Sejarah
nasional merupakan susunan dari sejarah-sejarah lokal yang saling berhubungan. Masing-masing
sejarah lokal memiliki ciri dan khas yang berbeda. Tetapi disamping memiliki
perbedaaan ada kalanya juga memiliki kesamaan jika di lihat dari unsur-unsur di
dalamnya. Dalam hal ini penulis akan membahas mengenai unsur kepercayaan yang
berkembang khususnya di Jawa yaitu Surakarta dan Yogyakarta sebagai the Spirit of Java (pusatnya kekuatan
budaya Jawa ) dan di Sulawesi (Makasar). Kepercayaan yang muncul di kedua
wilayah ini lebih dikenal sebagai sejarah
mentalitas yang bersumber pada mitos
setempat. Bagaimanakah melihat mitos dari berbagai sudut pandang, yang justru
akan membuka wawasan luas mengenai fungsi dan peran mitos itu sendiri baik di
Jawa maupun di Makasar. Dengan metode komparasi
maka akan didapat hasil analisis dan fakta yang lebih akurat.
Berdasarkan
tulisan Muklis tentang mesianisme dalam gerakan sosial di tanah Makasar dan
tulisan Djoko Suryo tentang kisah Senapati dan Ki Ageng Mangir dalam historiografi
Babad, dapat diasumsikan bahwa baik di Jawa maupun Makasar telah berkembang
mitos yang membungkus cara hidup dan berfikir masyarakatnya. Kisah Batara Goa yang muncul dalam gerakan
sosial di Makasar dan kisah Senapati-Ki
Ageng Mangir di Jawa sebenarnya memiliki kesamaan dilihat dari kacamata
mitos sebagai mentalitas. Batara Goa muncul di tengah-tengah masyarakat dengan
berbagai janji dan ramalannya supaya masyarakat percaya dan tunduk serta mau
menjadi pengikutnya. Lakon Batara Goa muncul tidak hanya sekali tetapi
berkali-kali mulai dari tahun 1967 sampai 1928. Hal itu bisa terjadi karena
masyarakat Makasar percaya bahwa suatu hari akan tiba waktunya datang seorang
pemimpin (di Jawa disebut dengan Ratu
Adil ) yang mampu mengubah keadaan yang telah kacau dan menyengsarakan itu
menjadi keadaan yang sebaliknya yaitu kembali aman, damai, sejahtera dan makmur
seperti sedia kala. Hal demikian bisa dibandingkan dengan kisah Senapati-Ki
Ageng Mangir di Jawa. Kisah tersebut menjelaskan mengenai pertentangan antara Panembahan Senapati Ingalaga sebagai
pendiri kerajaan Mataram Islam dengan Ki Ageng Mangir yang merupakan penguasa
suatu desa yang tidak mau tunduk dengan Senapati. Dalam Babad Mangir dikisahkan
bahwa Senapati keluar sebagai pemenang yang berhasil membunuh Ki Ageng Mangir
dan menguasai senjata keramatnya. Dengan berhasilnya merebut senjata keramat
(tombak Kyai Barukuping) milik Ki
Ageng Mangir sekaligus berhasil membunuhnya, maka hal itu akan membentuk suatu
legitimasi kekuasaan Senapati yang semakin berkharisma.
Jika
melihat dua kisah tersebut maka sebenarnya ditemukan persamaan mengenai mitos. Mitos dibentuk secara sengaja
dengan tujuan tertentu pada zamanya. Dalam hal ini dilakukan oleh Batara Goa
dan Panembahan Senapati. Salah fungsi utama
mitos dalam kasus ini adalah sebagai legitimation
of power ( alat legitimasi kekuasaan). Batara Goa muncul di masyarakat
dengan berbagai janji dan ramalannya
serta didukung dengan penggunaan jimat karena menganggap dirinya adalah
wakil Tuhan yang telah terpilih pada akhirnya mampu meyakinkan masyarakatnya
sehingga mau menjadi pengikutnya. Begitu pula cerita bahwa Panembahan Senapati
juga menerima wahyu atau pulung dari
Tuhan, memiliki pusaka-pusaka sakti serta telah menikah dengan ratu penguasa
pantai selatan atau lebih populer dengan sebutan Nyai Rara Kidul merupakan serentetan cerita yang mampu membawanya
kedalam kekuasaan yang lebih mantab dan berkharisma.
Dalam
pembahasan seperti ini perlu dianalisis mengapa masyarakat dengan mudahnya mau
menjadi pengikut atau tunduk kepada tokoh yang baru muncul tersebut, dalam hal
ini Senapati dan Batara Goa. Tentu bukan persoalan yang mudah dalam menjawab
pertanyaan seperti itu. Selain berbagai rentetan alasan yang sudah dijelaskan
tadi, kita harus melihat pula dari segi historisnya sekaligus prosesnya. Jika
ditik jauh kebelakang, Panembahan Senapati merupakan keturunan Majapahit yaitu
Brawijaya V. Senapati juga berguru pada Sunan
Kalijaga yang notabene merupakan Sunan atau penyebar agama Islam yang
sangat terkemuka khususnya di tanah Jawa. Selain itu Senapati merupakan primus inter pares (cikal bakal) pendiri
kerajaan Mataram Islam, walaupun sudah ada desa Mangir dengan penggedhenya Ki
Ageng Mangir. Dengan modal semua itu, maka akan lebih mudah diterima masyarakat.
Masyarakat percaya bahwa Senapati adalah orang yang pantas menjadi pemimpin
yang sanggup melindungi dan membawa masyarakatnya pada kemakmuran karena telah
memiliki berbagai modal untuk menjadi pemimpin.
Hal
ini juga berlaku dalam lakon Batara Goa di Makasar. Masyarakat juga dengan
mudahnya percaya dan mau tunduk menjadi pengikutnya, terbukti dengan mau
membayar sejumlah uang untuk Batara Goa. Setelah dianalisis lebih jauh,
terdapat kesamaan tetapi juga perbedaan dengan kasus Senapati. Persamaannya adalah
terdapat pada syarat alat pusaka dan pengakuan sebagai utusan dari Tuhan.
Masyarakat begitu mudah percaya karena Batara Goa memiliki jimat yang dipercaya
ampuh dalam menjawab permasalahan yang muncul yaitu mala petaka dan
kesengsaraan. Selain itu masyarakat juga begitu mudah percaya bahwa Batara Goa
adalah representasi dari utusan Tuhan yang akan membawa kedamaian dan
kesejahteraan. Hal itu semakin mudah karena memang dari sisi historisnya telah
dibangun mitos bahwa kelak akan muncul kembali Batara Goa yang telah mati.
Perlu
ditekankan bahwa terdapat perbedaan antara kasus Batara Goa dengan Senapati.
Bahwa dalam hal pewahyuan, Senapati tidak secara langsung mengaku sebagai
utusan Tuhan seperti yang dilakukan oleh Batara Goa melainkan dengan dikisahkan
turunnya pulung atau wahyu ke dalam
diri Senapati. Hal itu sebenarnya merupakan representasi
bahwa Senapati merupakan utusan Tuhan, sama halnya dengan Batara Goa. Dalam
hal ini muncul atau terlihat mesianisme
terlebih di kasus Batara Goa. Hal tersebut dikarenakan jauh sebelum tokoh
Batara Goa muncul telah ada kehidupan bermasyarakat yang dinilai aman, damai,
sejahtera dan sesuai dengan nilai-nilai tradisional. Tetapi setelah datangnya
penguasa Asing yaitu VOC Belanda, terjadi changing
(perubahan) dalam tatanan kehidupan masyarakat Makasar. Perubahan tersebut
mengarahah kepada suatu keadaan dimana masyarakat mengalami kesengsaraan,
kerugian, eksploitasi dan sebagainya sehingga masyarakat percaya bahwa akan ada
seorang utusan Tuhan akan menjadi penolongnya, yang akan mengembalikan
masyarakatnya seperti sedia kala dan aliran kepercayaan seperti inilah yang
disebut Mesianisme. Hal itu akan
berbeda jika dibandingkan dengan kasus Senapati. Senapati merupakan pendiri
Mataram Islam sehingga belum ada kehidupan sebelumnya di bawah nama kerajaan
Mataram Islam itu sendiri sehingga mesianisme
belum begitu kental atau muncul. Apapun itu, penulis berkesimpulan bahwa mitos dibangun sebagai suatu mentalitas
kehidupan yang memiliki fungsi dan peran dan harus dimaknai dengan cara tertentu
yang lebih kompleks dan menyatu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar