Untuk Sang Pemilik Mata Yang Berbinar Untukku
Oleh Dadan Adi K
“Anakku tercinta,…hati
dan pikiran ibu selalu bersamamu…maafkan kedatangan ibu ke rumahmu dan telah
membuat ketakutan anak-anakmu.”
|
L
|
aki-laki itui tertegun setelah
membaca sepucuk surat ini. Pikirannya
melayang, menghampiri kenangan yang telah dialaminya. Ia teringat saat
anak-anaknya ketakutan dan mengadu kepadanya karena saat itu di rumahnya kedatangan
tamu yang hanya memiliki satu mata saja. Kemudian ingatannya mengembara lebih
jauh lagi, kembali ke masa kecilnya. Ia terkenang saat teman-teman
SD-nyabmengejek, “huuuu….ibumu anya mempunyai satu mata!”. Karena ejekan itu ia
menjadi malu , sangat malu, bahkan ia pernah menyatakan kekesalannya pada
Ibunya, “ Ibu, Ibu hanya membuat diriku menjadi bahan tertawaan teman-temanku
sja, aku sangat malu, ibu!!!”. Dengan nada yang keras ia mengucapkan ini. Saat
itu, sang Ibunya hanya diam saja, tidak menjawab. Perjalanan waktu menghantarkan
laki-laki tadi menuju kesuksesan, dengan tetap membawa rasa malu karena
mempunyai ibu yang hanya memiliki satu mata, ia pergi ke kota, bekerja keras,
bisa menikah, berkeluarga dan mempunyai beberapa anak. Suatu saat, ia
mendspatkan undangan resmi reuni SD. Ia
ingin sekali mendstsnginys. Entah kenapa, sebelum dating ke reuni, ia
memutuskan untuk menengok rumahnya yang dulu, yang sudah sangat lama ia
tinggalkan. Ternyata rumah itu kosong, tiada siapapun disana. Laki-laki tadi
tidak merasakan sesuatu yang aneh, ia bahkan tidak merasakn kehilangan apapun
hingga ada tetangganya yang dulu menghampiri sambil memberikan kepadanya
sepucuk surat yang bertuliskan,
“Anakku tercinta,…hati dan pikiran ibu
selalu bersamamu…maafkan kedatangan ibu ke rumahmu dan telah membuat
anak-anakmu takut. Ibu sangat gembira saat mendengar kamu akan dating ke acara
reuni. Tapi mungkin ibu tidak bisa menemuimu karena untuk bangun dari tempat
tidurpun ibu tak mampu. Maafkan jika sepanjang hidup ibu telah berulang kali
membuatmu malu.
Tahukah kamu….ketika kamu masih kecil,
kau mengalami sebuah kecelakaan dan kehilangan sebelah mata. Sebagai seorang
ibu, aku tak bisa melihatmu tumbuh dengan satu mata. Oleh karena itu, kuberikan satu
mataku untukmu….aku sangat bahagia dan bangga putraku bisa melihat seisi dunia
dengan mataku…teriring cinta ….Ibumu….”
Hatinya menggelegar, perasaannya mengharu
biru dan membuatnya tidak kuasa berdiri lagi, lututnya tertekuk, bahunya
bergetar. Embun itupun menetes dari
matanya, menetes dari mata yang bukan miliknya, dari mata seseorang yang telah
merelakan untuk kehilangan sebelah matanya demi
kebahagiaan sang anak agar tetap bisa berbinar dengan kedua
matanya…Untuk sang pemilik mata yang berbinar untukku.
Binar mata itu selalu terkenang, ketika
dulu engkau memeluk diriku, menatapku begitu dalam dengan mata yang berbinar,
indah, meneduhkan. Kemudian engkau kecup keningku, dan mengatakan, “ Alhamdulillah Nak, tetap belajar yang rajin
ya….!” Engkau mengatakan itu sambil memberikan senyuman khas dari dirimu. Entah
kenapa saat itu kedamaian meresap di
hatiku. Belaian lembutmupun baru kurasakan indahnya saat ini. Saat aku
merindukan untuk merebahkan kepala di pangkuanmu. Tanpa kuminta, engkau
membelai lembut kepalaku. Dan saat itu, kadang aku melihat mulutmu seperti
mengatakan sesuatu. Dan baru kusadari bahwa saat itu engkau ternyata sedang
mendoakan diriku. Disetiap binar indah mata, hangatnya pelukan, damainya
senyuman, lembutnya belaian yang engkau berikan untuk diriku senantiasa
teriring doa untuk kebahagiaanku.
Untuk
sang pemilik mata yang berbinar untukku,
Karena doamu pula, saat ini aku semakin
paham tentang ajaran agamaku, tenang indahnya Islam ini.
“ Dan Kami perintahkan kepada manusioa
(berbuat baik) kepada kedua orang Ibu-Bapaknya; ibunya telah mengandungnya
dalam keadaan lemah yang bertyambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.
Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepaKulah
kembalimu”. ( Luqman:14)
Dari ayat ini semakin kuketahui betama
mulianya dirimu. Berbuat baik, berbakti kepada dirimu adalah bagian dari
taatnya diriku terhadap perintah Tuhanku.
Sayangnya diriku kepadamu, akan bisa
membuat Tuhanku juga saying kepadaku.
Marah dan bencinya diriku kepadamu, akan
membuat Tuhanku pun marah dan benci kepadaku.
Di usiaku saat ini, rasa cinta itu memang
bergejolak. Aku begitu ingin menguangkapkannya keseseorang yang kukagumi.
Sangat-sangat ingin aku mengungkapkan sayangku untuknya. Tapi alangkah
durhakanya diriku , sungguh bodohnya
diriku ketika ternyataaku telah mengungkapkan cinta dan syangku ke orang yang
kukagumi itu dan aku belum belum pernah mengatakan cinta dan sayangku untukmu,
Ibu. Ternyata, stelah puluhan tahun aku hidup di dunia ini , yang engkau pun
menjadi salah satu sebab aku bisa bertahan hidup hinga saat ini, aku belum
belum pernah mengungkapkan cinta dan sayangku untukmu. Maafkan aku, Ibu dan
sekarang terimalah ungkapan cinta dan sayangku ini….
Aku saying Ibuuuuuuuuuuuu…………….
Sahabat, jikalau diriku boleh memintamu,
maka aku minta, engkau sekarang juga ungkapkanlah rasa cinta dan sayangmu untuk
Ibu, sebelumn semuanya terlambat, sebelum semuanya berakhir, sebelum senyum
damai itu tak bisa lagi kita rasaakan, sebelum pelukan hangat itu tidak bisa
kita rasakan lagi, sebelum binary mata itu tidak terpancarkan lagi. Ungkapkan,
katakana, rasa cinta dan sayangmu untuk Ibu……
Sahabat, memang sudah sifatnya, yang
masih muda belia akan memandang orang yang lebih tua berpikiran kuno, koloy,
ketinggalan jaman dan lain-lain. Dan akhirnya akan memandang orang yang lebih
tua dengan sebelah mata.
Untuk sang pemilik mata yang
berbinar Untukku,
Terhadapmu kadang aku pernah berfikir, seperti itu. Tapi, sekarang ini
ketika kucoba menghadirkan bayang wajahmu sudah banyak kerutan yang muncul
disana, tidak Nampak lagi rona kesegaran, tapi
tetap bisa kurasakan kedamaian. Semoga Allah mengizinkan diriku untuk
tetap menemanimu di saat engkau telah berusia lanjut, yang mungkin saat usia
itu, engkau akan bertingkah laku seperti diriku masih kecil. Terbayang , diriku
dulu yang kemana-mana harus engkau antarkan, dengan lembut engkau tuntun
diriku. Ketika aku baru belajar berjalan, dengan senyuman engkau terus
memberiku semangat untuk bisa berjalan menuju dirimu. “ Ayo Nak, jalan terus
Nak, sini…sini…kejar Ibu, engkau Pasti Bisa!!!”.
Betapa seringnya aku dulu membuang
kotoran di pangkuanmu, tapi dahsyatmu dirimu, engkau tidak pernah membentakku
saat itu, engkau tidak pernah marah sama sekali. Justru engkau tersenyum dan
dengan mata berbinar, dengan penuh sabar merawatku. Semoga suatu saat nanti,
aku bisa sesabar dirimu, aku bisa dengan lembut menuntunmu, dengan sabar
merawatmu dan itupun tidak akan pernah sanggup membalas kelembutan dan
kesabaran darimu…Ibu.
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka
berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkan : “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka
keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Al
Isra’:24)
Untuk pemilik mata yang berbinar
untukku,
Teringat jelas, dikala itu engkau
benar-benar merendahkan dirimu di
hadapanku. Engkau menundukkan diriku di kursi, kemudian engkau berlutut di
depanku dan memakaikan sepatu. Setelah itu, engkau merapikan dasi merahku,
kemudian dengan lembut tanganmu menyentuh pipiku…
Engkau berucap, “brlajar yang rajin ya
Nak…”…sungguh kenangan yang indah darimu, sanggupkah kelak aku berlutut di
hadapanmu, mungkin untuk sekedar membasuh kakimu? Sanggupkahku untuk terus
menundukkan diriku untuk mengecup tanganmu yang tidak lagi halus itu?
Untuk sang pemilik mata yang
berbinar untukku,
Malam itu, kulihat secercah cahaya.
Dengan kain putih itu, engkau tertunduk, bersujud begitu lama. Sejenak
kemudian, engkau menengadahkan tangan, kulihat begitu khusyuk. Itulah yang saat
ini belum sanggup kulakukan. Malam-malaamku kuhabiskan untuk tertidur pulas .
sujudku pun hanya sejenak-sejenak. Doaku pun hanya sebaris-sebaris. Aku yakin,
dalam doamu pasti tersebut namaku, bahkan sangat mungkin, doamu untukku jauh
lebih banyak dari pada doaku untuk diriku sendiri. Astagfirullahal’adzim…
Untuk sang pemilik mata yang
berbinar untukku,
Kini aku ingin berbuat terbaik sebagai
wujud baktiku kepadamu, sekarang juga! Semoga aku bisa berkata selembut
perkataanmu kepadaku. Semoga aku bisa bertindak, berperilaku semenyenangkan
dirimu. Semoga aku bisa patuh dan taat kepadamu, seperti patuhnya engkau saat
aku meminta ini dan itu kepadamu. Dan semoga, aku pun tetap bisa berbuat yang
terbaik ketika allah menhendaki engkau
kembali kepada-Nya. Akan tetap kukenang damai senyummu, hangat pelukmu, binar
indah matamu serta setiap baris doa dan nasehatmu untukku.
Bagi
dirimu, sahabatku……
Aku yakin engkau juga memiliki sosok yang
matanya selalu berbinar indah itu. Maka sejenak, pejamkan matamu, atur nafasmu,
perlahan…hadirkan …bayangkan dia di dekatmu saat ini. Lengkap dengan senyum
damainya dan binar indah matanya.
Perhatikan setiap kerut di wajah ibu…
Yakinlah, disetiap kerut itu mewakili
kesabaran, keteguhan, cinta dan kasih sayangnya untukmu. Dan katakan, Aku Sayang Ibu……
Lalu
berdoalah kepada Allah,
“
Ya Allah, kasihilah Ibuku dan Ayahku, sebagaimana mereka berdua telah mendidik
aku waktu kecil, berkahilah hidup mereka dan izinkan aku untuk kembali bertemu
dengan ayah ibuku, kelak di Surga-Mu”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar