SALURAN-SALURAN ISLAMISASI DI INDONESIA
Oleh: Dadan Adi K
Begitu banyak
saluran-saluran yang menjadi jalan Islamisasi di Indonesia yang mana pada garis
besarnya dapat dibagi menjadi dua Islamisasi, yaitu Islamisasi Intern dan
Islamisasi Ekstern. Walaupun pada awalnya islam berasal dari luar tetapi pada
akhirnya dikembangkan lagi di Indonesia sendiri.
Adapun Saluran-saluran Islamisasi Di Indonesia dapat
dibedakan nenjadi beberapa babak atau periode, antara lain :
1.Babak pertama, abad 7
masehi (abad 1 hijriah).
a)
Melalui saluran dakwah oleh Para Da’I dari luar indonesia.
Pada abad 7 masehi,
Islam sudah sampai ke Nusantara. Para Da’i yang datang ke Indonesia berasal
dari jazirah Arab yang sudah beradaptasi dengan bangsa India yakni bangsa
Gujarat dan ada juga yang telah beradptasi dengan bangsa Cina, dari berbagai
arah yakni dari jalur sutera (jalur perdagangan) da’wah mulai merambah di
pesisir-pesisir Nusantara.
Pedagang-pedagang,
mubaliq-mubaliq, orang-orang yang dianggap wali, ahli-ahli tasawuf, guru-guru
agama, haji-haji, adalah oran-orang yang dianggap sebagai golongan yang membawa
dan menyebarkan Islam di Nusantara. Dalam pelaksanaannya golongan-golongan
tersebut menggunakan beberapa saluran pengIslaman kepada masyarakat Nusantara.
Pada awalnya saluran
Islamisasi dilakukan lewat jalur perdagangan. Hal itu sejalan dengan lalulntas
perdagangan di Nusantara pertengahan abad ke-7 hingga abad ke-16 masehi. Pada
saat itu pedagang-pedagang muslim dari Arab, Persia, India turut serta dalam
perdagangan dengan pedagang-pedagang dari negeri-negeri bagian barat, tenggara,
dan timur benua Asia. Penggunaan perdagangan sebagai saluran Islamisasi sangat
menguntungkan karena bagi kaum muslim tidak ada pemisahan antara kegiatan
berdagang dengan kegiatan dakwah Islam kepada pihak-pihak lain. Pola
perdagangan pada abad-abad sebelum dan ketika Islam datang sangat menguntungkan
karena golongan raja dan bangsawan umumnya turut serta dalam kegiatan
perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik kapal dan modal.
Proses-proses
Islamisasi melalui jalan perdagangan dipercepat oleh situasi dan kondisi
politik beberapa kerajaan di mana adipati-adipati pesisir berusaha melepaskan
diri dari kekuasaan pusat kerajaan yang sedang mengalami kekacauan dan
perpecahan, hal tersebut sesuai catatan perjalanan Tome Pires.
Pedagang-pedagang muslim juga melakukan perkawinan dengan wanita-wanita lokal,
tentu saja mereka kemudian menganut Islam pul
b)
Melalui Perdagangan oleh para Pedagang dan Pelaut.
Sejak awal Islam tidak
pernah membeda-bedakan fungsi seseorang untuk berperan sebagai da’i (juru
da’wah). Kewajiban berda’wah dalam Islam bukan hanya kasta (golongan) tertentu
saja tetapi bagi setiap masyarakat dalam Islam. Sedangkan diagama lain hanya
golongan tertentu yang mempunyai otoritas menyebarkan agama yaitu pendeta.
Sesuai ungkapan Imam Syahid Hasan Albana “ Nahnu duat qabla kulla sai “ artinya
kami adalah da’i sebelum profesi-profesi lainnya. Sampainya da’wah di Indonesia
melalui para pelaut-pelaut atau pedagang-pedagang sambil membawa dagangannya
juga membawa akhlak Islami sekaligus memperkenalkan nilai-nilai yang Islami.
Masyarakat ketika berbenalan dengan Islam terbuka pikirannya, dimulyakan
sebagai manusia dan ini yang membedakan masuknya agama lain sesudah maupun
sebelum datangnya Islam. Sebagai contoh masuknya agama Kristen ke Indonesia ini
berbarengan dengan Gold (emas atau kekayaan) dan glory (kejayaan atau
kekuasaan) selain Gospel yang merupakan motif penyebaran agama berbarengan
dengan penjajahan dan kekuasaan. Sedangkan Islam dengan cara yang damai.
Begitulah Islam
pertama-tama disebarkan di Nusantara, dari komunitas-komunitas muslim yang
berada di daerah-daerah pesisir berkembang menjadi kota-kota pelabuhan dan
perdagangan dan terus berkembang sampai akhirnya menjadi kerajaan-kerajaan
Islam dari mulai Aceh sampai Ternata dan Tidore yang merupakan pusat kerajaan
Indonesia bagian Timur yang wilayahnya sampai ke Irian jaya.
2. Babak
kedua, abad 13 masehi.
Di abad 13 Masehi
berdirilah kerajaan-kerajaan Islam diberbagai penjuru di Nusantara. Yang
merupakan moment kebangkitan kekuatan politik umat khususnya didaerah Jawa
ketika kerajaan Majapahit berangsur-angsur turun kewibawaannya karena konflik
internal. Hal ini dimanfaatkan oleh Sunan Kalijaga yang membina diwilayah
tersebut bersama Raden Fatah yang merupaka keturunan raja-raja Majapahit untuk
mendirikan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa yaitu kerajaan Demak. Bersamaan
dengan itu mulai bermunculan pula kerajaan-kerajaan Islam yang lainnya,
walaupun masih bersifat lokal.
Pada abad 13 Masehi ada
fenoma yang disebut dengan Wali Songo yaitu ulama-ulama yang
menyebarkan da’wah di Indonesia. Wali Songo mengembangkan da’wah atau melakukan
proses Islamisasinya melalui saluran-saluran:
a)
Perdagangan
Islamisasi melalui perdagangan terjadi pada
tahap awal, yaitu sejalan dengan ramianya lalu lintas perdagangan antara abad
ke-7 sampai abad ke-16. Pada tahap berikutnya makin banyaklah pedagang muslim
yang datang ke Indonesia
yang kemudian membentuk tempat-tempat pemukiman yang disebut Pakojan.
b)
Pernikahan
Karena pedagang asing yang datang ke Indonesia
banyak yang tidak mempunyai istri, maka mereka kebanyakan memilih menikah
dengan wanita pribumi. Dengan melalui perkawinan ini lingkungan mereka pun
bertambah luas sehingga muncul perkampungan, daerah-daerah, dan Kerajaan Islam.
Pengaruh Islam juga bertambah besar apabila perkawinan itu terjadi antara para
bangsawan, misalnya antara putri Campa dengan Prabu Brawijaya atau Sunan Ampel
dengan Nyi Gede Manila.
c)
Pendidikan (pesantren)
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang
asli dari akar budaya indonesia,
dan juga adopsi dan adaptasi hasanah kebudayaan pra Islam yang tidak keluar
dari nilai-nilai Islam yang dapat dimanfaatkan dalam penyebaran Islam. Ini
membuktikan Islam sangat menghargai budaya setempat selama tidak bertentangan
dengan nilai-niliai Islam.
Dengan melalui pendidikan ini proses Islamisasi
dilakukan oleh pesantren-pesantren, semakin terkenal kyai yang mengajar, maka
semakin terkenal pula pesantrennya dan pengaruhnya terhadap masyarakat.
Dalam pesantren maupun pondok yang
dselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai atau ulama-ulama. Pesantren atau
pondok merupakan lembaga yang penting dalam penyebaran agama Islam. Pembnaan
calon-calon guru agama, kiai-kiai, dan atau ulama-ulama dilakukan di pesantren
atau juga di pondok. Setelah keluar dari pesantren mereka akan
kembali ke daerahnya masing-masing. Di tempat-tempat asalnya mereka akan
menjaadi tokoh agama yang mengajarkan Islam bagi masyarakat disekitarnya.
Pada
masa pertumbuhan Islam dikenal Pesantren Ampel Denta milik Sunan Ampel (Raden
Rahmat), juga Pesantren Sunan Giri yang muridnya kebanyakan datang dari Maluku
dan daerah-daerah lain. Selain itu juga biasanya para bangsawan atau raja
mendatangkan Kyai sebagai penasihat agamanya.
d)
Seni dan budaya
Saat itu media tontonan yang sangat terkenal pada
masyarakat jawa kkhususnya yaitu wayang. Wali Songo menggunakan wayang sebagai
media da’wah dengan sebelumnya mewarnai wayang tersebut dengan nilai-nilai
Islam. Yang menjadi ciri pengaruh Islam dalam pewayangan diajarkannya
egaliterialisme yaitu kesamaan derajat manusia dihadapan Allah dengan
dimasukannya tokoh-tokoh punakawam seperti Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.
Para Wali juga menggubah lagu-lagu tradisional
(daerah) dalam langgam Islami, ini berarti nasyid sudah ada diIndonesia ini
sejak jaman para wali. Dalam upacara-upacara adat juga diberikan nilai-nilai
Islam
Saluran dan cara Islamisasi yang lain juga
dapat melalui kesenian seperti seni bagunan, seni tari, seni pahat atau seni
ukir, seni musik, dan seni sastra. Hasil-haasil pertumbuhan dan perkembangan
Islam di Indonesia antara lain mesjid-mesjid kuno Demak, Sendang Dhuwur Agung
Kasepuhan di Cirebon, mesjid Agung Banten, Baiturra Beberapa mesjid kuno seni
bangunannya mirip candi, menyerupai bangunan meru pada jaman Indonesia-Hindu.
Ukiran-ukiran seperti mimbar, hiasan lengkung pola kalamakara, mimbar dan
mustaka mengingatkan pada perlambangan meru. Beberapa ukiran pada mesjid kuno
diambil dari dunia tumbuh-tumbuhan dan hewan yang diberi corak tertentu dan
mengingatkan kepada pola-pola ukiran yang telah dikenal pada candi Pranbanan
dan beberapa candi lainnya.
Selai itu, pada pintu gerbang, baik di keraton-keraton
maupun di makam orang-orang yang dianggap keramat yang berbentuk candi bentar,
kori Agung, jelas menunjukkkan corak pintu gerbang yang dikenal sebelum Islam.
Demikian pula nisan-nisan kubur di daerah Troloyo, Tuban, Madura, Demak, Kudus,
Cirebon,
Banten, menunjukkan unsur-unsur seni ukir dan perlambangan pra-Islam. Di
Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatra
terdapat beberapa nisan kubur yang lebih menunjukkan unsur seni Indonesia
pra-Hindu dan pra-Islam.
Saluran
dan cara Islamisasi melalui seni bangunan dan seni ukir sesuai pula dengan
saluran dan cara melalui seni tari, seni musik, sastra dan yang lainnya. Dalam
upacara-upacara keagamaan, seperti Maulid Nabi sering dipertunjukkan seni tari
dan atau musik tradisional, misalnya gamelan yang disebut sekaten yang terdapat
di keraton Cirebon dan Yogyakarta dibunyikan pada perayaan Grebeg Maulud.
Diantara seni yang terkenal sebagai saluran Islamisasi yaitu wayang. Menurut
cerita, Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang.
Sunan Kalijaga tidak pernah meminta upah saat pertunjukan wayang namun beliau
Cuma meminta penonton untuk ikut mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar cerita
wayang masih dipetik dari Mahabarata dan Ramayana, namun sedikit demi sedikit
nama tokohnya diganti dengan pahlawan Islam. Nama panah Kalimasada, suatu
senjata paling ampuh, dalam lakon wayang dihubungkan dengan kalimat syahadat,
ucapan yang berisi pengakuan kepada Allah dan Nabi Muhammad. Kalimat syahadat
merupakan tiang utama dari lima rukun Islam.
Islamisasi
melalui satra juga dilakukan secara sedikit demi sedikit seperti terbuki dalam
naskah-naskah lama masa peralihan kepercayaan yang ditulis dalam bahasa dan
huruf daerah, misalnya primbon-primbon abad ke-16 yang antara lai disusun oleh
Sunan Bonang
e)
Tasawwuf
Kenyatan sejarah bahwa ada tarikat-tarikat di
Indonesia yang menjadi jaringan penyebaran agama Islam. Proses Islamisasi yang tidak
kalah pentingnya adalah tasawuf, yang berfungsi sebagai pembentuk kehidupan
sosial bangsa Indonesia,
dengan melalui tasawuf memudahkan islam masuk ke orang-orang yang telah
mempunyai dasar ke-Tuhanan. Gambaran tentang tasawuf ini banyak di jumpai dalam
babada dan hikayat. Beberapa tokoh tasawuf adalah Hamzah Fansuri, Syamsudin, Nurudin Ar-Raniri, dll.
3. Babak
ketiga, masa penjajahan Belanda.
a). Melalui
Peperangan
Pada abad 17 masehi
tepatnya tahun 1601 datanglah kerajaan Hindia Belanda kedaerah Nusantara yang
awalnya hanya berdagang tetapi akhirnya menjajah. Belanda datang ke Indonesia
dengan kamar dagangnya yakni VOC, semejak itu hampir seluruh wilayah nusantara
dijajah oleh Hindia Belanda kecuali Aceh. Saat itu
antar kerajaan-kerajaan Islam di nusantara belum sempat membentuk aliansi atau
kerja sama. Hal ini yang menyebabkan proses penyebaran da’wah terpotong.
Dengan sumuliayatul (
kesempurnaan) Islam yang tidak ada pemisahan antara aspek-aspek kehidupan
tertentu dengan yang lainnya,ini telah diterapkan oleh para Ulama saat itu.
Ketika penjajahan datang, mengubah pesantren-pesantren menjadi markas-markas
perjuangan, santri-santri (peserta didik pesantren) menjadi jundullah (pasukan
Allah) yang siap melawan penjajah sedangkan ulamanya menjadi panglima
perangnya. Hampir seluruh wilayah di Indonesia yang melakukan perlawanan
terhadap penjajah adalah kaum muslimin beserta ulamanya.
b). Melalui
Saluran Hubungan diplomatik.
Potensi-potensi tumbuh dan
berkembang diabad 13 menjadi kekuatan perlawanan terhadap penjajah. Ini dapat
dibuktikan dengan adanya hikayat-hikayat pada masa kerajaan-kerajaan Islam yang
syair-syairnya berisikan perjuangan. Ulama-ulama menggelorakan Jihad melawan
kaum kafir yaitu penjajah Belanda. Belanda mengalami kewalahan yang akhirnya
menggunakan strategi-strategi:
v Politik devide et impera,
yang pada kenyataannya memecahbelah atau mengadu domba antara kekuatan Ulama
dengan adat contohnya perang Padri di Sumatera Barat dan perang Diponegoro di
Jawa.
v Mendatangkan Prof. Dr. Snouk
Cristian Hourgonye alias Abdul Gafar seorang Guru Besar keIndonesiaan di
Universitas Hindia Belanda juga seorang orientalis yang pernah mempelajari
Islam di Mekkah, dia berpendapat agar pemerintahan Belanda membiarkan umat
Islam hanya melakukan ibadah mahdhoh (khusus) dan dilarang berbicara atau
sampai melakukan politik praktis. Gagasan tersebut dijalani oleh pemerintahan
Belanda dan salah satunya adalah pembatasan terhadap kaum muslimin yang akan
melakukan ibadah Haji karena pada saat itulah terjadi pematangan pejuangan
terhadap penjajahan.
4. Babak keempat, abad 20
masehi.
Melalui Ormas ( Organisasi
masyarakat ).
Awal abad 20 masehi, penjajah Belanda mulai
melakukan politik etik atau politik balas budi yang sebenarnya adalah hanya
membuat lapisan masyarakat yang dapat membantu mereka dalam pemerintahannya di Indonesia.
Politik balas budi memberikan pendidikan dan pekerjaan kepada bangsa Indonesia
khususnya umat Islam tetapi sebenarnya tujuannya untuk mensosialkan ilmu-ilmu
barat yang jauh dari Al Qur’an dan hadist dan akan dijadikannya boneka-boneka
penjajah. Selain itu juga mempersiapkan untuk lapisan birokrasi yang tidak
mungkin pegang oleh lagi oleh orang-orang Belanda. Yang mendapat pendidikanpun
tidak seluruh masyarakat melainkan hanya golongan Priyayi (bangsawan), karena
itu yang pemimpin-pemimpin pergerakan adalah berasalkan dari golongan
bangsawan.
Strategi perlawanan terhadap penjajah pada masa
ini lebih kepada bersifat organisasi formal daripada dengan senjata. Berdirilah
organisasi Serikat Islam merupakan organisasi pergerakan nasional yang pertama
di Indonesia pada tahun 1905 yang mempunyai anggota dari kaum rakyat jelata
sampai priyayi dan meliputi wilayah yang luas. Tahun 1908 berdirilah Budi Utomo
yang bersifat masih bersifat kedaerahan yaitu Jawa, karena itu Serikat Islam
dapat disebut organisasi pergerakan Nasional pertama daripada Budi Utomo.
Tokoh Serikat Islam yang terkenal yaitu HOS
Tjokroaminoto yang memimpin organisasi tersebut pada usia 25 tahun, seorang
kaum priyayi yang karena memegang teguh Islam maka diusir sehingga hanya
menjadi rakyat biasa. Ia bekerja sebagai buruh pabrik gula. Ia adalah seorang
inspirator utama bagi pergerakan Nasional di Indonesia. Serikat Islam dibawah
pimpinannya menjadi suatu kekuatan yang di perhitungkan Belanda. Tokoh-tokoh
Serikat Islam lainnya ialah H. Agus Salim dan Abdul Muis, yang membina para
pemuda yang tergabung dalam Young Islamitend Bound yang bersifat nasional, yang
berkembang sampai pada sumpah pemuda tahun 1928.
Da’wah Islam di Indonesia terus berkembang
dalam institusi-institusi seperti lahirnya Nadhatul Ulama, Muhammadiyah, Persis
dll. Lembaga-lembaga ke-Islaman tersebut tergabung dalam MIAI (Majelis Islam
‘Ala Indonesia) yang kemudian berubah namanya menjadi MASYUMI (Majelis Syura
Muslimin Indonesia) yang anggotanya adalah para pimpinan institusi-institusi
ke-Islaman tersebut.
Dimasa pendudukan Jepang, dilakukan strategi
untuk memecahbelah kesatuan kekuatan umat oleh pemerintahan Jepang dengan
membentuk kementrian Sumubu (Departemen Agama). Jepang meneruskan strategi yang
dilakukan Belanda terhadap umat Islam. Ada
seorang Jepang yang faham dengan Islam yaitu Kolonel Huri, ia
memotong koordinasi ulama-ulama dipusat dengan didaerah, sehingga ulama-ulama
didesa yang kurang informasi dan akibatnya membuat umat dapat terbodohi.
Pemerintahan pendudukan Jepang memberikan
fasilitas untuk kemerdekaan Indonesia dengan membentuk BPUPKI (Badan Penyelidik
Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan dilanjuti dengan PPKI (Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan lebih mengerucut lagi menjadi Panitia
Sembilan, Panitia ini yang merumuskan Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945.
Piagram Jakarta merupakan konsensus tertinggi untuk menggambarkan adanya
keragaman Bangsa Indonesia yang mencari suatu rumusan untuk hidup
bersama.Tetapi ada kalimat yang kontropersi dalam piagam ini yaitu penghapusan
“7 kata “ lengkapnya kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para
pemeluk-pemeluknya yang terletak pada alinea keempat setelah kalimat Negara
berdasarkan kepada Ketuhan Yang Maha Esa.
5. Babak
Kelima, abad 20&21
Melalui Saluran Globalisasi.
Pada babak ini proses
da’wah (Islamisasi) di Indonesia mempunyai ciri terjadinya globalisasi informasi
dengan pengaruh-pengaruh gerakan Islam internasional secara efektif yang akan
membangun kekuatan Islam lebih utuh yang meliputi segala dimensinya. Sebenarnya
kalau saja Indonesia tidak terjajah maka proses Islamisasi di Indonesia akan
berlangsung dengan damai karena bersifat kultural dan membangun kekuatan secara
struktural. Hal ini karena awalnya masuknya Islam yang secara manusiawi, dapat
membangun martabat masyarakat yang sebagian besar kaum sudra (kelompok struktur
masyarakat terendah pada masa kerajaan) dan membangun ekonomi masyarakat.
Sejarah membuktikan bahwa kota-kota pelabuhan (pusat perdagangan) yang
merupakan kota-kota yang perekonomiannya berkembang baik adalah kota-kota
muslim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar