Minggu, 12 Januari 2014

MITOS SEBAGAI MENTALITAS KEHIDUPAN (Studi Komparasi di Jawa dan Makasar)

Sejarah nasional merupakan susunan dari sejarah-sejarah lokal  yang saling berhubungan. Masing-masing sejarah lokal memiliki ciri dan khas yang berbeda. Tetapi disamping memiliki perbedaaan ada kalanya juga memiliki kesamaan jika di lihat dari unsur-unsur di dalamnya. Dalam hal ini penulis akan membahas mengenai unsur kepercayaan yang berkembang khususnya di Jawa yaitu Surakarta dan Yogyakarta sebagai the Spirit of Java (pusatnya kekuatan budaya Jawa ) dan di Sulawesi (Makasar). Kepercayaan yang muncul di kedua wilayah ini lebih dikenal sebagai sejarah mentalitas yang bersumber pada mitos setempat. Bagaimanakah melihat mitos dari berbagai sudut pandang, yang justru akan membuka wawasan luas mengenai fungsi dan peran mitos itu sendiri baik di Jawa maupun di Makasar. Dengan metode komparasi maka akan didapat hasil analisis dan fakta yang lebih akurat.
Berdasarkan tulisan Muklis tentang mesianisme dalam gerakan sosial di tanah Makasar dan tulisan Djoko Suryo tentang kisah Senapati dan Ki Ageng Mangir dalam historiografi Babad, dapat diasumsikan bahwa baik di Jawa maupun Makasar telah berkembang mitos yang membungkus cara hidup dan berfikir masyarakatnya. Kisah Batara Goa yang muncul dalam gerakan sosial di Makasar dan kisah Senapati-Ki Ageng Mangir di Jawa sebenarnya memiliki kesamaan dilihat dari kacamata mitos sebagai mentalitas. Batara Goa muncul di tengah-tengah masyarakat dengan berbagai janji dan ramalannya supaya masyarakat percaya dan tunduk serta mau menjadi pengikutnya. Lakon Batara Goa muncul tidak hanya sekali tetapi berkali-kali mulai dari tahun 1967 sampai 1928. Hal itu bisa terjadi karena masyarakat Makasar percaya bahwa suatu hari akan tiba waktunya datang seorang pemimpin (di Jawa disebut dengan Ratu Adil ) yang mampu mengubah keadaan yang telah kacau dan menyengsarakan itu menjadi keadaan yang sebaliknya yaitu kembali aman, damai, sejahtera dan makmur seperti sedia kala. Hal demikian bisa dibandingkan dengan kisah Senapati-Ki Ageng Mangir di Jawa. Kisah tersebut menjelaskan mengenai pertentangan antara Panembahan Senapati Ingalaga sebagai pendiri kerajaan Mataram Islam dengan Ki Ageng Mangir yang merupakan penguasa suatu desa yang tidak mau tunduk dengan Senapati. Dalam Babad Mangir dikisahkan bahwa Senapati keluar sebagai pemenang yang berhasil membunuh Ki Ageng Mangir dan menguasai senjata keramatnya. Dengan berhasilnya merebut senjata keramat (tombak Kyai Barukuping) milik Ki Ageng Mangir sekaligus berhasil membunuhnya, maka hal itu akan membentuk suatu legitimasi kekuasaan Senapati yang semakin berkharisma.
Jika melihat dua kisah tersebut maka sebenarnya ditemukan persamaan mengenai mitos. Mitos dibentuk secara sengaja dengan tujuan tertentu pada zamanya. Dalam hal ini dilakukan oleh Batara Goa dan Panembahan Senapati. Salah fungsi utama mitos dalam kasus ini adalah sebagai legitimation of power ( alat legitimasi kekuasaan). Batara Goa muncul di masyarakat dengan berbagai janji dan ramalannya  serta didukung dengan penggunaan jimat karena menganggap dirinya adalah wakil Tuhan yang telah terpilih pada akhirnya mampu meyakinkan masyarakatnya sehingga mau menjadi pengikutnya. Begitu pula cerita bahwa Panembahan Senapati juga menerima wahyu atau pulung dari Tuhan, memiliki pusaka-pusaka sakti serta telah menikah dengan ratu penguasa pantai selatan atau lebih populer dengan sebutan Nyai Rara Kidul merupakan serentetan cerita yang mampu membawanya kedalam kekuasaan yang lebih mantab dan berkharisma.
Dalam pembahasan seperti ini perlu dianalisis mengapa masyarakat dengan mudahnya mau menjadi pengikut atau tunduk kepada tokoh yang baru muncul tersebut, dalam hal ini Senapati dan Batara Goa. Tentu bukan persoalan yang mudah dalam menjawab pertanyaan seperti itu. Selain berbagai rentetan alasan yang sudah dijelaskan tadi, kita harus melihat pula dari segi historisnya sekaligus prosesnya. Jika ditik jauh kebelakang, Panembahan Senapati merupakan keturunan Majapahit yaitu Brawijaya V. Senapati juga berguru pada Sunan Kalijaga yang notabene merupakan Sunan atau penyebar agama Islam yang sangat terkemuka khususnya di tanah Jawa. Selain itu Senapati merupakan primus inter pares (cikal bakal) pendiri kerajaan Mataram Islam, walaupun sudah ada desa Mangir dengan penggedhenya Ki Ageng Mangir. Dengan modal semua itu, maka akan lebih mudah diterima masyarakat. Masyarakat percaya bahwa Senapati adalah orang yang pantas menjadi pemimpin yang sanggup melindungi dan membawa masyarakatnya pada kemakmuran karena telah memiliki berbagai modal untuk menjadi pemimpin.
Hal ini juga berlaku dalam lakon Batara Goa di Makasar. Masyarakat juga dengan mudahnya percaya dan mau tunduk menjadi pengikutnya, terbukti dengan mau membayar sejumlah uang untuk Batara Goa. Setelah dianalisis lebih jauh, terdapat kesamaan tetapi juga perbedaan dengan kasus Senapati. Persamaannya adalah terdapat pada syarat alat pusaka dan pengakuan sebagai utusan dari Tuhan. Masyarakat begitu mudah percaya karena Batara Goa memiliki jimat yang dipercaya ampuh dalam menjawab permasalahan yang muncul yaitu mala petaka dan kesengsaraan. Selain itu masyarakat juga begitu mudah percaya bahwa Batara Goa adalah representasi dari utusan Tuhan yang akan membawa kedamaian dan kesejahteraan. Hal itu semakin mudah karena memang dari sisi historisnya telah dibangun mitos bahwa kelak akan muncul kembali Batara Goa yang telah mati.
Perlu ditekankan bahwa terdapat perbedaan antara kasus Batara Goa dengan Senapati. Bahwa dalam hal pewahyuan, Senapati tidak secara langsung mengaku sebagai utusan Tuhan seperti yang dilakukan oleh Batara Goa melainkan dengan dikisahkan turunnya pulung atau wahyu ke dalam diri Senapati. Hal itu sebenarnya merupakan representasi bahwa Senapati merupakan utusan Tuhan, sama halnya dengan Batara Goa. Dalam hal ini muncul atau terlihat mesianisme terlebih di kasus Batara Goa. Hal tersebut dikarenakan jauh sebelum tokoh Batara Goa muncul telah ada kehidupan bermasyarakat yang dinilai aman, damai, sejahtera dan sesuai dengan nilai-nilai tradisional. Tetapi setelah datangnya penguasa Asing yaitu VOC Belanda, terjadi changing (perubahan) dalam tatanan kehidupan masyarakat Makasar. Perubahan tersebut mengarahah kepada suatu keadaan dimana masyarakat mengalami kesengsaraan, kerugian, eksploitasi dan sebagainya sehingga masyarakat percaya bahwa akan ada seorang utusan Tuhan akan menjadi penolongnya, yang akan mengembalikan masyarakatnya seperti sedia kala dan aliran kepercayaan seperti inilah yang disebut Mesianisme. Hal itu akan berbeda jika dibandingkan dengan kasus Senapati. Senapati merupakan pendiri Mataram Islam sehingga belum ada kehidupan sebelumnya di bawah nama kerajaan Mataram Islam itu sendiri sehingga mesianisme belum begitu kental atau muncul. Apapun itu, penulis berkesimpulan bahwa mitos dibangun sebagai suatu mentalitas kehidupan yang memiliki fungsi dan peran dan harus dimaknai dengan cara tertentu yang lebih kompleks dan menyatu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar