TRAGEDI
PERANG BERDARAH
IRAK-IRAN
(1980-1988)
Oleh
Dadan Adi K
Keberagaman
negara diseluruh dunia ini memang juga mempunyai tradisi dan watak
tersendiri-tersendiri. Adanya beberapa faktor mendasar yang sudah
berlagsung sejak lama dan menyangkut kepercayaan serta menyangkut
kemakmuran hidup bersama, ternyata sangat mudah menimbulkan konflik
(peperangan). Hal-hal yang menyangkut terkait ideologi bangsa, suku,
keyakinan, sangat mudah sekali mengobarkan adanya perselisihan dan
permusuhan dan kemudian menjadi perang. Hal inilah yang terjadi pada
Iran dan Irak yang saling berperang memperebutkan hak-nya yang sudah
diklaim masing-masing. Mereka mempunyai dasar sendiri-sendiri yang
dijadikanalat untuk membeladirinya supaya menjadi miliknya.
Kawasan
Timur Tengah memangterkenal dengan sumber daya alamnya terutama
hasilminyaknya yang mampu menyuplay keseluruh penjuru dunia. Iran
sebagai salah satu negara yang kaya akan minyak, hal tersebut tidak
lantas membuat Iran kaya dan tentram seperti yang diharapkan. Karena
kita ketahui bahwa negara-negara lain yang butuh akan kekayaan minyak
tersebut sudah siap untuk merebutnya. Irak adalah negara tetangga
terdekatnya yang memiliki perbatasan dengan Iran. Di perbatasan
itulah yang menjadisengketa dan menyulutkan perselisihan. Irak
mengeklaim bahwa wilayah itu merupakan miliknya akan tetapi Iran juga
tidak mau kalah dan menanggap bahwaitu juga wilayahnya.
Jika
sudah begitu maka akan sangat sulit sekali untuk menengahinya. Dengan
berbagai faktor baik intern maupun ekstern maka jelas perang antara
negara tetangga ini tak mampu dielakkan lagi. Negara yang
berdampingan yang seharusnya damai justru harus berperang dan
mengakibatkan jatuhya korban yang tidak sedikit.
* Penulis adalah Mahasiswa
Sejarah FKIP UNS semester 3.
- LATAR BELAKANG
Konflik
antar negara yang sampai sekarang masih terus berlanjut terjadi di
Kawasan Timur Tengah, menjadikan bahan yang menarik untuk terus
diulas dan dipelajari lebih mendalam. Terutama salah satu aktor
negara yang sangat mencolok dengan konfliknya yaitu Irak. Irak
terlibat perang dengan Iran negara tetangganya. Samapi sekarang
konflik-konflik di negara-negara tersebut masih terus ada, hal
tersebut disebabkab adanya faktor-faktor tertentu yang sangat
mendasar di tambah lagi faktor-faktor pendukung lainnya.
Kekurangpahaman terkait peran Irak-Iran ini tentunya membuat kita
sebagai umat manusia yang sama tinggal di planet ciptaan Tuhan ini
harus saling tahu dan memperhatikan bahkan ikut andil menjaga
kerukunan antar negara. Karena pada dasrnya setiap peperangan pasti
akan mempunyai dampak tidak hanya positif tetapi cenderung negatif
terutama bagi pihak yang kalah.
- RUMUSAN MASALAH
- Apa yang melatarbelakangi pecahnya Perang Teluk I antara Irak dengan Iran?
- Bagaimana jalannya proses peperangan Teluk I ?
- Bagaimanakah dampak atau akibat dari Perang Teluk I tersebut baik bagi Irak maupun Iran?
- TUJUAN
- Menjelaskan apa saja yang melatarbelakangi timbulnya atau pecahnya Perang Ira-Iran atau yang sering disebut Perang Teluk I ini.
- Menyebutkan dan menguraikan secara lebih jelas mengenai pembagian periode jalannya perang Irak-Iran ini.
- Menyebutkan dan menjelaskan terkait dampak Prang Teluk I ini, baik bagi Irak maupun bagi Iran.
PERANG
TELUK I (IRAK-IRAN)
(1980-1988)
- LATAR BELAKANG
Ada
begitu banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya Perang
antara Irak dengan Iran atau sering dikenal dengan sebutan Perang
Teluk I. Perang ini pecah pada 22 September 1980 dan sampai
sekarang pun belum berakhir. Adapun faktor-faktor yang
melatarbelakangi timbulnya perang Irak-Iran antara lain :
- Perseteruan historis antara negeri Mesopotamia (sekarang Iraq), dengan Persia (sekarang Iran).
Walaupun
perang Iran-Irak yang dimulai dari tahun 1980-1988 merupakan perang
yang terjadi di wilayah Teluk
Persia, akar dari masalah ini sebenarnya
dimulai lebih dari berabad-abad silam. Berlarut-larutnya permusuhan
yang terjadi antara kerajaan Mesopotamia(terletak
di lembah sungai Tigris-Eufrat, yang kini menjadi sebuah negara Irak
modern) dengan kerajaan Persia
atau negara Iran
modern. Yang pertama ialah persaingan dsn ketegangan Bangsa Arab dan
Bangsa Parsi, yang kedua ialah masalah minoritas etnis dan yang
ketiga ialah Orientasi politik luar negeri yang berbeda.
- Memperebutkan daerah yang kaya kekayaan alam, Sengketa Atas Sungai Shatt al-Arab & Khuzestan
Sungai
dengan panjang kurang lebih 200 km yang terbentuk dari pertemuan
Sungai Efrat & Tigris di kota Al-Qurnah, Irak selatan, di mana
bagian akhir dari sungai yang mengarah ke Teluk Persia tersebut
terletak di perbatasan Irak dan Iran. Sungai tersebut berperan
penting bagi Irak karena merupakan satu-satunya jalan keluar negara
tersebut ke laut.
Karena
letaknya yang berada di perbatasan dan posisi strategisnya yang
mengarah ke Teluk Persia, sungai tersebut menjadi bahan sengketa Irak
dan Iran. Sebelum perang antara kedua meletus, sejak tahun 1975
sungai tersebut menjadi milik kedua negara di mana batasnya adalah
pada titik terendah sungai berdasarkan kesepakatan yang dikenal
sebagai Persetujuan Aljier.
Wilayah
lain yang menjadi sengketa kedua negara adalah provinsi Khuzestan
yang kaya minyak. Wilayah tersebut selama ini menjadi wilayah Iran,
namun sejak tahun 1969 Irak mengklaim bahwa Khuzestan berada di tanah
Irak dan wilayah tersebut diserahkan ke Iran ketika Irak dijajah oleh
Inggris. Dengan begitu maka mereka saling meng-klaim sebagai wilayah
mereka masing-masing.
- Munculnya Revolusi Islam di Iran.
Saddam
Anti Iran.
Alm.
Saddam Hussain adalah seseorang yang anti-Iran, dilihat dari
sejarah hidupnya
Disamping
itu pada tahun 1979 terjadi Revolusi Islam Iran. Hal inilah
yang menjadi kekhawatiran pemimpin Irak yaitu Saddam Hussain atas
perlawanan golongan Syah yang dibawa Imam Khomeini dalam revolusi
Iran ini.
Revolusi
ini merupakan revolusi pemerintahan di mana rezim kerajaan Pahlevi
yang dianggap sebagai rezim boneka Amerika serikat tumbang dan
digantikan oleh sistem Republik Islam. Pasca revolusi tersebut,
muncul kekhawatiran di kalangan nasionalis Arab dan muslim Sunni
bahwa revolusi tersebut akan menyebar ke negara-negara Arab di
sekitarnya. Kekhawatiran terbesar terutama datang dari Irak yang
wilayahnya memang bersebelahan dengan Iran dan memiliki minoritas
Syiah di wilayahnya.
Ayatullah
Khomeini, pemimpin revolusi Islam di Iran, memang memiliki impian
untuk menyebarkan pengaruh revolusinya ke negara-negara Arab lainnya.
Pertengahan tahun 1980, Khomeini menyebut bahwa pemerintahan sekuler
Irak adalah pemerintahan boneka setan dan masyarakat muslim di Irak
sebaiknya bersatu untuk mewujudkan revolusi Islam seperti di Iran.
Pernyataan Khomeini tersebut sekaligus sebagai respon dari pernyataan
Saddam pasca revolusi Islam Iran yang menyatakan bahwa bangsa Persia
(Iran) tidak akan berhasil membalas dendam kepada bangsa Arab sejak
Pertempuran al-Qadisiyyah, pertempuran pada abad ke-7 yang
dimenangkan oleh bangsa Arab sekaligus menumbangkan Kerajaan Persia
kuno.
Ayatullah Khomeini, pemimpin dari Revolusi Islam di Iran.
I
Foto
:
Presiden Irak Saddam Hussein
rak di bawah kendali Saddam Hussein dan Partai Baath memiliki ambisi untuk menjadi kekuatan dominan di wilayah Arab di bawah bendera pan-Arabisme sejak meninggalnya Presiden Mesir, Gamal A. Nasser. Revolusi Islam yang terjadi di Iran tersebut dianggap sebagai penghalang karena bertentangan dengan prinsip nasionalisme sekuler Arab. Selain untuk mencegah menyebarnya revolusi Islam, Irak juga berusaha mengambil keuntungan dengan kondisi internal Iran yang tidak stabil pasca revolusi Islam untuk merebut wilayah-wilayah yang menjadi bahan sengketa dengan Iran dan menambah sumber minyak Irak.
Dengan
kekhawatiran-khekawatiran tersebut maka tak heran jika muncul
tindakan-tindakan yang membawa ketegangan dan menimbulkan peperangan
pada puncaknya.
- Percobaan Pembunuhan Terhadap Pejabat Irak
Pertengahan
tahun 1980, terjadi percobaan pembunuhan kepada Deputi Perdana
menteri Irak, Tariq Aziz. Irak segera bertindak dengan
menangkap sejumlah orang yang diduga terlibat atas percobaan
pembunuhan tersebut dan mendeportasi ribuan warga Syiah berdarah
Iran keluar dari Irak. Pemimpin Irak, Saddam Hussein, menyalahkan
Iran sambil menyebut ada agen Iran yang terlibat dalam peristiwa
tersebut. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor pendorong
meletusnya perang Irak-Iran.
- PERIODE PEPERANGAN
Perang
ini terbagi dalam beberapa alur atau periode tahun, dimana setiap
periode tersebut mempunyai makna sendiri bagi masing-masing negara
karena menjadi ajang balas dendam atas serangan-serangan yang saling
dilancarkan. Adapun babak-babak tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut :
- Pereode Tahun 1980-1982 ( Penyerbuan oleh Irak )
Irak
mempunyai sasaran yang jelas terhadap Iran. Ada 2 objektif Irak dalam
serangannya ke Iran :
- Menguasai wilayah-wilayah strategis serta kaya minyak di Iran
- Mencegah tersebarnya revolusi Islam di wilayah tersebut.
Dalam
serangannya, Irak menginginkan kemenangan cepat atas Iran dengan
memanfaatkan situasi internal Iran yang masih belum stabil pasca
revolusi Islam. Irak juga berharap bahwa masyarakat di Iran akan
menyalahkan pemerintahan baru Iran dan kemudian sebagian dari mereka
terutama dari golongan Arab Sunni akan membelot kepada Irak.
- Berikut serangan-serangan yang dilancarkan Irak terhadap Iran :
Tank-tank Irak saat menerobos perbatasan kedua negara.
- Tanggal 22 September 1980, jet-jet tempur Irak menyerang 10 pangkalan udara milik Iran dengan tujuan menghancurkan pesawat tempur Iran di darat, taktik yang dipelajari dari kemenangan Israel atas Arab dalam Perang 6 Hari.
Foto
:
Pesawat tempur Irak membombardir semua pangkalan milik Iran.
Serangan
dari pasukan udara Irak berhasil menghancurkan gudang amunisi serta
jalur transportasi darat, namun sebagian besar pesawat Iran tetap
utuh karena terlindung dalam hanggar yang terproteksi khusus.
Kegagalan Irak menghancurkan pesawat-pesawat tempur Iran dalam
serangan kejutan tersebut memberi peluang bagi Iran untuk melancarkan
serangan udara balasan ke Irak.
- Tanggal 23 september 1980, Irak melakukan serangan darat ke wilayah Iran dari 3 front sekaligus. Inti dari serangan tersebut adalah untuk menguasai Khuzestan dan Shatt al-Arab di mana 4 dari 6 divisi pasukan Irak dalam penyerbuan dikirim untuk menguasai kedua wilayah tersebut. Sisanya dipecah jadi 2 untuk menguasai front utara (Qasr-e Shirin) dan front tengah (Mehran) untuk mengantisipasi serangan balik yang mungkin dilakukan oleh Iran. Hasilnya, usai serangan mendadak itu Irak berhasil menguasai wilayah Iran seluas 1.000 km persegi.
- Bulan November 1980, pasukan Irak melancarkan serangan ke 2 kota penting yang strategis di Iran selatan, Shabadan dan Khorramshahr. Dalam penyerbuannya itu, pasukan Irak mendapat perlawanan sengit dari pasukan Pasadan (Garda Revolusi) Iran. Kedua kota tersebut akhirnya berhasil dikuasai Irak pada tanggal 10 November 1980.
- Berikut beberapa serangan balasan dari Iran terhadap serangan Irak :
Tank Irak yang sudah rusak di dalam kota Khorramsharh.
- Awal tahun 1981,Iran yang tertekan sempat berusaha melakukan serangan balasan kepada Irak, namun gagal karena presiden Iran, Bani Sadr, nekat memimpin langsung pasukan reguler Iran sekalipun dia hanya memiliki pengetahuan militer yang minim. Ia mengirimkan 3 resimen pasukan reguler tanpa didukung oleh Pasadar dan tidak memperhitungkan waktu serangan di waktu hujan yang bakal menyulitkan suplai logistik. Akibatnya, pasukan Iran dikepung pasukan Irak dan banyak dari kendaraan lapis baja Iran yang hancur atau perlu ditinggalkan karena terjebak dalam lumpur.
- Pesawat-pesawat F-4 milik Iran melakukan serangan ke wilayah Irak dan secara efektif berhasil melumpuhkan sejumlah titik penting di Irak. Keberhasilan tersebut membuat pasukan udara Iran terlihat lebih superior dibanding pasukan udara Irak. Namun, kurangnya amunisi dan suku cadang yang hanya bisa didapatkan dari AS mantan sekutu Iran yang berbalik memusuhi mereka pasca revolusi Islam membuat Iran lebih banyak memakai helikopter yang dipasangi persenjataan darat sebagai pendukung dari udara.
Contoh dari pesawat jet tempur F-4 milik Iran. Pesawat tersebut berperan amat vital bagi Iran dalam melancarkan serangan ke Irak. Namun seiring perang berjalan, semakin sedikit pesawat yang bisa dioperasikan karena militer Iran kekurangan suku cadang.
- Periode Tahun 1982-1984 ( Titik Balik Mundurnya Irak )
Tak
disangka militer Irak yang tadinya dianggap tak terkalahkan oleh
militer Iran teranyata situasi bisa berubah. Titik balik bagi Iran
terjadi kerena Iran tidak tinggal diam dan segera melakukan serangan
dengan berbagai Operasi Militer, antara lain :
- Bulan Maret 1982, dalam operasi militernya di bawah kode sandi Operasi Kemenangan yang Tak Dapat Disangkal (Operation Undeniable Victory). Dalam operasi militer itu, pasukan gabungan Pasadan-Basij milik Iran berhasil menembus garis depan pasukan Irak yang sebelumnya dianggap tidak bisa ditembus dan memecah pasukan Irak di utara dan selatan Khuzestan sehingga pasukan Irak terpaksa mundur.
Hasil
dari Operasi ini antara lain :
- Bulan Mei 1982, Iran berhasil merebut kembali wilayah Khorramshahr.
Foto
:
Korban keganasan Perang Irak-Iran,menelan ribuan personila dari
masing-masing pihak.
Dalam
pertempuran di wilayah tersebut, Irak kehilangan 7.000 tentara,
sementara Iran 10.000 sehingga menjadikan pertempuran itu sebagai
salah satu pertempuran paling berdarah dalam inisiatif serangan balik
Iran.
- Sejak kemenangan tersebut, Iran berganti menjadi pihak yang menekan Irak & pada bulan Juni berhasil mendapatkan kembali seluruh wilayahnya yang sebelumnya dikuasai oleh Irak.
Pasukan Iran yang sedang merayakan kemenangan mereka di Khorramshahr. - Saddan Hussein yang melihat bahwa moral pasukannya sudah terlanjur runtuh akibat serangkaian kekalahan melawan Iran pun menyatakan akan segera menarik seluruh pasukannya dari Iran dan menawarkan gencatan senjata kepada Iran. Tawaran gencatan senjata itu mencakup pembayaran ganti rugi perang sebesar 70 juta dollar AS oleh negara-negara Arab. Iran menolak tawaran gencatan senjata tersebut dan menyatakan bahwa mereka akan menyerbu Irak dan tidak akan berhenti sampai rezim yang berkuasa di Irak digantikan oleh rezim pemerintahan republik Islam.
- Bulan Juli 1982, Iran melancarkan serangannya ke kota Basra, Irak, di bawah kode sandi "Operasi Ramadhan". Dalam serangan tersebut, puluhan ribu anggota Basij dan Pasdaran mengorbankan diri mereka dengan berlari melewati ladang ranjau untuk memberi jalan bagi tank-tank di belakangnya di mana selain menghadapi bahaya ranjau, mereka juga dihujani tembakan artileri pasukan Irak.Irak berhasil mencegah Iran merengsek lebih jauh berkat kegtangguhan persenjataannya di garis pertahanan, namun Irak juga harus kehilangan sejumlah kecil wilayah karena dikuasai Iran.
Keberhasilan
Iran memukul balik Irak dan berbalik menjadi negara penyerbu membawa
kekhawatiran tersendiri bagi AS yang memutuskan untuk membantu Irak
sejak tahun 1982. Presiden AS Ronald Reagan menyatakan bahwa
AS akan berusaha dengan cara apapun untuk mencegah Irak kalah.
Bantuan AS beserta negara-negara sekutunya ke Irak yang diketahui
mencakup bantuan teknologi, alutsista, dan intelijen. Dukungan untuk
Irak juga datang dari Uni Soviet dan Liga Arab.
Karena
keberpihakan terang-terangan AS ke Irak, maka cukup mengejutkan
ketika AS diketahui juga membantu Iran dengan jalan menjual
persenjataan ke Iran secara diam-diam. Hal tersebut dilakukan untuk
mencegah dominasi dari pihak pemenang di kawasan tersebut.
- Penyerbuan tahun 1983, Iran melakukan 3 penyerbuan besar yang disusul 2 penyerbuan lainnya dengan mengerahkan ratusan ribu personil tentaranya. Iran sempat berhasil menembus garis pertahanan Irak, namun Irak berhasil memukul balik Iran dengan melakukan serangan udara mendadak secara besar-besaran. Hingga akhir tahun 1983, tercatat 120.000 personil Iran dan 60.000 personil Irak tewas dalam peperangan..
- Bulan Februari 1984, Iran menggelar "Operasi Fajar (Operation Dawn) 5 dan 6" yang ditargetkan ke kota Kut al-Amara dengan tujuan memotong jalur perairan yang menghubungkan Baghdad dan Basra. Dalam kedua operasi militer itu, Iran mengerahkan 500.000 personil Basij dan Pasdaran.
Tentara Iran ketika melakukan taktik "human wave".
(sumber : iranchamber.net) Pertempuran dalam Operasi Fajar sekaligus menjadi seperti head-to-head kekuatan militer yang dominan di masing-masing negara. Iran unggul jumlah tentara tapi kekurangan alutsista pendukung macam pasukan udara dan artileri, sementara Irak kalah jauh dalam hal jumlah tentara tapi unggul dalam hal alutsista. Periode antara tanggal 29 Februari hingga 1 Maret merupakan salah satu episode pertempuran terbesar dalam Perang Irak-Iran di mana dalam pertempuran itu, masing-masing pihak kehilangan 20.000 tentaranya.
Bulan Februari hingga Maret 1984 di bawah kode sandi "Operasi Khaibar" dengan memakai sejumlah serangan pendobrak ke Kota Basra. Agresi militer tersebut berujung keberhasilan pasukan Iran merebut Pulau Majnun yang kaya minyak. Irak sempat melancarkan serangan balik untuk merebut wilayah tersebut - termasuk dengan memakai senjata kimia. Namun, pasukan Iran tetap berhasil mempertahankan pulau tersebut hingga menjelang akhir perang.
Tentara Iran yang memakai topeng gas untuk menangkal efek senjata kimia Irak.
*kalau mau jujur, ini salah satu pic Perang Irak-Iran favorit aye * Walaupun berada pada posisi tertekan, pada tahun 1985 Irak masih sempat melakukan penyerbuan balik ke Iran dengan menyerang Tehran dan kota-kota penting di Iran lainnya usai mendapatkan bantuan finansial dari negara-negara Arab sekutunya dan bantuan alutsista terbaru dari Uni Soviet, Cina, dan Perancis. Serangan Irak tersebut tidak membawa perubahan yang signifikan dalam arah peperangan dan sekalipun wilayahnya diserang, di tahun itu Iran tetap melakukan penyerbuan ke wilayah Irak di bawah kode sandi "Operasi Badr"
- Periode Tahun 1984-1988 ( Perang Tanker )
Tahun
1984, Irak yang baru mendapat bantuan pesawat tempur Super Etentard
terbaru dari Perancis melakukan operasi militer di laut mulai dari
muara Shatt el-Arab hingga pelabuhan Iran di Bushehr. Target dari
operasi militer tersebut adalah semua kapal yang bukan berbendera
Irak di wilayah operasi militer, baik itu kapal berbendera Iran
maupun kapal netral yang dari atau menuju Tehran. Tujuannya adalah
untuk memblokade ekpsor minyak Iran dan mempengaruhi ekonominya
sehingga Iran mau berunding dengan Irak. Kebijakan militer Irak
tersebut lalu mengawali babak baru dalam perang yang dikenal sebagai
Perang Tanker.
- Perang Tangker Fase I
Sebenarnya
perang tanker sudah dimulai sejak tahun 1981 di mana pasukan laut
Irak saat itu menargetkan titik-titik penting milik Iran di laut
seperti pelabuhan dan kilang minyak. Dalam operasi militernya di laut
tersebut, Irak lebih banyak memakai angkatan udaranya untuk melakukan
serangan. Perang Tanker fase I tersebut berlangsung selama 2
tahun setelah baik Irak maupun Iran kekurangan armada kapal untuk
meneruskan operasi militernya. Baru pada tahun 1984, Irak memutuskan
untuk kembali melakukan operasi militer di laut sekaligus mengawali
babak baru Perang Tanker fase II.
Kapal tanker Arab Saudi yang terbakar ketika Perang Tanker berlangsung.
Kapal tanker Arab Saudi yang terbakar ketika Perang Tanker berlangsung.
- Perang tanker fase II
Dimulai
ketika Irak menyerang kapal berbendera Yunani di sebelah selatan
Kepulauan Khark pada bulan Maret 1984. Iran lantas membalasnya dengan
menyerang kapal-kapal berbendera Kuwait di dekat Bahrain dan Arab
Saudi di perairan Arab Saudi sendiri sekaligus memberi peringatan
bahwa jika Irak tetap nekat melanjutkan perang tanker, tak akan ada
kapal milik negara Teluk yang selamat. Suatu ancaman yang dampaknya
tidak ringan karena berpotensi melumpuhkan aktivitas pengangkutan
minyak mentah di kawasan tersebut.
Upaya
Irak untuk memblokade jalur transportasi minyak Iran gagal
melumpuhkan ekonomi Iran karena ketika Irak memblokade kawasan teluk,
Iran hanya memindahkan pelabuhannya ke Kepulauan Larakdi dekat Hormuz
sehingga aktivitas ekspor minyaknya relatif tidak terganggu. Di lain
pihak, justru Irak yang perekonomiannya terancam setelah Suriah,
sekutu Iran saat itu, memblokade pipa minyak Irak ke Mediterania
sejak tahun 1982. Sebagai antisipasinya, Irak mengalihkan aktivitas
ekspor minyaknya lewat Kuwait dan jalur pipa minyak baru dibangun
melewati Laut Merah serta Turki.
- Periode Tahun 1987-1988 ( Ikut Campurnya AS )
Dampak
dari perang Tanker
Situasi
perang tanker yang semakin membabi buta karena ikut menargetkan
kapal-kapal tanker dari negara-negara yang netral membuat Kuwait
meminta bantuan pihak internasional pada tahun 1986. Uni Soviet
adalah negara pertama yang merespon dengan mengirimkan kapal-kapal
perangnya untuk mengawal kapal tanker Kuwait. Kebijakan Uni Soviet
lalu diikuti oleh AS pada tahun 1987 yang sebenarnya sudah didekati
Kuwait lebih dulu.
Faktor
pendorong utama ikut campurnya AS dalam Perang Irak-Iran sebenarnya
disebabkan karena kapal perangnya ditenggelamkan oleh pesawat tempur
Irak sehingga 13 awak kapalnya meninggal. Irak meminta maaf kepada AS
sambil mengatakan bahwa itu adalah kecelakaan dan permintaan maaf
Irak diterima oleh AS. Ironisnya, sesudah insiden itu AS justru
menyalahkan Iran dengan alasan Iranlah yang menyebabkan peperangan
semakin berkobar. Tuduhan AS lalu diikuti tindakan AS mengirim armada
lautnya untuk mengawal kapal-kapal tanker milik Kuwait yang
mengibarkan bendera AS.
Kapal USS Stark yang terbakar akibat terkena tembakan misil Irak.
Kapal USS Stark yang terbakar akibat terkena tembakan misil Irak.
Tujuan
utama AS dalam penerjunan armada lautnya di sekitar Teluk adalah
untuk mengisolasi Iran dan menjaga agar kapal-kapal bebas berlayar di
sana. AS baru melancarkan serangan langsung ke Iran dengan
menghancurkan kilang minyak Iran di ladang minyak Rostam setelah
pasukan Iran menenggelamkan kapal tanker Kuwait berbendera AS, Sea
Isle City. Setahun kemudian, tepatnya bulan April 1988, AS kembali
menyerang kilang minyak & kapal-kapal perang Iran setelah kapal
perangnya, USS Samuel B. Roberts, tenggelam akibat ranjau laut Iran.
- Periode Tahun 1988 ( Gencatan Senjata )
Pada
tahun 1988, arah pertempuran mulai kembali ke arah Irak di mana Irak
berhasil meraih beberapa kemenangan penting atas Iran. Dalam
pertempuran pada kurun waktu tersebut, Irak juga berhasil merebut
sejumlah besar alutsista milik Iran dan menguasai kembali Semenanjung
Al-Faw serta Kepulauan Majnun yang kaya minyak. Perang akhirnya
berakhir setelah Iran menerima Resolusi Dewan Keamanan PBB 598 dan
secara resmi mengakhiri perang yang sudah terjadi selama 8 tahun pada
tanggal 20 Agustus 1988.
Monumen Perang Irak-Iran (disebut juga Monumen Para Martir) di Baghdad, Irak.
- DAMPAK PERANG TELUK I ( IRAK-IRAN ) 1980-1988
Tak
dapat dipungkiri bahwa semua perang terutama perang fisik tentulah
berakibat pada jatuhnya korban jiwa. Dalam Perang Iran-Irak ini tidak
hanya dirasakan oleh satu pihak saja tetapi oleh keduanya. Adapun
dampak kerugian dari Perang Irak-Iran ini antara lain :
- Kerugian besar bagi kedua belah pihak, dari segi material jumlah kerugian material bagi masing-masing negara diperkirakan mencapai 500 juta dollar AS.
- Jumlah korban jiwa, jumlah korban tewas Irak mungkin mencapai 200.000 jiwa lebih, sementara Iran mencapai 1 juta jiwa sebagai akibat dari taktik militer Iran yang banyak mengorbankan tentaranya untuk berhadap-hadapan langsung dengan moncong senjata musuh. Jumlah tersebut belum termasuk mereka yang meninggal kemudian akibat luka parah dan penyakit, termasuk akibat penggunaan senjata kimia Irak yang berdampak jangka panjang. .
- Jumlah kerugian lebih besar harus ditanggung Irak yang selama perang memang aktif mencari pinjaman uang untuk menambah persenjataan.
- Pembangunan ekonomi menjadi terhambat dan ekspor minyak kedua negara terganggu
- Selain kerugian materi dan korban jiwa, tidak ada perubahan berarti pasca perang. Wilayah-wilayah yang menjadi bahan sengketa statusnya kembali seperti sebelum perang dan batas antara kedua negara juga tidak banyak berubah. Wilayah perairan Shatt al-Arab contohnya, tetap dibagi menjadi milik kedua negara dengan batasnya adalah titik terdalam pada perairan.
KESIMPULAN
Perang
Iran-Irak juga dikenali sebagai Pertahanan Suci dan Perang
Revolusi Iran di Iran, dan Qadisiyyah Saddam) di Irak, adalah
perang di antara Irak dan Iran yang bermula pada bulan September 1980
dan berakhir pada bulan Agustus 1988. Umumnya, perang ini dikenali
sebagai Perang Teluk I.
Perang
ini pecah karena dilatarbelakangi antara lain :
- Perseteruan historis antara negeri Mesopotamia (sekarang Iraq), dengan Persia (sekarang Iran). Antara lain yaitu masalah ketegangan akibat ketatnya persaingan, menoritas etnis, dan juga orientasi politik luar negeri yang berbeda.
- Sengketa atas Sungai Shatt al-Arab dan Khuzestan yang kaya akan hasil minyaknya. Hasil minyak ini sangat menguntungkan dan menimbulkan daya terik setiap negara.
- Munculnya Revolusi Islam di Iran yang notabene Saddam Hussein ialah AntiIran.
- Percobaan Pembunuhan Terhadap Pejabat Irak
Kemudian
terkait dengan jalannya perang Teluk I ini, maka di bagi menjadi
beberapa periode antara lain :
- Pereode Tahun 1980-1982 ( Penyerbuan oleh Irak )
Irak
melakukan berbagai serangan terhadap Iran guna menguasai wilayah dan
mencegah Revolusi Islam Iran.
Contoh dari pesawat jet tempur F-4 milik Iran. Pesawat tersebut berperan amat vital bagi Iran dalam melancarkan serangan ke Irak. Namun seiring perang berjalan, semakin sedikit pesawat yang bisa dioperasikan karena militer Iran kekurangan suku cadang.
Contoh dari pesawat jet tempur F-4 milik Iran. Pesawat tersebut berperan amat vital bagi Iran dalam melancarkan serangan ke Irak. Namun seiring perang berjalan, semakin sedikit pesawat yang bisa dioperasikan karena militer Iran kekurangan suku cadang.
- Periode Tahun 1982-1984 ( Titik Balik Mundurnya Irak )
Iran
tidak tinggal diam. Iran balas melancarkan berbagai Operasi militer
untuk membalas serangan-serangan dari Irak. Dan hal tersebut telah
berhasil memukul mundur tentara militer Irak.
- Periode Tahun 1984-1988 ( Perang Tanker )
Tahun
1984, berkat bantuan pesawat tempur Super Etentard terbaru dari
Perancis, Irak melakukan operasi militer di laut mulai dari muara
Shatt el-Arab hingga pelabuhan Iran di Bushehr. Target dari operasi
militer tersebut adalah semua kapal yang bukan berbendera Irak di
wilayah operasi militer. Tujuannya adalah untuk memblokade ekpsor
minyak Iran dan mempengaruhi ekonominya sehingga Iran mau berunding
dengan Irak.
- Periode Tahun 1987-1988 ( Ikut Campurnya AS )
Dampak
dari perang Tanker.
Faktor
pendorong utama ikut campurnya AS dalam Perang Irak-Iran sebenarnya
disebabkan karena kapal perangnya ditenggelamkan oleh pesawat tempur
Irak sehingga 13 awak kapalnya meninggal. Akhirnya AS menerjunakann
armada lautnya di sekitar Teluk adalah untuk mengisolasi Iran dan
menjaga agar kapal-kapal bebas berlayar di sana.
- Periode Tahun 1988 ( Gencatan Senjata )
Perang
akhirnya berakhir setelah Iran menerima Resolusi Dewan Keamanan PBB
598 dan secara resmi mengakhiri perang yang sudah terjadi selama 8
tahun pada tanggal 20 Agustus 1988.
Dampak
Kerugian Perang Irak-Iran ini, antara lain :
- Kerugian besar bagi kedua belah pihak, dari segi material jumlah kerugian material bagi masing-masing negara diperkirakan mencapai 500 juta dollar AS.
- JFoto : Korban bergelimpangan tak bernyawa akibat perang yang sangat sadi antara Irak dengan Iran
umlah korban jiwa, jumlah korban tewas Irak mungkin mencapai 200.000
jiwa
lebih, sementara Iran mencapai 1 juta jiwa sebagai akibat dari taktik
militer Iran yang banyak mengorbankan tentaranya untuk berhadap
hadapan langsung dengan moncong senjata musuh.
Jumlah
tersebut belum termasuk mereka yang meninggal kemudian akibat luka
parah dan penyakit, termasuk akibat penggunaan senjata kimia Irak
yang berdampak jangka panjang. .
- Jumlah kerugian lebih besar harus ditanggung Irak yang selama perang memang aktif mencari pinjaman uang untuk menambah persenjataan.
- Pembangunan ekonomi menjadi terhambat dan ekspor minyak kedua negara terganggu
- Selain kerugian materi dan korban jiwa, tidak ada perubahan berarti pasca perang. Wilayah-wilayah yang menjadi bahan sengketa statusnya kembali seperti sebelum perang dan batas antara kedua negara juga tidak banyak berubah. Wilayah perairan Shatt al-Arab contohnya, tetap dibagi menjadi milik kedua negara dengan batasnya adalah titik terdalam pada perairan.
- Selain itu, perang Irak-Iran ini menimbulkan polarisasi sikap negara-negara arab. Mereka ikut khawatir melihat pertikaian antara dua negara ini. Negara arab pada umumnya tidak suka terhadap Iran dan cenderung memihak Irak. Sedangkan Iran sendiri akan mengancam bagi siapa saja yang membela Irak dan akan memotong jalur minyak di Teluk Persi dan selat Hornuz, yang artinya akan mengancam pula bagi negara-negara barat terutama untuk Industrinya yang maju dan berkembang. Dengan begitu memungkinkan Uni soviet untuk memasuki Iran dan menguasai alur minyaknya sehingga dapat menundukan Amerika serikatsebagai pesaing Abadinya selama ini serta negara-negara berkembang lainnya. Tetapi semuanya itu tak dapat dicapai Uni soviet dengan mudah, karena Amerika serikat juga sudah mengetahui dan bersiap-siap untuk menaggulangi ancaman itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar