subyektif, terlalu menyimpang. Adanya kepentingan-kepentingan
personal maupun golongan penulis menjadi masalah utama yang terus
diperdebatkan.
Di
dalam penjelasan sejarah terdapat penjelasan kausal (hubungan sebab-akibat).
Pertanyaan when (kapan), where (di mana), what (apa) dan who (siapa) merupakan pertanyaan
faktual. Dalam penjelasan sejarah maka keempat pertanyaan faktual tersebut
harus digenapi dengan dua pertanyaan yang mencerminkan daripada penjelasan
sejarah itu sendiri yaitu why
(mengapa) dan how (bagaimana). Kedua
pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan analisis-kritis
yang juga menuntut jawaban analisis-kritis yang bermuara pada penjelasan atau
sintesis sejarah. Dalam kaitannya dengan deskripsi, eksplanasi dibangun atas
deskripsi-deskripsi faktual karena eksplanasi tanpa deskripsi adalah fantasi.
Dalam penjelasan
sejarah dibutuhkan regularity yaitu
suatu keajekan, keteraturan, konsistensi. Kemudian adanya generalisasi yaitu persamaan kharakteristik tertentu. Selain itu
penjelasan sejarah juga berkaitan dengan narrative
history (cerita sejarah). Khusus
untuk cerita sejarah, bahwa penjelasan sejarah terkadang bermodel cerita
sejarah. Artinya bahwa konsep kausalitas kurang diutamakan. Sejarawan
ditugaskan untuk merangkai tulisan berdasarkan atas fakta-fakta yang telah
dipilih, kemudian direkontruksi sedemikian rupa atas peristiwa masa lalu yang
kemudian diceritakannya kembali. Dalam merekontruksi inilah muncul apa yang
sebelumnya tadi telah dibahas yaitu interpretasi sehingga unsur
subyektifitas-obyektifitas selalu muncul dan diperdebatkan. Penjelasan sejarah
menjadi suatu pembahasan yang menarik terutama oleh para ahli-ahli sejarah.
Selama penjelasan sejarah merupakan buah pikir manusia maka perdebatan akan
selalu muncul dan diperdebatkan.
Mengenai ilmu bantu
dalam penjelasan sejarah juga berkaitan dengan masalah bahasa (language). Penggunaan bahasa yang
dipilih oleh penulis juga mempengaruhi daya tangkap pembacanya. Penggunaan
bahasa yang lugas yang tidak terlalu disembunyikan artinya akan membawa pada
tersampainya makna tulisan. Sedangkan sebaliknya tulisan sejarah yang
menggunakan penyembunyian makna (cenderung implisit)
akan lebih susah ditangkap oleh pembaca. Selain bahasa juga digunakannya analogi. Analogi merupakan alat
eksplanasi yang sangat berguna. Analogi berperan penting dalam proses kreativitas
intelektual. Selain itu juga berperan ke dalam maupun ke luar. Ke dalam,
analogi dapat meningkatkan suatu yang tidak disadari atan inferensi awal ke
tingkat rasionalitas dalam pikiran . Ke luar, analogi bekerja sebagai wahana
mengalihkan pikiran seseorang kepada orang lain. Meskipun demikian, penggunaan
analogi dalam eksplanasi sejarah berpotensi menimbulkan kekeliruan. Karena itu, para sejarawan dituntut lebih selektif
dalam menggunakannya. Analogi, meskipun suatu alat untuk menjelaskan peristiwa
sejarah, kedudukannya hanya alat bantu (auxiliary) dalam pembuktian.
Analogi juga berkaitan dengan metafora. Sejarawan yang menggunakan metafora
dalam penjelasannya kerap menggunakan analogi.
terima kasih sangat bermanfat sekali
BalasHapus