Kamis, 19 September 2013

KETERBATASAN

‘’BATAS  KEMAMPUANNYA’’

Dibawah terik sang sinar itu rumah mereka Dibawah selimut hujan itu rumah mereka,
Di pinggir roda-roda mereka setia ada,
Dan ditemani oleh wewangian gas roda-roda tersebut mereka hidup.

Tatkala kita sedang tidur dengan pulasnya, mereka berjuang melawan baying-bayang kelaparan.
Tatkala kita sedang sarapan dengan gegasnya, mereka meratapi kenapa hal itu tak ada padanya.
Kenapa kita bisa merasakan nikmatnya bangku sekolah tapi mereka  tidak?
Kenapa kita bisa makan enak tapi mereka  tidak?
Kenapa disaat kita bisa meminta uang dengan mudahnya ke orang tua tapi mereka tidak?
Kenapa kita bisa tidur dengan nyenyaknya tapi mereka tidak?
Kenapa kita bisa hidup bahagia tapi mereka tidak?
Kenapa?
Kenapa??
Ya Allah apa salah mereka?
Mereka itu adalah generasi penerus bangsa, harapan bangsa,
Di umur yang baru sekitar 4, 5, 6  atau 7 tahun , mereka harus menerima kejamnya dunia ini,
Pagi, siang, sore, malam dan kembali pagi lagi dan seterusnya mereka menerima kenyataan pahit itu,

Aku tak mampu menahan sakit hati ini tatkala aku melihat mereka harus berjuang tak kenal waktu dan kondisi demi hidup mereka, sedangkan kita hidup dengan santainya,
Kita justru sering melakukan hal-hal yang tak berguna dalam hidup ini,
Hidup bersenang-senang, bermewah-mewahan seperti tak kenal saudara lagi,

Tidakkah kita menangis melihat dan merasakan realita ini?
Jika kita sebagai insan yang berbudi, jelas kita akan mendengar jeritan hati mereka setiap saat,
Dan kita segera bergegas pergi untuk menemui mereka,beri yang terbaik untuk mereka dan jangan sampai jeritan-jeritan itu kita dengar kembali,

Tetapi, jika kita tidak pernah bisa merasakan jeritan mereka maka tak sepantasnya kita hidup bahagia,
Karena sesungguhnya hidup itu adalah tolong menolong, saling memberi dan mengasihi serta menyayangi.

Semoga, tulisan ini memberi kita gambaran, wawasan pengetahuan bahwa mereka anak-anak pengamen, anak-anak gelandangan yang masih muda belia harus berjuang melawan kerasnya hidup. Tak seharusnya mereka seperti itu, tidak sekolah, harus mencari uang demi hidup, tidur di atas  tikar kardus bekas,dan jiwa psikis mereka tak sepantasnya menerima kenyataan itu.
Sedangkan kita hidup sebaliknya, tapi tak pernah menengok kebelakang dan melihat bagaimana kerasnya, pahitnya, sengsaranya mereka anak-anak yang masih kecil yang seharusnya mendapat perhatian, kasih sayang orang tuanya dan hidup bahagia.
Masih tegakah kita melihat mereka terus hidup dibawah tekanan mental fisik?
Mari kita sama-sama berrjuang demi mereka, kalau bukan kita lalu siapa lagi?
Kita tidak boleh menunggu sesuatu terlanjur terjadi, tapi segera bergegaslah  untuk membawa perubahan. Lakukan dari sekarang, sebisa, sebaik dan seiklas mungkin. Insyallah semua perjuangan kita akan kita peroleh hikmahnya. (Allahuma amin).





Tidak ada komentar:

Posting Komentar