ANALISIS
PERJUANGAN
BANGSA INDONESIA DALAM MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN
(
1945 – 1949 )
Oleh
Dadan Adi K
Indonesia
memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Hal
tersebut dilatarbelakangi oleh kekalahan
Jepang terhadap Sekutu tahun 1945. Pada
saat itu Indonesia dalam masa pendudukan Jepang. Jepang menjajah
Indonesia untuk mengeksploitasi SDA dan SDM masyarakat Indonesia.
Jepang diterlibat dalam Perang Asia Pasifik khususnya dengan Amerika
Serikat. Amerika Serikat mengebom atom dua kota di Jepang yaitu Kota
Hirosima ( 6 Aguatus 1945 ) dan Kota Nagasaki ( 9 Agustus 1945 )
sehinga Jepang luluh lantak dan akhirnya menyerah tanpa syarat kepada
Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945. Untuk itulah selah tiga hari
dimanfaatkan oleh Pejuang-pejuang Indonesia untuk memproklamasikan
kemerdekaan.
Namun
tidak semudah itu Indonesia merdeka seutuhnya, karena setelah
proklamasi kemerdekaan justru Indonesia dalam ancaman kolonial
Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Belanda ialah negara
penjajah terlama ( kurang lebih 3,5 abad ) di Indonesia sebelum
akhirnya direbut Jepang ( Perjanjian Kalijati 8 Maret 1942 ).
Kembalinya
Belanda ke Indonesia.
Belanda
datang ke Indonesia dengan cara membonceng NICA (Netherland Indies
Civil Administration - pemerintahan sipil Hindia Belanda). Dalam
menjalankan politiknya, Belanda bekerja sama dengan Pimpinan Jepang
saat itu yaitu Jendral Yamaguchi untuk terus memberitahu bagaimana
keadaan Indonesia sebelum mendaratkan pasukannya.
Rakyat
Indonesia semakin merasa ditipu atas janji Jepang yang akan
memberikan kemerdekaan, hal ini dibuktikan dengan sikap Jepang yang
mendukung Belanda menancapkan kekuasaannya lagi di Indonesia.
Tanggal 10 September 1945, Jepang di Jawa memberitahukan bahwa
pemerintahan Indonesia akan diserahkan kepada Sekutu ( khususnya
Belanda ) bukan kepada rakyat Indonesia. Hal inilah yang memicu
pertentangan dan perlawanan dari rakyat Indonesia terhadap Sekutu dan
Belanda.
Bentuk
Perlawanan Bangsa Indonesia
Dalam
mempertahankan kemerdekaan Indonesia, ditempuh melalui dua jalur
yaitu jalur Diplomasi dan Jalur Fisik ( Perlawanan dan
Pertempuran/kontak senjata), berikut penjelasannya.
- PERJUANGAN DIPLOMASI
- Pertemuan soekarno – Van Mook 23 Oktober 1945
di gambir Selatan
- Pertemuan Syahrir – Van Mook 17 Desember 1945
di Jln Imam Bonjol No. 1 Jakarta
- Perundingan RI – Belanda di Jakarta dari
tanggal 10 Februari – 12 Maret 1946
- Perundingan di Hooge Valuwe, Belanda dari
tanggal 14 – 25 April 1946
- Perundingan Maline ( Malino ) pada 1 Oktober’46
di Pangkal Pinang dilanjutkan di Denpasar pada 7 Des’46
- Pertemuan Jakarta pada tanggal 7 Oktober 1946
- Perundingan Linggarjati pada 10-15 November 1946
- Perundingan Renville pada 17 Januari 1948
- Perundingan Roem-Royen pada 7 Mei 1949
- Konferensi Inter Indonesia dari 19-22 Juli 1949
dan 31 Juli-2 Agustus 1949
- Konferensi Meja Bundar ( KMB ) dari tanggal 23
Agustus – 2 November 1949
- PERJUANGAN FISIK
- Pertempuran Lima Hari di Semarang pada 15-20
Oktober 1945
- Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945
- Pertempuran Medan Area dari tanggal 13 Oktober
1945- 10 Desember 1945
- Bandung Lautan Api pada 23 Maret 1946
- Peristiwa Putih di Manado pada 14 Februari 1946
- Palagan Ambarawa dari tanggal 12-14 Desember
1945
- Puputan Margarana pada 18 November 1946
- Peristiwa 11 Desember 1946 di Sulawesi Selatan
- Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta.
Dapat
disimpulakan bahwa rakyat Indonesia benar-benar tidak menginginkan
adanya penjajahan kembali di tanah air Indonesia. Penjajahan akan
memberikan dampak yang sangat menyengsarakan bagi pihak Indonesia.
Pertempuran terjadi hampir merata di seluruh wilayah Indonesia,
membuktikan bahwa nasionalisme rakyat Indonesia benar-benar berkobar
demi bangsa dan negara. Rela berkorban demi bangsa merupakan ciri
sikap perjuangan rakyat Indonesia.
Selain
itu bahwa selain jalur senjata, perjuangan juga menggunakan jalur
perundingan ( Diplomasi ). Hal tersebut dilakukan karena faktor
pertimbangan lebih banyak jatuhnya korban jiwa dari masing-masing
pihak baik Indonesia maupun Belanda. Berbagai diplomasi secara
berentetan telah dilakukan oleh kedua pihak, membuktikan adanya upaya
untuk mencari jalan keluar dari konflik yang ada. Namun jalur
diplomasi tidak berjalan dengan semstinya dan menimbulkan kerugian
bagi satu pihak sehingga timbulah perlawanan fisik dan kembali lagi
jalur diplomasi dan seterusnya.
Perjuangan
bangsa Indonesia memperoleh tanggapan atau respon simpatisan dari
pihak luar. Diantaranya ialah negara-negara Asia-Afrika, Amerika
Serikat dan juga lembaga dunia yaitu PBB. PBB berperan dalam
menengahi koflik Indonesia –Belanda dengan membentuk KTN ( Komisi
Tiga Negara ), hal tersebut berkaitan dengan Agresi Militer I Belanda
terhadap Indonesia.
Dengan
perjuangan yang gigih oleh pejuang-pejuang Indonesia akhirnya pada
tanggal 27 Desember 1949 melalui Konferensi Meja Bundar ( KMB )
Belanda mengakui kedaulatan Republik
Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar