‘’BATAS KEMAMPUANNYA’’
Dibawah terik sang
sinar itu rumah mereka Dibawah selimut hujan itu rumah mereka,
Di pinggir roda-roda
mereka setia ada,
Dan ditemani oleh
wewangian gas roda-roda tersebut mereka hidup.
Tatkala kita sedang
tidur dengan pulasnya, mereka berjuang melawan baying-bayang kelaparan.
Tatkala kita sedang
sarapan dengan gegasnya, mereka meratapi kenapa hal itu tak ada padanya.
Kenapa kita bisa
merasakan nikmatnya bangku sekolah tapi mereka
tidak?
Kenapa kita bisa
makan enak tapi mereka tidak?
Kenapa disaat kita
bisa meminta uang dengan mudahnya ke orang tua tapi mereka tidak?
Kenapa kita bisa
tidur dengan nyenyaknya tapi mereka tidak?
Kenapa kita bisa
hidup bahagia tapi mereka tidak?
Kenapa?
Kenapa??
Ya Allah apa salah
mereka?
Mereka itu adalah
generasi penerus bangsa, harapan bangsa,
Di umur yang baru
sekitar 4, 5, 6 atau 7 tahun , mereka
harus menerima kejamnya dunia ini,
Pagi, siang, sore,
malam dan kembali pagi lagi dan seterusnya mereka menerima kenyataan pahit itu,
Aku tak mampu menahan
sakit hati ini tatkala aku melihat mereka harus berjuang tak kenal waktu dan
kondisi demi hidup mereka, sedangkan kita hidup dengan santainya,
Kita justru sering
melakukan hal-hal yang tak berguna dalam hidup ini,
Hidup
bersenang-senang, bermewah-mewahan seperti tak kenal saudara lagi,
Tidakkah kita
menangis melihat dan merasakan realita ini?
Jika kita sebagai
insan yang berbudi, jelas kita akan mendengar jeritan hati mereka setiap saat,
Dan kita segera
bergegas pergi untuk menemui mereka,beri yang terbaik untuk mereka dan jangan
sampai jeritan-jeritan itu kita dengar kembali,
Tetapi, jika kita
tidak pernah bisa merasakan jeritan mereka maka tak sepantasnya kita hidup
bahagia,
Karena sesungguhnya
hidup itu adalah tolong menolong, saling memberi dan mengasihi serta
menyayangi.
Semoga, tulisan ini
memberi kita gambaran, wawasan pengetahuan bahwa mereka anak-anak pengamen,
anak-anak gelandangan yang masih muda belia harus berjuang melawan kerasnya
hidup. Tak seharusnya mereka seperti itu, tidak sekolah, harus mencari uang
demi hidup, tidur di atas tikar kardus
bekas,dan jiwa psikis mereka tak sepantasnya menerima kenyataan itu.
Sedangkan kita hidup
sebaliknya, tapi tak pernah menengok kebelakang dan melihat bagaimana kerasnya,
pahitnya, sengsaranya mereka anak-anak yang masih kecil yang seharusnya
mendapat perhatian, kasih sayang orang tuanya dan hidup bahagia.
Masih tegakah kita
melihat mereka terus hidup dibawah tekanan mental fisik?
Mari kita sama-sama
berrjuang demi mereka, kalau bukan kita lalu siapa lagi?
Kita tidak boleh
menunggu sesuatu terlanjur terjadi, tapi segera bergegaslah untuk membawa perubahan. Lakukan dari
sekarang, sebisa, sebaik dan seiklas mungkin. Insyallah semua perjuangan kita
akan kita peroleh hikmahnya. (Allahuma amin).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar