Minggu, 12 Januari 2014

WANITA BAKUL : Profesi Berdagang di Pasar-Pasar Tradisional Surakarta

Kata orang profesi bakul lebih mengandalkan bakat. Ada pula yang berpendapat tergantung minat. Dan ada pula tergantung usaha asal mau belajar. Menurut saya semuanya saling mempengaruhi. Kadang ada bakat tetapi tidak ada niat. Kadang ada niat tetapi tidak ada modal dan tidak ada usaha. Jadi semua saling mempengaruhi. Pada intinya menjalani profesi bakul tidaklah mudah. Butuh skill, keahlian, usaha, minat yang semuanya harus dipadukan jika ingin berhasil. Profesi bakul merupakan salah satu profesi yang menjanjikan. Terkadang tidak perlu modal asal jeli dan ulet sudah bisa jalan. Hal itu telah dibuktikan oleh wanita-wanita pribumi yang bergelut dalam bidang perbakulan di pasar-pasar tradisional di Surakarta. Di Surakarta sendiri terdapat beberapa pasar tradisional seperti Pasar Gedhe, Pasar Klewer, Pasar Gading, Pasar Nangka, Pasar Kembang, Pasar Triwindu, dan beberapa pasar kecil lainnya.
Seiring globalisasi yang ditunjang modernisasi tentu merubah banyak tatanan kehidupan. Tidak hanya kaum laki-laki yang harus bekerja mencari nafkah untuk kebutuhan rumah tangga melainkan juga wanita. Peran wanita sebagai penopang kebutuhan rumah tangga kian terakui. Bahkan tidak jarang wanita menjadi tulang punggung keluarga. Wanita-wanita bakul berasal dari berbagai macam wilayah baik perkotaan maupun pedesaan. Hampir setiap hari atau dino pasaran (hari pasaran ; pon, wage, kliwon, legi, pahing) terrtentu mereka bakul di kios-kios pasar menjajakan barang dagangannya. Di pagi hari akan dengan mudah kita jumpai iring-iringan wanita bakul yang kesana-kemari mempersiapkan dagangannya. Biasanya mereka kulak (belanja) atau kulakan (berbelanja) barang dagangan hari itu juga yang nanti akan mereka jual kembali. Namun ada pula yang sudah kulakan hari sebelumnya, hal itu tergantung dari jenis barang yang mereka jual.[1]
Proses jual-beli yang merupakan fungsi dasar pasar menuntut kepiawaian seorang wanita bakul. Mereka harus tanggap terhadap kesempatan. Rebutan pembeli atau pelanggan adalah hal yang lumrah dalam dunia pasar. Jika tidak jeli dan lincah tidak jarang mereka rugi. Namun sebaliknya bagi mereka yang ulet, sabar, pekerja keras dan ditambah nasib mujur maka untung besar akan didapat.  Untung-rugi merupakan hal yang lumrah dan sudah dimaklumi oleh setiap bakul karena hal itu merupakan hukum alam di dunia perdagangan di manapun tempatnya. Tidak jarang para bakul mempergunakan segalam macam cara untuk bisa meyakinkan pembeli supaya mau membeli dagangannya.[2]
Dalam dunia pasar, kita akan mudah menemukan istilah arisan maupun lotre. [3] Latar belakang mengapa banyak bakul terutama wanita atau ibu-ibu yang ikut kegiatan arisan maupun lotre ini tentu berbeda-beda. Dalam tulisan ini saya akan lebih banyak membahas mengenai arisan karena memang lebih familiar ditemukan di hampir seluruh pasar-pasar di Indonesia tidak hanya di Surakarta. Bagi sebagian wanita bakul, arisan menjadi ajang seorang bakul ingin mengumpulkan hartanya karena bagi mereka ketika uang sering dipegang justru tingkat pemborosan akan lebih tinggi. Sehingga mereka menganggap kegiatan arisan menjadi salah satu cara menabung. Ada juga yang memanfaatkan arisan sebagai modal. Karena jika seorang bakul mendapatkan undian di awal maka uang hasil arisan tersebut dapat dipakai sebagai modal untuk kedepan. Alasan yang ketiga adalah karena faktor gensi dan ikut-ikutan saja.[4]
Jika kita menilik pada dua alasan yang pertama mengapa para bakul wanita khususnya di Surakarta ingin mengikuti arisan sebenarnya hal itu relevan untuk menopang kebutuhan rumah tangga. Bagi sebagian besar bakul wanita yang sudah berumah tangga tentu memiliki kebutuhan-kebutuhan yang tidak terduga yang datang kapan saja. Tradisi orang Jawa yang masih banyak acara-acara rituil seperti telung dinanan, pitung dinanan, petangpuluhan, satusan, pendhak pisan, pendhak pindho, kondangan2, tirakatan, sumbangan, tilik tangga, dsb. membutuhkan biaya yang lumayan besar sehingga perlu adanya cadangan uang yang lebih untuk tetap memenuhi semua itu demi harmonisnya kehidupan bermasyarakat. Untuk itulah mereka menggunakan uang arisan sebagai salah satu penopang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.[5]
Dalam dunia pasar tradisional, memang citra perempuan sedikit lebih diunggulkan. Secara kuantitas para bakul didominasi oleh para wanita. Hal itu sedikit berbeda dengan pasar-pasar modern yang mana banyak dihuni oleh kaum laki-laki dan perempuan yang jumlahnya hampir berimbang. Dalam dunia perbakulan apalagi di pasar butuh suatu keberanian untuk menghadapi kerasnya dunia sosial. Tak jarang antar bakul saling adu mulut, bertengkar bahkan berkelahi. Semua tentu kembali pada urusan pendapatan yang muaranya adalah pemenuhan kebutuhan. Mereka rela berpanas-panasan, berangkat petang, bersaing satu sama lain demi mendapatkan keuntungan.

Analisis Kritis
Sebenarnya dalam kasus ini membahas mengenai dua hal sekaligus yang tidak dapat dipisahkan yaitu wanita dalam karier dan wanita dalam rumah tangga. Keduanya saling berkaitan. Wanita berprofesi sebagai bakul di pasar salah satu alasan terbesarnya adalah untuk menopang kebutuhan rumah tangga. Mereka memiliki peran ganda, di satu sisi harus mengurus keluarga atau urusan rumah dan di satu sisi harus bekerja mencari nafkah. Dalam menganalisis kasus ini sedikit banyak kita bisa menggunakan pemikiran-pemikiran Ratna Saptari[6], Saskia E. Wieringa [7], Irwan Abdullah[8], Saparinah Sadli[9] dan  Susan Blackburn.[10] Dan masih ada beberapa tulisan lain sebagai rujukan untuk menganalisis kasus ini namun tidak saya sebutkan semua di sini.
Profesi wanita Jawa di Surakarta dalam menyelami dunia perbakulan (dagang) di pasar merupakan suatu wujud pemecahan mitos. Mengapa saya mengatakan demikian? Karena mitos-mitos yang dibangun dan terbangun dalam masyarakat selama ini cenderung “relatif memarginalkan” dan hal itu pada perkembangannya berhasil dipatahkan oleh kaum perempuan. Menurut Gandarsih Mulyowaty wanita Jawa pada umumnya masih bersifat sebagaimana digambarkan dalam stereotip yang sudah-sudah yaitu nrima, pasrah, halus, sabar, setia, bakti. Wanita setelah menikah sebaiknya tinggal dirumah, mengurus rumah tangga, mengurus suami, dan mendidik anak[11]. Hal itu juga sejalan dengan pendapat Saparinah bahwa wanita selama ini cenderung diskriminasi. Hal itu bisa dirujuk pada GBHN (Garis Besar Haluan Negara) 1993 yang menyatakan bahwa secara politis wanita bertugas terhadap pendidikan dan pengasuhan anak sedangkan laki-laki sebagai kepala rumah tangga pencari nafkah utama. Perempuan didiskriminasi dalam hal pendidikan, pilihan jurusan, dan pekerjaan. [12]
Melalui perlajanan panjang yang salah satunya dibuktikan dengan terselengarakannya Kongres Perempuan 1928 akhirnya wanita atau perempuan bisa seperti sekarang. Namun secara lebih luas gerakan emansipasi Kartini sejauh ini lebih terlihat mengena di mata publik. Kartini menuntut pendidikan bagi kaum perempuan dengan tujuan mengangkat martabat kaum perempuan sejajar dengan laki-laki dan mampu menggunakan hak-haknya supaya bisa hidup mandiri  serta tidak lagi menyandang gelar “warga negara kelas dua”.[13]
Mungkin sekali kesadaran masyarakat di Surakarta akan konsep gender, kesetaraan, emansipasi, feminisme dan sejenisnya itu mulai terbangun berkat Kartini dan terselenggaranya Kongres Perempuan pertama di Yogyakarta 1928 sebagai salah satu penyebabnya. Sebab pada waktu kongres tersebut sebagian besar dihadiri oleh organisasi-organisasi perempuan dari Jawa dan secara khusus dari Solo juga mengirimkan wakilnya sebanyak lima delegasi. Mereka adalah Aisjijah, Boedi Wanito, Karti Wara, Santjaja Rini, dan Wanito Katholiek.[14]
Pada masa Orde Baru dibawah kekuasan Soeharto yang notabene bersifat militer dan otoriter, usaha wanita yang dirintis jauh-jauh hari seakan-akan terbentur dan terhenti. Menurut Saskia E. Wieringa negara berperan besar dalam membentuk perempuan. Perempuan dibentuk sedemikian rupa sehingga ruang geraknya terbatas. Gerakan-gerakan perempuan sangat diawasi dan dikontrol oleh negara. Wanita dijadikan sebagai salah satu alat pendukung legitimasi kekuasaan dan hal itu terbukti mampu bercokol kurang lebih 32 tahun. Hingga pada akhirnya memasuki era Reformasi yang mengedepankan kebebasan, keterbukaan, keadilan, dan demokrasi.
Wanita secara perlahan-lahan mulai tampil ke publik. Dunia pergerakan wanita semakin luas. Konsep gender dan kesetaraan menjadi semakin terangkat. Wanita dianggap setara dengan laki-laki. Apa yang sebelumnya tidak boleh dikerjakan kaum perempuan menjadi boleh. Salah satu bukti kongritnya adalah naiknya Megawati Soekarno Putri sebagai presiden Indonesia. Dan dewasa ini secara kuantitas maupun kualitas semakin banyak pula perempuan yang menempati kursi di parlemen. Wanita banyak terjun di dunia bisnis, politik, ekonomi, budaya, kesehatan, dll. Itu semua menunjukkan suatu perubahan yang signifikan setelah lengsernya Soeharto.
Kembali pada kasus wanita bakul di Surakarta, dipandang dari perspektif kesetaraan dan gender maka dewasa ini rutinitas mereka menunjukkan bahwa wanita juga setara dengan laki-laki. Mereka bisa menggantikan peran seorang kepala rumah tangga yang pada kodratnya disandang oleh laki-laki yaitu ayah yang bertugas mencari nafkah dan menghidupi keluarga. Karena pada prinsipnya, karier tidaklah berjenis kelamin sehingga menjadi sah-sah saja baik bagi perempuan maupun laki-laki untuk melakukannya. Mengenai konsep wanita dalam rumah tangga, maka para bakul wanita yang sebagian besar waktunya dihabiskan di pasar tentu menjadi masalah tersendiri dalam ranah kehidupan rumah tangga mereka. Mereka harus ekstra membagi waktu untuk mengurusi anak-anak, keluarga, suami dan urusan rumah. Sebelum atau sehabis dari pasar mereka biasa menyelesaikan pekerjaan mereka sebagai ibu rumah tangga seperti mencuci piring, baju, bersih-bersih rumah, menyiapkan sarapan, dll. Itu artinya bahwa sebenarnya wanita secara gender memiliki sumbangsih yang besar dalam pembangunan baik lingkup rumah tangga maupun lingkup negara. Hal-hal semacam itu merupakan realita simbol pergeseran sosial.
Profesi mereka sebagai bakul disebabkan oleh beberapa faktor. Yang pertama adalah tuntutan kebutuhan rumah tangga yang semakin tinggi dan komplek memaksa mereka untuk turut membantu keluarga dalam memenuhi segala kebutuhan. Ini artinya faktor ekstern lebih berpengaruh yaitu karena faktor keadaan ekonomi. Faktor ekstern lainnya adalah karena faktor ajakan dan terinspirasi oleh lingkungan sekitar yang mayoritas berdagang. Pasar-pasar di Surakarta banyak dihuni oleh bakul-bakul yang berasal dari komunitas atau desa yang sama. Dari yang awalnya bekerja sebagai tani tulen, pabrikan, atau ibu rumah tangga yang belum pernah terjun di dunia perdagangan akhirnya menjadi berhasrat untuk mengikuti jejak tetangga-tetangga mereka yang sukses menjadi bakul. Pada awalnya mereka hanya mencoba-coba, setelah merasakan dan menemukan kenyamanan akhirnya mereka melanjutkan profesi tersebut.
Yang kedua adalah karena mereka memang senang dengan kegiatan bakul (berdagang). Selain memiliki bakat dan minat yang ada pada dalam diri mereka. Mereka tidak ingin menyia-nyiakan bakat mereka untuk berwiraswasta. Bagi mereka profesi itu adalah luhur dan tidak merugikan orang justru membantu menyediakan dan melayani kebutuhan orang. Suasana pasar yang hiruk-pikuk, ramai dan menuntut untuk terus berkomunikasi antar sesama menjadikan karakter tersendiri bagi mereka yang sudah terbiasa berdagang. Bagi mereka berdagang adalah dunia yang menyenangkan. Bahkan jika para wanita bakuln tersebut lama meninggalkan dunia bakul karena faktor tertentu, rasa kangen untuk ke pasar dan berdagang selalu muncul.
Bagi mereka setidaknya dunia pasar merepresentasikan dunia mereka, karena memberikan kebebasan, keleluasaan, kelenturan sebagai seorang manusia layaknya laki-laki yang selama ini diuntungkan dengan sistem patriarki dalam kehidupan sehari-hari. Dunia pasar dianggap sebagai dunia yang berbeda dengan dunia sehari-hari. Dalam perspektif wanita bakul di Surakarta, dunia sehari-hari sampai saat ini dalam konteks tertentu pada hahekatnya masih banyak yang bersifat patriarki semisal dalam kegiatan acara-acara kampung yang selalu menampilkan sosok laki-laki. Untuk itulah para bakul ini mencari dunia mereka yang akhirnya ditemukan di pasar. Mereka bisa mengekplor kepuasan yang dalam kehidupan sehari-hari merasa terhalangi akan patriarkalisme yang telah membudaya.
Mengenai kesetaraan, emansipasi, atau feminisme mereka menganggap bahwa profesi berdagang lebih disebabkan karena faktor tuntutan dan kesenangan. Bagi mereka kesetaraan tidak bisa terwujud di mana tempat dan waktu. Jika di rumah atau di masyarakat tentu yang dimaksud dengan kesetaraan sejatinya belum terwujud. Namun setidaknya hal-hal yang esensial dewasa ini telah mereka rasakan seperti sekolah, kuliah, boleh mendirikan organisasi-organisasi perempuan di kampung-kampung, boleh menyatakan pendapat walaupun terkadang kurang diperhitungkan di mata kaum bapak-bapak atau laki-laki, dsb. Wanita atau perempuan sekarang dalam hal pendidikan sudah dianggap setara, berbeda dengan dahulu. Sekarang mereka boleh memilih jurusan apa saja yang sekiranya mereka mampu. Melihat dan mendengar anak perempuan bisa sekolah ke jenjang perguruan tinggi menjadi hal yang lumrah di mana-mana. Namun tidak jarang pula bahwa masih ada sebagian masyarakat yang beranggapan bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi toh pada akhirnya juga ikut suami dan menjadi ibu rumah tangga yang tugasnya di rumah. Jadi intinya sebagian besar para bakul yang sudah menajdi ibu rumah tangga sudah sadar akan pentingnya pendidikan bagi putri-putri mereka, dan sebagian besar pula berpikir sebaliknya.
Mengenai feminisme, wanita-wanita bakul di Surakarta tidak begitu mempersalahkan. Yang menjadi penting bagi mereka adalah bagaimana menempatkan diri mereka dengan tempat dan waktu. Kadang mereka harus bersifat tegas, keras, berlaku seperti laki-laki dalam menyikapi hidup apalagi di dunia pasar. Dan sebenarnya ketika mereka bersikap sabar, luwes dalam melayani para konsumen atau pembeli itu sudah merupakan kriteria dari feminim. Jadi makna feminin bagi mereka adalah bukan soal lembut atau tidaknya, sabar atau tidaknya melainkan tepat memposisikan diri mereka sebagai wanita pada waktu dan tempatnya.


[1] Irwan Abdullah,ed. Sangkan Paran Gender (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003). hlm. 199
[2] Ibid,. Hlm. 207-208
[3] Irwan Abdullah,ed. Sangkan Paran Gender (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003). hlm. 201
[4] Wawncara dengan Yani  (56 tahun) dan Jumiyati (51tahun) pada 21 Desember 2013, sama-sama pedagang buah dan sayuran di Pasar Gede Solo. Kemudian juga wawancara dengan Miyatun (62 tahun) dan Suprih (35 tahun) pada 21 Desember 2013, mereka sama-sama pedagang pakaian di Pasar Klewer Solo. Wawancara juga di lakukan dengan Sumi (55 tahun) dan Ngadiyem (65 tahun) pada 21 Desember 2013, mereka sama-sama pedagang tembakau di Pasar Legi Solo.
[5] Ibid,.
[6] Tulisannya mengenai wanita atau perempuan dalam rumah tangga (household) dan wanita pabrikan yaitu buruh pabrik rokok di Malang, Jawa Timur.
[7] Tulisannya mengenai politik seksualitas pada masa Orde Baru. Wanita dibentuk oleh negara sehingga terjadi semacam sub-ordinasi terhadap kaum perempuan.
[8] Tulisannya mengenai perdagangan sebagai suatu kosmologi dan kontruksi dunia wanita. Ia banyak membahas mengenai wanita dan perdagangan, pasar sebagai dunia simbolik wanita pedagang, wilayah kekuasaan dan hubungan sosial wanita pedagang di pasar, dan wanita pedangan dalam rumah tangganya.
[9] Tulisannya mengenai kesetaraan antara perempuan atau wanita dengan laki-laki. Walaupun secara fisik dilahirkan berbeda tetapi secara gender adalah setara.
[10] Tulisannya merupakan tinjauan ulang mengenai Kongres Perempuan pertama di Yogyakarta pada 22 Desember 1928.
[11] Gandarsih Mulyowaty Retno Santoso. Wanita Jawa dan Kemajuan Jaman (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Proyek Penelitian dan Pengkajian kebudayaan Nusantara, Bagian jawa, 1986).hlm. 56-57
[12] Saparinah sadli. Berbeda tetapi setara (Jakarta: Kompas, 1993).hlm. 197
[13] Mengenai gerakan emansipasi yang diprakarsai Kartini lihat pemaparan Darsiti Soeratman, Guru Besar Fakultas  Sastra UGM dalam pidatonya membuka kuliah Program Pasca sarjana tahun akademik 1991/1992 dengan judul “Wanita Indonesia: lampau, Kini dan Mendatang”.
[14] Susan Blackburn. Kongres Perempuan Pertama (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta, 2007).hlm. xxv

Tidak ada komentar:

Posting Komentar