KAPITALISME
Oleh
Dadan Adi K
A. PENGERTIAN
KAPITALISME
Kapitalisme sebenarnya bukanlah hal yang baru untuk untuk di
perbincangkan, tetapi melihat pengaruhnya yang masih begitu kuat terhadap
kehidupan social ekonomi masyarakat dunia umumnya dan Indonesia khususnya
membuat kapitalisme tak pernah berhenti untuk diperbincangkan. Oleh karena itu
tiada salah bila kita sekali lagi mengenal sedikit tentang kapitalisme.
Kata kapitalisme berasal dari capital yang berarti
modal, dengan yang dimaksud modal adalah alat produksi seperti tanah, uang dan
lain sebagainya. Dan kata isme berarti suatu paham atau
ajaran. Jadi arti kapitalisme itu sendiri adalah suatu ajaran atau paham tentang
modal atau segala sesuatu dihargai dan diukur dengan uang paham kapitalisme ini
meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan
sebesar-besarnya. Demi prinsip tersebut, maka pemerintah tidak dapat melakukan
intervensi pasar guna keuntungan bersama. Walaupun demikian, kapitalisme
sebenarnya tidak memiliki definisi universal yang bisa diterima secara luas.
Paham iniberazas atas pengembangan hak milik pribadi dan
pemeliharaannya serta perluasan faham kebebasan. Sehingga dalam prakteknya
menciptakan kesenjangnan social yang
tinggi antara si kaya dan si miskin. Yang kaya semakin kaya dan yang msikin
semakin miskin.
B. SEJARAH MUNCULNYA KAPITALISME
Eropa pernah diperintah kerajaan Romawi yang telah
mewariskan sistem feodalistik. Dalam rentang waktu antara abad ke-14 sampai
abad ke-16 muncul apa yang disebut kelas bourgeois mengiring tahap
feodal dimana keduanya saling mengisi. Kemudian sejak awal abad ke-16 secara
bertahap fase borjuis disusul degan fase kapitalisme.
Kapitalisme yang muncul setelah feodalisme runtuh secara
garis besar terbagi menjadi tiga fase:
1.
Kapitalisme Awal ( 1500 – 1750 ).
Kapitalisme pada fase ini masih mengacu pada kebutuhan pokok
yang ditandai dengan hadirnya industri sandang di Inggris sejak abad XVI sampai
abad XVIII. Dan berlanjut pada usaha perkapalan, pergudangan, bahan- bahan
mentah, barang- barang jadi dan variasi bentuk kekayaan yang lain. Dan
kemuadian berubah menjadi perluasan kapasitas produksi, dan talenta kapitalisme
ini yang kemudian hari justru banyak menelan korban. Di perkotaan, para
saudagar kapitalis menjual barang-barang produksi mereka dalam satu perjalanan
dari satu tempat ke tempat lainnya. Mula-mula mereka menjual barang pada teman
sesama saudagar seperjalanan, lalu berkembang menjadi perdagangan public.
Sementara di wilayah pedesaan saat itu masih cenderung feodalistik. Dalam hal
ini Russel mengemukakan adanya tiga faktor yang menghambat kapitalisme di
pedesaan dan berbagai wilayah lain :
1)
Tanah yang ada hanya digunakan untuk
bercocok tanam, sehingga hasil produksinya sangat terbatas. Russel mengusulkan
untuk mengubah tanah menjadi sesuatu yang lebih menguntungkan ( profitable ).
Atau dengan pengertian lain tanah bias diperjual belikan seperti barang
lainnya.
2)
Para petani atau buruh tani yang
masih terikat pada system ekonomi subsistensi . komentar Russel untuk hal
ini adalah mereka siap unutk dipekerjakan dengan upah tertentu.
3)
Hasil produksi yang diperoleh petani
saat itu hanya sekedar digunakan untuk mencukupi kebutuhanpribadi. Menurutnya,
produksi hasil petani harus ditawarkan ke pasar dan siap dikonsumsi oleh
publik.
2.
Kapitalisme Klasik ( 1750 – 1914 ) .
Kapitalisme pada fase ini merupakan pergeseran dari
perdagangan publik kebidang industri yang ditandai oleh Revolusi Industri di
Inggris dimana banyak diciptakan mesin- mesin besar yang sangat menunjang
industri. Di fase inilah terkenal tokoh yang disebut “bapak kapitalisme” dengan bukunya yang sangat tekenal the Wealth Of
Nations ( 1776 ) dimana salah satu poin ajarannya laissez faire dengan
invisible hand-nya ( mekanisme pasar )dan beberapa tokoh seangkatan seperti
David Ricardo dan John Stuart Mills, yang sering dikenal sebagai tokoh ekonomi
neo- klasik. Pada fase inilah kapitalisme sering mendapat hujatan pedas dari
kelompok Marx.
3.
Kapitalisme Lanjut ( 1914 – sekarang ).
Momentum utama fase ini adalah terjadinya Perang Dunia I,
kapitalisme lanjut sebagai peristiwa penting ini ditandai paling tidak oleh
tiga momentum. Pertama, pergeseran dominasi modal dari Eropa ke Amerika. Kedua,
bangkitnya kesadaran bangsa- bangsa di Asia dan Afrika sebagai ekses dari
kapitalisme klasik, yang kemudian memanifestasikan kesadaran itu dengan
perlawanan. Ketiga, revolusi Bolshevik Rusia yang berhasrat
meluluhlantakkan institusi fundamental kapitalisme yang berupa pemilikan secara
individu atas penguasaan sarana produksi, struktur kelas sosial, bentuk
pemerintahan dan kemapanan agama. Darisana muncul ideology tandingan yaitu
komunisme.
Perspektif Teori Dasar Kapitalisme Secara Sosiologis Dan
Ekonomis
Secara sosiologis paham kapitalisme berawal dari
perjuangan terhadap kaum feodal, salah satu tokoh yang terkenal Max Weber dalam karyanya The Protestan
Ethic of Spirit Capitalism, mengungkapkan bahwa kemunculan kapitalisme erat
sekali dengan dengan semangat religius terutama kaum protestan. Pendapat Weber
ini didukung Marthin Luther King
yang mengatakan bahwa lewat perbuatan dan karya yang lebih baik manusia dapat
menyelamatkan diri dari kutukan abadi. Tokoh lain yang mendukung adalah Benjamin Franklin dengan mottonya yang
sangat terkenal yaitu “Time Is Money”, bahwa manusia hidup
untuk bekerja keras dan memupuk kekayaan.
Perkembangan kapitalisme tidak bisa lepas dari sang maestro,
yaitu Adam Smith dimana ia
mengemukakan 5 teori dasar dari
kapitalisme :
- Pengakuan hak milik pribadi tanpa batas – batas tertentu.
- Pengakuan hak pribadi untuk melakukan kegiatan ekonomi demi meningkatkan status sosial ekonomi.
- Pengakuan adanya motivasi ekonomi dalam bentuk semangat meraih keuntungan semaksimal mungkin.
- Kebebasan melakukan kompetisi.
- Mengakui hokum ekonomi pasar bebas/mekanisme pasar.
Bentuk Kapitalisme
a) Kapitalisme perdagangan
yang muncul pada abad ke-16 setelah dihapusnya sistem feodal. Dalam sistem ini
seorang pengusaha mengangkat hasil produksinya dari satu tempat ke tempat lain
sesuai dengan kebutuhan pasar. Dengan demikian ia berfungsi sebagai perantara
antara produsen dan konsumen
b) Kapitalisme industri
yang lahir karena ditopang oleh kemajuan industri dengan penemuan mesin uap
oleh James Watt tahun 1765 dan mesin tenun tahun 1733. Semua itu telah
membangkitkan revolusi industri di Inggris dan Eropa menjelang abad ke-19.
Kapitalisme industri ini tegak di atas dasar pemisahan antara modal dan buruh
yakni antara manusia dan mesin.
c) Sistem Kartel
yaitu kesepakatan perusahaan-perusahaan besar dalam membagi pasaran
internasional. Sistem ini memberi kesempatan utk memonopoli pasar dan pemerasan
seluas-luasnya. Aliran ini tersebar di Jerman dan Jepang.
d) Sistem Trust
yaitu sebuah sistem yang membentuk satu perusahaan dari berbagai perusahaan
yang bersaing agar perusahaan tersebut lebih mampu berproduksi dan lebih kuat
untuk mengontrol dan menguasai pasar.
C.
CIRI-CIRI
KAPITALISME
Ciri-ciri kapitalisme antara lain
sebagai berikut :
1.
Pemilikan
Perorangan
Pemilikan
alat-alat produksi dikuasai secara perorangan bukan oleh negara.
2.
Perekonomian
Pasar
Mengadakan
produksi tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri melainkan untuk pasar
yang belum diketahui, dalam hal harga, penawaran dan permintaan menjadi penentu
dan telah mengenal spesialisasi kerja.
3.
Persaingan
Pengusaha dapat
membuat barang sebanyak-banyaknya, akan dapat menjual dengan harga yang murah
dan akan menguasai pasar.
4.
Keuntungan
Ciri pokok
dalam masyarakat kapitalis ialah adanya keuntungan. Perekonomian kapitalis
memberikan kesempatan lebih banyak untyuk meraih keuntungan, sebab perekonomian
kapitalis dijamin dengan 3 kebebasan, yakni :
1) Kebebasan
berdagang dan menentukan pekerjaan.
2) Kebebasan hak
kepemilikan
3) Kebebasan
mengadakan kontrak
Sedangkan
kebebasan untuk mengadakan persaingan di pasar berasal dari empat kebebasan
kapitalis pokok yaitu :
1) Kebebasan untuk
berdagang
2) Kebebasan hak
milik
3) Kebebasan
mengadakan kontrak
4) Kebebasan untuk
mencari atau membuat untung
D.
PRINSIP-PRINSIP
KAPITALISME
Tiga Asumsi Kapitalisme Menurut Ayn
Rand
Ayn Rand dalam Capitalism (1970) menyebutkan tiga asumsi
dasar kapitalisme, yaitu:
(a) kebebasan individu,
(b) kepentingan diri (selfishness), dan
(c) pasar bebas.
Menurut Rand, kebebasan individu merupakan tiang pokok
kapitalisme, karena dengan pengakuan hak alami tersebut individu bebas
berpikir, berkarya dan berproduksi untuk keberlangsungan hidupnya. Pada
gilirannya, pengakuan institusi hak individu memungkinkan individu untuk
memenuhi kepentingan dirinya. Menurut Rand, manusia hidup pertama-tama untuk
dirinya sendiri, bukan untuk kesejahteraan orang lain. Rand menolak keras
kolektivisme, altruisme, mistisisme. Konsep dasar bebas Rand merupakan aplikasi
sosial dan pandangan epistemologisnya yang natural mekanistik. Terpengaruh oleh
gagasan "the invisible hand" dari Smith, pasar bebas dilihat oleh
Rand sebagai proses yang senantiasa berkembang dan selalu menuntut yang terbaik
atau paling rasional. Smith pernah berkata: "...free marker forces is
allowed to balance equitably the distribution of wealth". (Robert Lerner,
1988).
Akumulasi Kapital
Heilbroner (1991) menelaah secara mendalam pengertian hakiki
dari kapital. Apa yang dimaksud dengan kapital sehingga dapat menjelaskan
formasi sosial tempat kita hidup sekarang adalah kapitalisme? Heilbroner
menolak memperlakukan kapital hanya dalam kategori hal-hal yang material berupa
barang atau uang. Menurutnya, jika kapital hanya berupa barang-barang produksi
atau uang yang diperlukan guna membeli material dan kerja, maka kapital akan
sama tuanya dengan peradaban.
Menurut Heilbroner, kapital adalah faktor yang mnggerakkan
suatu proses transformasi berlanjut atas kapital-sebagai-uang menjadi
kapital-sebagai-komoditi, diikuti oleh suatu transformasi dari
kapital-sebagai-komoditi menjadi kapital-sebagai uang yang bertambah. Inilah
rumusan M-C-M yang diperkenalkan Marx.
Proses yang berulang dan ekspansif ini memang diarahkan
untuk membuat barang-barang dan jasa-jasa dengan pengorganisasian niaga dan
produksi. Eksistensi fisik benda dan jasa itu merupakan suatu rintangan yang
harus diatasi dengan mengubah komoditi menjadi uang kembali. Bahkan kalau hal
itu terjadi, bila sudah terjual, maka uang itu pada gilirannya tidak dianggap
sebagai produk akhir dari pencarian tetapi hanya sebagai suatu tahap dalam
lingkaran yang tak berakhir.
Karena itu, menurut Heilbroner, kapital bukanlah suatu benda
material melainkan suatu proses yang memakai benda-benda material sebagai
tahap-tahap dalam eksistensi dinamiknya yang berkelanjutnya. Kapital adalah
suatu proses sosial, bukan proses fisik. Kapital memang mengambil bentuk fisik,
tetapi maknanya hanya bisa dipahami jika kita memandang bahwa benda-benda
material ini mewujudkan dan menyimbolkan suatu totalitas yang meluas.
Rumusan
M-C-M (Money-Commodity-Money) yang
diskemakan Marx atas metamorfosis yang berulang dan meluas yang dijalani
kapital merupakan penemuan Marx terhadap esensi kapitalisme, yaitu akumulasi
modal. Dalam pertukaran M-C-M tersebut uang bukan lagi alat tukar, tetapi sebagai
komoditas itu sndiri dan menjadi tujuan pertukaran.
Dorongan Untuk Mengakumulasi Kapital
(Heilbroner)
Analisis kapital sebagai suatu proses ekspansif seperti yang
diuraikan di muka, ditelaah lebih dalam lagi oleh Heilbroner melalui pendekatan
psikoanalisis, antropologis, dan sosiologis. Menurut Heilbroner, gagasan
kapital sebagai suatu hubungan sosial menyingkapkan inti hubungan itu, yaitu
dominasi. Hubungan dominasi memiliki dua kutub. Pertama, ketergantungan sosial kaum yang tak berpunya kepada pemilik
kapital di mana tanpa ketergantungan itu kapital tidak memiliki pengaruh
apa-apa. Kedua, dorongan tanpa henti
dan tanpa puas untuk mengakumulasi kapital.
Heilbroner melontarkan pertanyaan: Apakah alasan pembenaran
dari proses tanpa henti ini? Ia menyebutkan bahwa dorongan ini digerakkan oleh
keinginan untuk prestise dan kemenonjolan (realisasi diri). Dalam bahasa Abraham Maslow, dorongan
mengakumulasi kekayaan yang tidak puas-puas ini merupakan manifestasi
aktualisasi diri. Namun, Heilbroner mengingatkan bahwa kebutuhan afektif ini
hanyalah suatu kondisi yang perlu (necessary condition) namun belum menjadi
syarat cukup (sufficient condition) untuk dorongan mengejar kekayaan. Lalu
Heilbroner menemukan bahwa kekayaan memberikan pemiliknya kemampuan untuk
mengarahkan dan memobilisasikan kegiatan-kegiatan masyarakat. Ini adalah
kekuasaan. Kekayaan adalah suatu kategori sosial yang tidak terpisahkan dari
kekuasaan.
Dengan demikian, hakekat
kapitalisme menurut Heilbroner, adalah
dorongan tiada henti dan tanpa puas untuk mengakumulasi kapital sebagai
sublimasi dorongan bawah sadar manusia untuk merealisasi diri, mendominasi,
berkuasa. Karena dorongan ini berakar pada jati diri manusia, maka
kapitalisme lebih merupakan salah satu modus eksistensi manusia. Mungkin inilah
sebabnya mengapa kapitalisme mampu bertahan dan malah menjadi hegemoni
peradaban global.
Para propagandisnya yang terkenal antara lain:
1) Francois Quesnay .
Lahir di Versailes Perancis dan bekerja sebagai dokter di
istana Louis XV. Tetapi ia lebih mengutamakan bidang ekonomi dan mendirikan aliran
lesphisiocrates. Tahun 1756 ia menerbitkan dua buah makalah tentang para
petani dari selatan. Pada tahun 1758 ia menerbitkan tabel ekonomi yg disebut
La Tableau Economique yang di dalamnya digambarkan peredaran uang di dalam
masyarakat sebagai peredaran darah. Tentang tabel tersebut Mirabeau berkata “Di
dunia ini terdapat tiga penemuan besar yaitu tulisan mata uang dan tabel
ekonomi.”
2)
John Locke
Ia meramu teori naturalisme
liberal. Tentang hak milik ia berkata “Hak milik pribadi adl salah satu hak
alam dan instink yang tumbuh bersama pertumbuhan manusia. Karena itu tak ada
seorangpun yang mengingkari instink ini.”
3)
Adam Smith
Diaadalah penganut aliran klasik terkenal. Ia lahir di kota
Kirkcaldy Scotlandia. Belajar filsafat dan pernah menjadi guru besar logika di
Universitas Glasgow. Tahun 1766 ia pergi ke Perancis dan bertemu dgn para
penganut liberalisme. Tahun 1776 ia menerbitkan Penelitian Alam dan
Sebab-sebab Kekayaan Manusia. Buku inilah yang dikatakan kritikus Edmund
Burke sebagai karya tulis teragung yang pernah ditulis manusia
4)
David
Ricardo
Ia yang membahas hukum pembagian
hasil percapita dalam ekonomi kapitalisme. Teorinya yang terkenal ialah Hukum
Pengurangan Penghasilan. Kata orang ia berorientasi falsafi yang bercampur
dengan dorongan moral. Hal ini didasarkan kepada ucapannya “Segala perbuatan
dipandang menghilangkan moral jika bukan keluar dari perasaan cinta kepada
orang lain.”
5)
Robert
Malhus
Ia seorang ekonom Inggris klasik
yang dikenal pesimistis. Ia penemu teori kependudukan yang populer bahwa jumlah
penduduk berkembang menurut deret ukur sedangkan produksi pertanian berkembang
menurut deret hitung
6)
John
Stuart Mill
Ia yang dipandang sebagai penghubung
aliran individualisme dgn aliran sosialisme. Tahun 1836 ia
menerbitkan buku yang berjudul Prinsip-prinsip Ekonomi Politik.
7)
Lord
Keynes
Teorinya berkisar tentang
pengangguran dan lapangan kerja. Teori ini telah melampaui teori-teori yang
lain. Karena itu dialah yang berjasa dalam menciptakan lapangan kerja secara
utuh bagi suatu kekutan aktif di masyarakat kapitalis. Teori-teorinya itu
disebut dalam bukunya yg berjudul Teori Umum Tentang Lapangan Kerja Bursa
dan Mata Uang. Buku ini beredar pada tahun 1930
8)
David Hume
Ia sebagai penemu teori
pragmatisme yang integratif. Ia mengatakan “Hak milik khusus adl tradisi yg
dianut masyarakat yang harus diikuti. Sebab disanalah manfaat mereka.”
E. KEKUATAN
DAN KELEMAHAN KAPITALISME
Kekuatan
Kapitalisme
Unsur-unsur apa yang dikandung kapitalisme sehingga ia saat
ini tetap tangguh? Terdapat beberapa kekuatan yang memungkinkan kapitalisme
masih bertahan hingga kini melalui berbagai kritikan tajam dan rintangan.
Pertama, daya
adaptasi dan transformasi kapitalisme yang sangat tinggi, sehingga ia mampu
menyerap dan memodifikasi setiap kritik dan rintangan untuk memperkuat
eksistensinya. Sebagai contoh, bagaimana ancaman pemberontakan kaum buruh yang
diramalkan Marx tidak terwujud, karena di satu sisi, kaum buruh mengalami pembekuan
kesadaran kritis (reifikasi), dan di lain sisi, kelas borjuasi kapital melalui
negara memberikan "kebaikan hati" kepada kaum buruh dengan konsep
"welfare state". Pada gilirannya, kaum kapitalis memperoleh
persetujuan (consent) untuk mendominasi masyarakat melalui apa yang disebut
Gramsci sebagai hegemoni ekonomi, politik, budaya; atau seperti yang disebutkan
Heilbroner bahwa rezim kapital memiliki kemampuan untuk memperoleh kepatuhan
massa dengan memunculkan "patriotisme" ekonomik.
Kedua,
berkaitan dengan yang pertama, tingginya kemampuan adaptasi kapitalisme dapat
dilacak kepada waktu inheren pada hakekat kapitalisme, yaitu dorongan untuk
berkuasa dan perwujudan diri melalui kekayaan. Atas dasar itulah diantaranya,
maka Peter Berger dalam Revolusi Kapitalis (1990) berani bertaruh bahwa masa
depan ekonomi dunia berada dalam genggaman kapitalisme.
Ketiga,
kreativitas budaya kapitalisme dan kapasitasnya menyerap ide-ide serta
toleransi terhadap berbagai pemikiran. Menurut Rand, kebebasan dan hak individu
memberi ruang gerak manusia dalam berinovasi dan berkarya demi tercapainya
keberlangsungan hidup dan kebahagiaan. Dengan dasar pemikiran ini, Bernard
Murchland dalam Humanisme dan Kapitalisme (1992) dengan penuh keyakinan menaruh
harapan bahwa kapitalisme demokratis adalah humanisme yang dapat menyelamatkan
peradaban manusia di masa depan.
Kelemahan Kapitalisme
Mengacu kepada asumsi-asumsi dasar kapitalisme, klaim-klaim
pendukung kapitalisme dan praktek kapitalisme, terdapat beberapa kelemahan
mendasar kapitalisme.
Pertama,
pandangan epistemologinya yang positivistik mekanistik. Positivisme yang
memisahkan fakta dan nilai, bahkan hanya terpaku pada apa yang disebut fenomena
fakta dan mengabaikan nilai, terbukti sudah ketidakmampuannya menjelaskan
perkembangan sains modern dan kritikan dari fenomenologi hermeneutik (human
sciences). Pola pikir positivistik hanya satu dimensi, yaitu dialektika
positif, yang pada gilirannya mereduksi kemampuan refleksi kritis manusia untuk
menari makna-makna tersembunyi di balik fenomena-fenomena. Herbert Marcuse
dalam One Dimensional Man (1991) berkata: "... Kapitalisme, yang didorong
oleh teknologi, telah mengembang untuk mengisi semua ruang sosial kita; telah
menjadi suatu semesta politis selain psikologis. Kekuasaan totalitarian ini
mempertahankan hegemoninya dengan merampas fungsi kritisnya dari semua oposisi,
yaitu kemampuannya berpikir negatif mengenai sistem, dan dengan memaksakan
kebutuhan-kebutuhan palsu melalui iklan, kendali pasar, dan media. Maka,
kebebasan itu sendiri menjadi alat dominasi, dan akal menyembunyikan sisi gelap
irasionalitas..."
Kedua,
berkaitan dengan yang pertama, asumsi antropologis yang dianut kapitalisme
adalah pandangan reduksionis satu dimensi manusia yang berasal dari
rasionalisme Aufklarung. Temuan alam bawa sadar psikoanalisis menunjukkan bahwa
banyak perilaku manusia tidak didorong oleh kesadaran atau rasionalitas,
melainkan oleh ketidaksadaran dan irasionalitas. Asumsi kapitalisme yang
mengandaikan bahwa distribusi kekayaan akan terjadi dengan sendirinya bila
masyarakat telah makmur (contoh: konsep trickle down effect) melupakan aspek
irasionalitas manusia yang serakah dan keji. Dorongan yang tidak pernah puas
menumpukkan kapital sebagai watak khas kapitalisme merupakan bentuk patologis
megalomania dan narsisisme.
Ketiga,
keserakahan mengakumulai kapital berakibat pada eksploitasi yang melampau batas
terhadap alam dan sesama manusia, yang pada gilirannya masing-masing
menimbulkan krisis ekonologis dan dehumanisasi. Habermas (1988) menyebutkan kapitalisme
lanjut menimbulkan ketidakseimbangan ekologis, ketidakseimbangan antropologis
(gangguan sistem personaliti), dan ketidakseimbangan internasional.
Keempat, problem
moral. Bernard Murchland (1992), seorang pembela gigih kapitalisme, mengakui
bahwa masalah yang paling serius yang dihadapi kapitalisme demokratis adalah
pengikisan basis moral. Ia lalu menoleh ke negara-negara Timur yang kaya dengan
komponen moral kultural. Atas dasar problem etis inilah, maka Mangunwijaya
(1998) dengan lantang berkata: "... ternyatalah, bahwa sistem liberal
kapitalis, biar sudah direvisi, diadaptasi baru dan diperlunak sekalipun,
dibolak-balik diargumentasi dengan fasih ilmiah seribu kepala botak, ternyata
hanya dapat berfungsi dengan tumbal-tumbal sekian milyar rakyat dina lemah
miskin di seluruh duia, termasuk dan teristimewa Indonesia...."
Kelima,
implikasi dari praktek mengkomoditikan segenap ide-ide dan kegiatan-kegiatan
sosial budaya, maka terjadilah krisis makna yang pada gilirannya menimbulkan
krisis motivasi. Habermas (1988) mengatakan bahwa pada tataran sistem politik,
krisis motivasii ni menimbulkan krisis legitimasi, atau menurut istilah
Heilbroner (1991) dengan krisis intervensi.
F. KAPITALISME
DI INDONESIA
Kapitalisme merupakan ideologi yang mendominasi dunia saat
ini. karena diemban oleh negara adidaya amerika. Ideologi ini lahir dari
perseteruan di abad pertengahan Eropa yang terjadi akibat penindasan oleh raja
yang mengatasnamakan Tuhan. kemudian lahirlah para pemikir eropa yang
mencermati ketidakadilan yang dilakukan raja kepada rakyatnya.mereka pun
memprotes kebijakan raja yang mengatasnamakan Tuhan yang dibantu gereja untuk
mengekploitasi rakyat.Mereka mengajukan jalan tengah yaitu ide pemisahan agama
dari urusan kehidupan ini lah yang disebut sekulerisme. artinya urusan
kehidupan dipisahkan dari agama atau agama tidak berperan mengatur urusan
kehidupan.
Kapitalisme merupakan turunan dari sekulerisme yang telah
banyak menyebabkan ketimpangan. begitu banyak masalah yang timbul akibat
diterapkan kapitalisme dibidang ekonomi. Resesi ekonomi merupakan fakta yang
menunjukkan cacat dari kapitalisme.dalam pengaturan ekonomi berbasis
kapitalisme ekonomi hanya bergerak di sektor finansial bukan pada sektor real.
Sistem ekonomi yang sekarang diemban oleh pengusung
kapitalisme yaitu Amerika telah membawa dampak yang luar biasa. ketimpangan
ekonomi antara negara barat dan timur atau negara berkembang sangat kentara. Hampir
90 % kekayaan SDA dikuasai asing dan hanya sebagaian kecil yang dinikmati
masyarakat. ini merupakan hal yang memang built in dari sistem kapitalis yang
hanya memberikan peluang kepada mereka yang memiliki modal untuk menguasai
sumber daya alam. Dengan kebebasan kepemilikan yang didengungkan oleh para
kapitalis. mereka menguasai aset - aset penting di negara yang menerapkan
sistem kapitalis. Padahal setiap orang memiliki hak yang sama untuk menikmati
sumber daya alam, akhirnya kemiskinan terus menurun ke anak cucu karena biaya
pendidikan yang mahal akibatnya tidak memiliki keterampilan guna menghadapai
persaingan hidup.
Pendidikan yang telah diswastanisasi lah menjadi lahan subur
bagi para kapitalis untuk mengeruk keuntungan dari pendidikan. Menjadikan
kampus- memiliki bisnis yang pada hakikatnya berdampak pada kelesuan dunia
pendidikan karena biaya yang mahal akibat pemerintah lepas tangan dari
pengelolaan pendidikan. Kemiskinan akibat diterapkan kapitalisme dalam ekonomi
telah mendorong orang untuk melakukan tindakan kriminal hanya karena untuk
mempertahankan hidup.fakta ini telah banyak kita lihat baik di media cetak
maupun elekronik.
Kapitalisme di Indonesia adalah cangkokan dari Eropa yang
dalam beberapa hal tak sama dengan kapitalisme yang tumbuh dan dibesarkan dalam
negerinya sendiri, yakni Eropa dan Amerika Utara.
1)
Kapitalisme
yang Masih Muda
Karena
kapitalisme di Indonesia masih muda, produksi dan pemusatannya belumlah
mencapai tingkat yang semestinya. Kira-kira seperempat abad belakangan baru
dimulai industrialisasi di Indonesia. Baru pada waktu itulah dipergunakan mesin
yang modern dalam perusahaan-perusahaan gula, karet, teh, minyak, arang dan
timah.
Industri
Indonesia, terutama industri pertanian, masih tetap terbatas di Jawa dan di
beberapa tempat di Sumatera. Tanah yang luas, yang biasanya sangat subur dan
mengandung barang-barang logam yang tak ternilai harganya, seperti Sumatera,
Borneo, Sulawesi dan pulau-pulau yang lain masih menunggu-nunggu tangan
manusia. Meskipun Pulau Jawa dalam hal perkebunan dan alat-alat angkutan sudah
mencapai tingkatan yang tinggi, tetapi umumnya pulau luar Jawa, kecuali
Sumatera, masih rimba raya.
Industri
modern yang sebenarnya tidak akan diadakan di Pulau Jawa. Ia akan tetap tinggal
menjadi tempat industri pertanian. Sebab logam-logam seperti besi, arang,
minyak tanah, emas dan lainnya, tidak atau hanya sedikit sekali didapat di
sana. Sumateralah yang menjadi tempat industri modern yang sebenarnya. Hal ini
sekarang sebagian kecil telah terbukti. Arang, minyak tanah, emas dan timah
hasil Sumatera (kelak juga besi) besar artinya, baik di kalangan nasional maupun
internasional..
2)
Tumbuh
Tidak dengan Semestinya
Kapitalisme
di Indonesia tidak dilahirkan oleh cara-cara produksi bumiputra yang menurut
kemauan alam. Ia adalah perkakas asing yang dipergunakan untuk kepentingan
asing yang dengan kekerasan mendesak sistem produksi bumiputra.
Bila
kita perhatikan perkembangan kapitalisme di Eropa dan Amerika, nyatalah pada
kita bahwa cara produksi yang tua berturut-turut digantikan oleh yang muda.
Biasanya kejadian itu tidak tampak jelas, tetapi adakalanya cepat sehingga
cukup jelas. Kejadian yang belakangan ini ialah oleh adanya
pendapatan-pendapatan baru. Biar bagaimanapun keadaan saat itu, ia adalah
kemajuan menurut alam, sebab tenaga yang mendorongkan pada kemajuan itu ada di
dalam genggaman masyarakat di Eropa dan Amerika sendiri..
Di
Indonesia sebagai akibat kemajuan ekonomi yang tidak teratur sebagaimana
mestinya, tidak seperti di atas keadaannya. Kota-kota kita tak dapat dianggap
sebagai konsentrasi dari teknik, industri, dan penduduk. Ia tak menghasilkan
barang-barang baik untuk desa maupun untuk perdagangan luar negeri, dari
kapitalis-kapitalis bumiputra. Mesin-mesin pertanian, keperluan rumah tangga,
bahan-bahan untuk pakaian dan lain-lain tidak dibuat di Indonesia, tetapi
didatangkan dari luar negeri oleh badan-badan perdagangan imperialistis.
Desa-desa kita tak menghasilkan barang kebutuhan untuk kota-kota, karena untuk
mereka sendiri pun tak mencukupi. Beras misalnya, makanan rakyat yang terutama
mesti didatangkan dari luar, di tahun 1921 seharga f 114,160,000, meskipun
bangsa kita umumnya sangat pandai mengerjakan tanahnya dan semua syarat untuk
menghasilkan beras bagi keperluan sendiri bahkan dapat pula mengeluarkan
berasnya yang berlebih. Desa-desa kita mengeluarkan gula, karet, teh, dan
lain-lain barang perdagangan yang mengayakan saudagar asing, tetapi memiskinkan
dan memelaratkan kaum tarsi; kota-kota kita bukanlah menjadi pusat ekonomi
bangsa Indonesia, tetapi terus-terusan menjadi sumber ekonomi yang mengalirkan
keuntungan untuk setan-setan uang luar negeri.
3)
Kapital
Indonesia Itu Internasional
Imperialisme
Inggris dengan industri nasionalnya yang nomor wahid dan armada yang luar
biasa, semenjak semula merasa perlu mengadakan kompromi dengan raja-raja, dan
tuan-tuan tanah bangsa India, untuk mempertahankan diri terhadap borjuasi
bumiputra yang baru timbul. Tetapi tatkala yang tersebut belakangan ini keluar
dari medan perjuangan dengan kemenangan (di tahun 1900-1905 dan 1919-1922),
Inggris mengulurkan tangannya.
Dampak Negatif Kapitalisme di
Indonesia
Kapitalisme mengakibatkan yang kaya semakin kaya dan yang
miskin akan sulit berkembang karena
pemilik modal memiliki kuasa penuh bahkan diatas aturan -aturan pemerintah,
ambil contoh saja sekarang yang sedang rame yaitu Toko ritel waralaba sebut
saja xxxx-mart (dilarang sebut merk).
Memang hadirnya toko ritel ber waralaba memudahkan pembeli
untuk berbelanja praktis dan nyaman tapi di sisi perdagangan ini jelas mematikan
toko-toko dan kios kecil di sekitarnya terlebih lagi sekarang sudah sampai
masuk wilayah kampung, hal ini jelas merupakan persaingan bebas yang tidak
ber etika.
Selain itu ditambah lagi dengan begitu mudahnya dibangun
mall- mall dan supermarket baru yang jelas akan mematikan pasar tradisional,
memang jika saya disuruh memilih antara berbelanja di pasar tradisional dengan
belanja di supermarket tentu saya memilih belanja di supermarket, karena lebih
bersih, nyaman, dan aman, tapi sebenarnya pasar tradisional pun jika dikelola
dengan baik oleh pemerintah bukan mustahil bisa menghadirkan suasana-suasana
yang menyenangkan.
Selain contoh-contoh di atas tentu masih banyak
prektek-praktek usaha yang menjurus kepada paham kapitalisme.
Memang disini dibutuhkan kerjasama dari semua pihak
- Pemerintah sebagai pembuat kebijakan harus pro rakyat dan mampu bertindak tegas dalam menegakkan aturan-aturan.
- Para pelaku usaha harus tertib mendukung program pemerintah.
- kita sebagai konsumen harus bisa selektif dalam memilih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar