Salah satu chapter
dalam buku Theories of History karya
Patrick Gardiner ialah membahas mengenai teori
obyektivitas dalam sejarah yang dikembangkan oleh C. Blake. Berawal dari
asumsi dasar bahwa sejarah merupakan hasil rekontruksi manusia maka muncul
anggapan bahwa tulisan sejarah tidak mungkin obyektif. Menurut Blake ada semacam kebingungan sejarah
(Historical Scepticism) yang
menghantui para ahli sejarah di dunia. Berdalih dari semua itu maka Blake
memunculkan beberapa pertanyaan yaitu : (a) Obyektivitas seperti apa yang bisa
dibuktikan oleh seorang Sejarawan? (b) Mengapa banyak filsuf dan sejarawan
mengalami masalah dalam hal ini (obyektivitas dan subyektivitas)? (c) Mengapa
kita begitu yakin terpengaruh bahwa sejarah tidak mungkin obyektif? (d)
Bagaimana obyektivitas dan subyektivitas dalam tulisan sejarah?
Muncul istilah
relatifisme dan subjektivisme dalam penulisan sejarah. Artinya bahwa penulisan
sejarah selama ini dianggap relatif pasti ada unsur subyektivitas disamping
obyektivitas. Hal itu menjadi suatu perdebatan yang menarik akan keabsahan atau
kebenaran sejarah itu sendiri. Muncul pula istilah general history dan historical
research. General history (sejarah
umum) dan historical researh (penelitian
sejarah) muncul atas respon asumsi dasar berdasar atas keobyektifan sejarah.
Sejarah adalah cerita tentang masa lampau. Cerita tentang peristiwa-peristiwa
yang benar-benar terjadi di masa lalu. Tugas sejarawan adalah merekontruksi
ulang cerita atas peristiwa-peristiwa itu. Dalam proses merekontruksi
dibutuhkan data-data berupa fakta. Tidak semua peristiwa masa lalu adalah
sejarah, hanya peristiwa yang memiliki pengaruh secara signifikan yang bisa
disebut sejarah. Fakta-fakta yang dijadikan data tersebut kemudian disusun
secara diakronik dan dieksplanasikan menjadi tulisan sejarah (historiografi).
Dalam mengeksplanasikan (menjelaskan) tersebut itulah yang melibatkan unsur intepretasi. Interpretasi (intepretation) merupakan pemberian
pemaknaan, penilaian terhadap suatu hal.
Berbicara mengenai
obyektivitas dalam sejarah maka menurut Blake tidak bisa dilepaskan dari
istilah intepretasi. Semua tulisan
sejarah tentu tak lepas dari hasil interpretasi yang diberikan oleh penulis
dalam karyanya. Penulis memasukkan
pandangannya, ide-idenya, gagasannya dan sebagainya itu dalam tulisannya.
Interpretasi muncul ketika seorang penulis sudah memiliki data-data dan ingin
menyusun semua data-data itu. Ketika ingin menyusun semua data itu tentu
bukanlah hal mudah mengingat penulis tersebut juga membutuhkan daya imajinasi
yang tinggi supaya bisa merekontruksi kejadian masa lampau yang telah terjadi.
Bagaimana memberi hubungan kausalitas
(sebab-akibat) sehingga tersusun historiografi yang kritis untuk menjawab
pertanyaan why (mengapa) dan how (bagaimana). Kedua pertanyaan
tersebut merupakan pertanyaan kritis yang membutuhkan analisis yang mendalam
yang harus dilihat dari hubungan kausalitasnya. Berbeda dengan when (kapan), where (dimana) , who
(siapa) dan what (apa). Keempat
pertanyaan tersebut dilihat dari tingkatannya lebih sederhana dibanding
pertanyaan why dan how. Maka dari sinilah intepretasi
menjadi mutlak dibutuhkan dalam memberikan makna supaya lebih hidup dalam suatu
historiografi sejarah.
Mengenai obyektivitas
yang bagaimana yang bisa ditunjukkan oleh para sejarawan atau para ahli sejarah
maka dari sini Blake mulai berbicara tentang metode (methods). Bahwa historiografi sejarah ditulis berdasarkan
metode-metode sejarah. Sejarah merupakan sebuah ilmu. Sejarah memiliki metode
sendiri yang unic (unik) mengingat
bidang kajiannya yang unik pula. Bahwa syarat sejarah sebagai ilmu yaitu sejarah bersendi pada
pengetahuan sejarah yaitu peristiwa. Kemudian syarat kedua adalah memiliki
metode yaitu metode sejarah yang berisi heuristik, kritik, intepretasi,
historiografi. Kemudian syarat lainnya adalah pendekatan ilmiah, bahwa sejarah menggunakan pendekatan
multidimenional (interdisiplin). Syarat terakhir adalah sistematis, bahwa sejarah ditulis secara sistematis berdasarkan
hubungan kausalitas dan diakronik sehingga jelas dan mendalam. Dengan demikian
maka dapat disimpulkan bahwa tingkat kebenaran (obyektifan) suatu tulisan
sejarah terbatas secara teoritis (kebenaran teoritis), tergantung pada metode yang digunakannnya dan seberapa
akurat metode tersebut dipergunakan.
Mengapa para sejarawan
menjadi problematik ketika dihadapkan pada obyektifan sejarah itu sendiri?
Menurut Blake sejarah berhubungan erat dengan manusia. Tanpa manusia maka
sejarah tidak akan muncul. Yang muncul hanyalah peristiwanya saja. Sejarah
muncul ketika peristiwa-peristiwa itu ditulis di buku. Selama
peristiwa-peristiwa itu tidak dibukukan maka tidak akan terlahir sejarah. Jika
demikian maka sejarah ada karena tindakan manusia yang berusaha menulisnya.
Jika yang menulis manusia maka pasti ada unsur emosionality yang terbawa secara otomatis. Emosionality
tersebut tercermin dalam interpretasi yang diberikan pada hasil tulisan. Oleh
karena itulah selama sejarah merupakan hasil karya tulisan manusia maka sulit
sekali jika tidak diperdebatkan akan keobyektifan di dalamnya.
Sebenarnya berbagai
upaya dari para sejarawan di berbagai belahan dunia telah banyak membahas
mengenai obyektivitas dalam sejarah ini tetapi sampai sekarang hal itu masih
saja terus diperdebatkan. Kembali bahwa hal itu telah diutarakan sebelumnya
tadi bahwa sejarah ada karena manusia dan manusia tentu menjadi hal wajar jika
unsur interpretasi selalu muncul. Yang perlu ditekankan bahwa bagaimana upaya
intepretasi tersebut bisa sewajarnya. Yaitu tadi bahwa sejarah memiliki metode
sendiri. Jika metode itu benar-benar dijalankan secara akurat tentu akan
mengurangi unsur subyektivitas seorang penulis. Bagaimana seorang penulis harus
mencari berbagai sumber yang relevan baik primer maupun sekunder, kemudian
setelah itu melakukan kritik baik intern
maupun ekstern, kemudian intepretasi dilakukan setelah
sumber-sumber data yang didapat telah melalui tahap-tahap sebelumnya sehingga
mengurangi unsur penyimpangan yang dimungkinkan jauh dari harapan, baru setelah
itu tahap penulisan melalui eksplanasi sehingga
terwujud tulisan historiografi.
Menurut saya bahwa C.
Blake mencoba memunculkan pertanyaan dapatkan sejarah itu obyektif sebagai
titik permasalahan dan kemudian mencoba menjelaskan mengenai alasan mengapa
pertanyaan itu dia munculkan. Blake sendiri juga tidak bisa memecahkan masalah
ini terbukti sampai sekarang hal ini masih ramai untuk diperdebatkan. Tetapi
yang menjadi apresiasi terhadap Blake adalah usahanya dalam mencoba memaparkan
mengenai berbagai alasan kenapa sejarah itu sendiri tidak bisa obyektif. Dia
secara cukup rinci mengulas permasalahan pelik tersebut walaupun pada akhirnya
diakuinya bahwa untuk menjawab hal itu tentulah sulit dan hanya terbatas pada
teori saja.
Jika saya komparasikan
tulisan ini dengan tulisan-tulisan keluaran terbaru yang terbit tentu memiliki esensi yang hampir sama. Hal itu
menunjukkan bahwa ketika itu pemikiran Blake sudah maju dan berkembang. Ia
telah memikirkan apa yang masih dipikirkan sekaligus dipermasalahkan oleh
sejarawan-sejarawan saat ini. Sungguh pemikiran yang luar bisasa. Saya kira
perdebatan pelik ini akan terus ada dan bertahan cukup lama entah sampai kapan
mengingat sejarah itu sendiri ditulis oleh manusia yang secara kodrati memiliki keterbatasan
(ketidaksempurnaan) dan yang Maha Sempurna hanyalah Tuhan. Tetapi tetap saja
bahwa obyektivitas dalam sebuah karya manusia dalam hal ini adalah tulisan
sejarah harus diperrtanggungjawabkan sebaik dan sebenar mungkin. Secara kritis
tentu saya setuju bahwa kebenaran sejarah itu terbatas pada kebenaran teoritis saja. Semakin kritis
dan prosedural dalam penggunaan metode sejarah yang komprehensip maka semakin
besar pula tingkat kemungkinan obyektivitasnya.
Oleh sebab itu muncul
pula hukum-hukum general sejarah. Seperti yang diutarakan oleh Carl G. Hempel
yang membahas mengenai The Function of
General in History (fungsi hukum sejarah). Hal itu sebenarnya juga
berkaitan dengan laju obyektivitas dalam sejarah itu sendiri. Kemudian tidak hanya Hempel saja, ada juga
W.H. Walsh yang membahas mengenai Meaning
in History (pemaknaan dalam sejarah). Pemaknaan berkaitan erat dengan
maksud dan tujuan. Hal ini relevan dengan hasil akhir sebuah tulisan sejarah.
Pemberian pemaknaan yang berlebihan dari konteks yang sebenarnya dapat merubah
arti atas fakta yang sebenarnya. Pemaknaan sebenarnya hampir sama dan bahkan sebagian
menganggapnya sama dengan intepretasi. Apapun itu asalkan didasarkan atas
metode-metode yang benar tentu memberikan hasil yang lebih obyektif. Dalam
sejarah memang tidak ada yang obyektif tetapi obyektivitas itu ada. Artinya
bahwa selama yang menulis sejarah itu adalah manusia maka unsur subyektivitas
itu akan terus ada walaupun sangat kecil atau juga sebaliknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar