Kata
orang profesi bakul lebih
mengandalkan bakat. Ada pula yang berpendapat tergantung minat. Dan ada pula
tergantung usaha asal mau belajar. Menurut saya semuanya saling mempengaruhi.
Kadang ada bakat tetapi tidak ada niat. Kadang ada niat tetapi tidak ada modal
dan tidak ada usaha. Jadi semua saling mempengaruhi. Pada intinya menjalani
profesi bakul tidaklah mudah. Butuh skill, keahlian, usaha, minat yang
semuanya harus dipadukan jika ingin berhasil. Profesi bakul merupakan salah
satu profesi yang menjanjikan. Terkadang tidak perlu modal asal jeli dan ulet
sudah bisa jalan. Hal itu telah dibuktikan oleh wanita-wanita pribumi yang
bergelut dalam bidang perbakulan di pasar-pasar tradisional di Surakarta. Di
Surakarta sendiri terdapat beberapa pasar tradisional seperti Pasar Gedhe,
Pasar Klewer, Pasar Gading, Pasar Nangka, Pasar Kembang, Pasar Triwindu, dan
beberapa pasar kecil lainnya.
Seiring
globalisasi yang ditunjang modernisasi tentu merubah banyak tatanan kehidupan.
Tidak hanya kaum laki-laki yang harus bekerja mencari nafkah untuk kebutuhan
rumah tangga melainkan juga wanita. Peran wanita sebagai penopang kebutuhan
rumah tangga kian terakui. Bahkan tidak jarang wanita menjadi tulang punggung
keluarga. Wanita-wanita bakul berasal dari berbagai macam wilayah baik
perkotaan maupun pedesaan. Hampir setiap hari atau dino pasaran (hari
pasaran ; pon, wage, kliwon, legi, pahing)
terrtentu mereka bakul di kios-kios
pasar menjajakan barang dagangannya. Di pagi hari akan dengan mudah kita jumpai
iring-iringan wanita bakul yang kesana-kemari mempersiapkan dagangannya.
Biasanya mereka kulak (belanja) atau kulakan (berbelanja) barang dagangan
hari itu juga yang nanti akan mereka jual kembali. Namun ada pula yang sudah
kulakan hari sebelumnya, hal itu tergantung dari jenis barang yang mereka jual.[1]
Proses
jual-beli yang merupakan fungsi dasar pasar menuntut kepiawaian seorang wanita
bakul. Mereka harus tanggap terhadap kesempatan. Rebutan pembeli atau pelanggan
adalah hal yang lumrah dalam dunia pasar. Jika tidak jeli dan lincah tidak
jarang mereka rugi. Namun sebaliknya bagi mereka yang ulet, sabar, pekerja
keras dan ditambah nasib mujur maka untung besar akan didapat. Untung-rugi merupakan hal yang lumrah dan
sudah dimaklumi oleh setiap bakul karena hal itu merupakan hukum alam di dunia
perdagangan di manapun tempatnya. Tidak jarang para bakul mempergunakan segalam
macam cara untuk bisa meyakinkan pembeli supaya mau membeli dagangannya.[2]
Dalam
dunia pasar, kita akan mudah menemukan istilah arisan maupun lotre. [3] Latar
belakang mengapa banyak bakul terutama wanita atau ibu-ibu yang ikut kegiatan arisan maupun lotre ini tentu berbeda-beda. Dalam tulisan ini saya akan lebih
banyak membahas mengenai arisan
karena memang lebih familiar ditemukan di hampir seluruh pasar-pasar di
Indonesia tidak hanya di Surakarta. Bagi sebagian wanita bakul, arisan menjadi ajang seorang bakul ingin
mengumpulkan hartanya karena bagi mereka ketika uang sering dipegang justru
tingkat pemborosan akan lebih tinggi. Sehingga mereka menganggap kegiatan
arisan menjadi salah satu cara menabung. Ada juga yang memanfaatkan arisan
sebagai modal. Karena jika seorang bakul mendapatkan undian di awal maka uang
hasil arisan tersebut dapat dipakai sebagai modal untuk kedepan. Alasan yang
ketiga adalah karena faktor gensi dan ikut-ikutan saja.[4]
Jika
kita menilik pada dua alasan yang pertama mengapa para bakul wanita khususnya
di Surakarta ingin mengikuti arisan sebenarnya hal itu relevan untuk menopang
kebutuhan rumah tangga. Bagi sebagian besar bakul wanita yang sudah berumah
tangga tentu memiliki kebutuhan-kebutuhan yang tidak terduga yang datang kapan
saja. Tradisi orang Jawa yang masih banyak acara-acara rituil seperti telung dinanan, pitung dinanan,
petangpuluhan, satusan, pendhak pisan, pendhak pindho, kondangan2, tirakatan,
sumbangan, tilik tangga, dsb.
membutuhkan biaya yang lumayan besar sehingga perlu adanya cadangan uang yang
lebih untuk tetap memenuhi semua itu demi harmonisnya kehidupan bermasyarakat. Untuk
itulah mereka menggunakan uang arisan
sebagai salah satu penopang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.[5]
Dalam
dunia pasar tradisional, memang citra perempuan sedikit lebih diunggulkan.
Secara kuantitas para bakul didominasi oleh para wanita. Hal itu sedikit
berbeda dengan pasar-pasar modern yang mana banyak dihuni oleh kaum laki-laki
dan perempuan yang jumlahnya hampir berimbang. Dalam dunia perbakulan apalagi
di pasar butuh suatu keberanian untuk menghadapi kerasnya dunia sosial. Tak
jarang antar bakul saling adu mulut, bertengkar bahkan berkelahi. Semua tentu
kembali pada urusan pendapatan yang muaranya adalah pemenuhan kebutuhan. Mereka
rela berpanas-panasan, berangkat petang, bersaing satu sama lain demi
mendapatkan keuntungan.
Analisis
Kritis
Sebenarnya
dalam kasus ini membahas mengenai dua hal sekaligus yang tidak dapat dipisahkan
yaitu wanita dalam karier dan wanita dalam rumah tangga. Keduanya saling
berkaitan. Wanita berprofesi sebagai bakul di pasar salah satu alasan
terbesarnya adalah untuk menopang kebutuhan rumah tangga. Mereka memiliki peran
ganda, di satu sisi harus mengurus keluarga atau urusan rumah dan di satu sisi
harus bekerja mencari nafkah. Dalam menganalisis kasus ini sedikit banyak kita
bisa menggunakan pemikiran-pemikiran Ratna Saptari[6], Saskia E. Wieringa [7],
Irwan
Abdullah[8], Saparinah
Sadli[9] dan Susan Blackburn.[10] Dan masih
ada beberapa tulisan lain sebagai rujukan untuk menganalisis kasus ini namun
tidak saya sebutkan semua di sini.
Profesi
wanita Jawa di Surakarta dalam menyelami dunia perbakulan (dagang) di pasar merupakan suatu wujud pemecahan mitos. Mengapa saya mengatakan demikian?
Karena mitos-mitos yang dibangun dan terbangun dalam masyarakat selama ini
cenderung “relatif memarginalkan” dan
hal itu pada perkembangannya berhasil dipatahkan oleh kaum perempuan. Menurut
Gandarsih Mulyowaty wanita Jawa pada umumnya masih bersifat sebagaimana
digambarkan dalam stereotip yang sudah-sudah yaitu nrima, pasrah, halus, sabar,
setia, bakti. Wanita setelah menikah sebaiknya tinggal dirumah, mengurus rumah
tangga, mengurus suami, dan mendidik anak[11]. Hal
itu juga sejalan dengan pendapat Saparinah bahwa wanita selama ini cenderung
diskriminasi. Hal itu bisa dirujuk pada GBHN (Garis Besar Haluan Negara) 1993
yang menyatakan bahwa secara politis wanita bertugas terhadap pendidikan dan
pengasuhan anak sedangkan laki-laki sebagai kepala rumah tangga pencari nafkah
utama. Perempuan didiskriminasi dalam hal pendidikan, pilihan jurusan, dan
pekerjaan. [12]
Melalui
perlajanan panjang yang salah satunya dibuktikan dengan terselengarakannya
Kongres Perempuan 1928 akhirnya wanita atau perempuan bisa seperti sekarang. Namun
secara lebih luas gerakan emansipasi Kartini sejauh ini lebih terlihat mengena
di mata publik. Kartini menuntut pendidikan bagi kaum perempuan dengan tujuan
mengangkat martabat kaum perempuan sejajar dengan laki-laki dan mampu
menggunakan hak-haknya supaya bisa hidup mandiri serta tidak lagi menyandang gelar “warga
negara kelas dua”.[13]
Mungkin
sekali kesadaran masyarakat di Surakarta akan konsep gender, kesetaraan,
emansipasi, feminisme dan sejenisnya itu mulai terbangun berkat Kartini dan terselenggaranya
Kongres Perempuan pertama di Yogyakarta 1928 sebagai salah satu penyebabnya.
Sebab pada waktu kongres tersebut sebagian besar dihadiri oleh
organisasi-organisasi perempuan dari Jawa dan secara khusus dari Solo juga
mengirimkan wakilnya sebanyak lima delegasi. Mereka adalah Aisjijah, Boedi
Wanito, Karti Wara, Santjaja Rini, dan Wanito Katholiek.[14]
Pada
masa Orde Baru dibawah kekuasan Soeharto yang notabene bersifat militer dan
otoriter, usaha wanita yang dirintis jauh-jauh hari seakan-akan terbentur dan
terhenti. Menurut Saskia E. Wieringa negara berperan besar dalam membentuk
perempuan. Perempuan dibentuk sedemikian rupa sehingga ruang geraknya terbatas.
Gerakan-gerakan perempuan sangat diawasi dan dikontrol oleh negara. Wanita
dijadikan sebagai salah satu alat pendukung legitimasi kekuasaan dan hal itu
terbukti mampu bercokol kurang lebih 32 tahun. Hingga pada akhirnya memasuki
era Reformasi yang mengedepankan kebebasan, keterbukaan, keadilan, dan demokrasi.
Wanita
secara perlahan-lahan mulai tampil ke publik. Dunia pergerakan wanita semakin
luas. Konsep gender dan kesetaraan menjadi semakin terangkat. Wanita dianggap
setara dengan laki-laki. Apa yang sebelumnya tidak boleh dikerjakan kaum
perempuan menjadi boleh. Salah satu bukti kongritnya adalah naiknya Megawati
Soekarno Putri sebagai presiden Indonesia. Dan dewasa ini secara kuantitas
maupun kualitas semakin banyak pula perempuan yang menempati kursi di parlemen.
Wanita banyak terjun di dunia bisnis, politik, ekonomi, budaya, kesehatan, dll.
Itu semua menunjukkan suatu perubahan yang signifikan setelah lengsernya
Soeharto.
Kembali
pada kasus wanita bakul di Surakarta, dipandang dari perspektif kesetaraan dan
gender maka dewasa ini rutinitas mereka menunjukkan bahwa wanita juga setara
dengan laki-laki. Mereka bisa menggantikan peran seorang kepala rumah tangga yang
pada kodratnya disandang oleh laki-laki yaitu ayah yang bertugas mencari nafkah
dan menghidupi keluarga. Karena pada prinsipnya, karier tidaklah berjenis
kelamin sehingga menjadi sah-sah saja baik bagi perempuan maupun laki-laki
untuk melakukannya. Mengenai konsep wanita dalam rumah tangga, maka para bakul
wanita yang sebagian besar waktunya dihabiskan di pasar tentu menjadi masalah
tersendiri dalam ranah kehidupan rumah tangga mereka. Mereka harus ekstra
membagi waktu untuk mengurusi anak-anak, keluarga, suami dan urusan rumah.
Sebelum atau sehabis dari pasar mereka biasa menyelesaikan pekerjaan mereka
sebagai ibu rumah tangga seperti mencuci piring, baju, bersih-bersih rumah,
menyiapkan sarapan, dll. Itu artinya bahwa sebenarnya wanita secara gender
memiliki sumbangsih yang besar dalam pembangunan baik lingkup rumah tangga
maupun lingkup negara. Hal-hal semacam itu merupakan realita simbol pergeseran sosial.
Profesi
mereka sebagai bakul disebabkan oleh beberapa faktor. Yang pertama adalah
tuntutan kebutuhan rumah tangga yang semakin tinggi dan komplek memaksa mereka
untuk turut membantu keluarga dalam memenuhi segala kebutuhan. Ini artinya
faktor ekstern lebih berpengaruh
yaitu karena faktor keadaan ekonomi. Faktor ekstern
lainnya adalah karena faktor ajakan dan terinspirasi oleh lingkungan sekitar
yang mayoritas berdagang. Pasar-pasar di Surakarta banyak dihuni oleh
bakul-bakul yang berasal dari komunitas atau desa yang sama. Dari yang awalnya
bekerja sebagai tani tulen, pabrikan, atau ibu rumah tangga yang belum pernah
terjun di dunia perdagangan akhirnya menjadi berhasrat untuk mengikuti jejak
tetangga-tetangga mereka yang sukses menjadi bakul. Pada awalnya mereka hanya
mencoba-coba, setelah merasakan dan menemukan kenyamanan akhirnya mereka
melanjutkan profesi tersebut.
Yang
kedua adalah karena mereka memang senang dengan kegiatan bakul (berdagang). Selain memiliki bakat dan minat yang ada pada
dalam diri mereka. Mereka tidak ingin menyia-nyiakan bakat mereka untuk
berwiraswasta. Bagi mereka profesi itu adalah luhur dan tidak merugikan orang
justru membantu menyediakan dan melayani kebutuhan orang. Suasana pasar yang
hiruk-pikuk, ramai dan menuntut untuk terus berkomunikasi antar sesama
menjadikan karakter tersendiri bagi mereka yang sudah terbiasa berdagang. Bagi
mereka berdagang adalah dunia yang menyenangkan. Bahkan jika para wanita bakuln
tersebut lama meninggalkan dunia bakul karena faktor tertentu, rasa kangen
untuk ke pasar dan berdagang selalu muncul.
Bagi
mereka setidaknya dunia pasar merepresentasikan dunia mereka, karena memberikan
kebebasan, keleluasaan, kelenturan sebagai seorang manusia layaknya laki-laki
yang selama ini diuntungkan dengan sistem patriarki dalam kehidupan sehari-hari.
Dunia pasar dianggap sebagai dunia yang berbeda dengan dunia sehari-hari. Dalam
perspektif wanita bakul di Surakarta, dunia sehari-hari sampai saat ini dalam
konteks tertentu pada hahekatnya masih banyak yang bersifat patriarki semisal
dalam kegiatan acara-acara kampung yang selalu menampilkan sosok laki-laki.
Untuk itulah para bakul ini mencari dunia mereka yang akhirnya ditemukan di
pasar. Mereka bisa mengekplor kepuasan yang dalam kehidupan sehari-hari merasa
terhalangi akan patriarkalisme yang telah membudaya.
Mengenai
kesetaraan, emansipasi, atau feminisme mereka menganggap bahwa profesi
berdagang lebih disebabkan karena faktor tuntutan dan kesenangan. Bagi mereka
kesetaraan tidak bisa terwujud di mana tempat dan waktu. Jika di rumah atau di
masyarakat tentu yang dimaksud dengan kesetaraan sejatinya belum terwujud.
Namun setidaknya hal-hal yang esensial dewasa ini telah mereka rasakan seperti
sekolah, kuliah, boleh mendirikan organisasi-organisasi perempuan di
kampung-kampung, boleh menyatakan pendapat walaupun terkadang kurang
diperhitungkan di mata kaum bapak-bapak atau laki-laki, dsb. Wanita atau
perempuan sekarang dalam hal pendidikan sudah dianggap setara, berbeda dengan
dahulu. Sekarang mereka boleh memilih jurusan apa saja yang sekiranya mereka
mampu. Melihat dan mendengar anak perempuan bisa sekolah ke jenjang perguruan
tinggi menjadi hal yang lumrah di mana-mana. Namun tidak jarang pula bahwa masih
ada sebagian masyarakat yang beranggapan bahwa perempuan tidak perlu sekolah
tinggi-tinggi toh pada akhirnya juga ikut suami dan menjadi ibu rumah tangga
yang tugasnya di rumah. Jadi intinya sebagian besar para bakul yang sudah
menajdi ibu rumah tangga sudah sadar akan pentingnya pendidikan bagi
putri-putri mereka, dan sebagian besar pula berpikir sebaliknya.
Mengenai
feminisme, wanita-wanita bakul di Surakarta tidak begitu mempersalahkan. Yang
menjadi penting bagi mereka adalah bagaimana menempatkan diri mereka dengan
tempat dan waktu. Kadang mereka harus bersifat tegas, keras, berlaku seperti
laki-laki dalam menyikapi hidup apalagi di dunia pasar. Dan sebenarnya ketika
mereka bersikap sabar, luwes dalam melayani para konsumen atau pembeli itu
sudah merupakan kriteria dari feminim. Jadi makna feminin bagi mereka adalah
bukan soal lembut atau tidaknya, sabar atau tidaknya melainkan tepat
memposisikan diri mereka sebagai wanita pada waktu dan tempatnya.
[1]
Irwan Abdullah,ed. Sangkan Paran Gender (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003).
hlm. 199
[2]
Ibid,. Hlm. 207-208
[3]
Irwan Abdullah,ed. Sangkan Paran Gender
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003). hlm. 201
[4]
Wawncara dengan Yani (56 tahun) dan
Jumiyati (51tahun) pada 21 Desember 2013, sama-sama pedagang buah dan sayuran
di Pasar Gede Solo. Kemudian juga wawancara dengan Miyatun (62 tahun) dan
Suprih (35 tahun) pada 21 Desember 2013, mereka sama-sama pedagang pakaian di
Pasar Klewer Solo. Wawancara juga di lakukan dengan Sumi (55 tahun) dan
Ngadiyem (65 tahun) pada 21 Desember 2013, mereka sama-sama pedagang tembakau
di Pasar Legi Solo.
[5]
Ibid,.
[6]
Tulisannya mengenai wanita atau perempuan dalam rumah tangga (household) dan
wanita pabrikan yaitu buruh pabrik rokok di Malang, Jawa Timur.
[7]
Tulisannya mengenai politik seksualitas pada masa Orde Baru. Wanita dibentuk
oleh negara sehingga terjadi semacam sub-ordinasi terhadap kaum perempuan.
[8]
Tulisannya mengenai perdagangan sebagai suatu kosmologi dan kontruksi dunia
wanita. Ia banyak membahas mengenai wanita dan perdagangan, pasar sebagai dunia
simbolik wanita pedagang, wilayah kekuasaan dan hubungan sosial wanita pedagang
di pasar, dan wanita pedangan dalam rumah tangganya.
[9]
Tulisannya mengenai kesetaraan antara perempuan atau wanita dengan laki-laki.
Walaupun secara fisik dilahirkan berbeda tetapi secara gender adalah setara.
[10]
Tulisannya merupakan tinjauan ulang mengenai Kongres Perempuan pertama di
Yogyakarta pada 22 Desember 1928.
[11]
Gandarsih Mulyowaty Retno Santoso. Wanita
Jawa dan Kemajuan Jaman (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Proyek
Penelitian dan Pengkajian kebudayaan Nusantara, Bagian jawa, 1986).hlm. 56-57
[12]
Saparinah sadli. Berbeda tetapi setara (Jakarta:
Kompas, 1993).hlm. 197
[13]
Mengenai gerakan emansipasi yang diprakarsai Kartini lihat pemaparan Darsiti
Soeratman, Guru Besar Fakultas Sastra
UGM dalam pidatonya membuka kuliah Program Pasca sarjana tahun akademik
1991/1992 dengan judul “Wanita Indonesia: lampau, Kini dan Mendatang”.
[14]
Susan Blackburn. Kongres Perempuan Pertama (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan
KITLV-Jakarta, 2007).hlm. xxv
Tidak ada komentar:
Posting Komentar