Sudah
bukan menjadi rahasia umum lagi Indonesia merupakan negara maritim. Disamping sebagai negara agraris Indonesia juga terkenal
sebagai negara maritim karena geografisnya yang didominasi oleh wilayah
perairan. Wilayah Indonesia terdiri dari beribu-ribu pulau, suku, etnis dan
budaya. Sebagai negara yang memiliki struktur wilayah perairan yang luas tentu
mendorong kepada suatu aktifitas yang bersumber dari atau di air. Dalam konteks
ini adalah perdagangan. Perdagangan menjadi opsi pertama mengapa orang-orang
dari berbagai belahan dunia mau mengembara ke negeri sebrang atau wilayah orang, tidak lain karena faktor keuntungan.
Untung menjadi tujuan utama kebanyakan orang. Untung di sini tentu dalam arti luas. Artinya tidak hanya materi
tetapi non-materi juga termasuk.
Jalur air berupa laut menjadi jalan utama
adanya relasi atau hubungan dengan masyarakat luar. Dengan terbangunnya jalur
perdagangan laut maka bermunculan pelabuhan-pelabuhan dan kota-kota dagang di
pesisir pantai di berbagai wilayah di Indonesia. Dunia perdagangan sudah ada
sejak ribuan tahun yang lalu ketika zaman Hindu-Budha (abad ke-1) bahkan saya berasumsi
sudah ada sejak zaman prasejarah (manusia
belum mengenal tulisan). Dalam sejarah kemaritiman, banyak kita temukan dunia
perdagangan dan pelabuhan semasa kejayaan kerajaan-kerajaan Hindhu-Budha maupun
Islam.
Hubungan
atau relasi dagang yang terjadi tidak hanya antar masyarakat lokal setempat
melainkan antara wilayah atau pulau dan skala internasional yaitu dengan para
pedagang (saudagar) Asing dari
berbagai belahan dunia. Hubungan yang awalnya terbentuk sebagai hubungan dagang
lama-kelamaan menjadi semakin kompleks dan variatif. Tidak hanya dalam urusan
berdagang saja melainkan sudah mulai merambah ke sektor-sektor lain.
Banyak
masyarakat (khususnya para pedagang/saudagar) dari luar yang mulai menetap dan
kemudian tinggal berbaur dengan masyarakat setempat atau tinggal berkelompok (komunitas) di daerah pesisir-pesisir di
sepanjang pantai-pantai di Indonesia seperti di pesisir Sumatera, Jawa,
Kalimantan, Sulawesi, dll. Tentu kita pernah mendengar Kampung Arab, Kampung
Eropa atau Kampung Cina. Kampung-kampung tersebut dihuni oleh komunitas sesuai
namanya. Jadi sebagian ada yang mau tinggal berbaur dengan masyarakat pribumi
setempat dan ada pula yang lebih suka tinggal bersama dengan orang-orang yang
sama asalnya (se-suku, se-etnis, se-agama atau se-negara) terbukti dengan
dibuatnya kampung komunitas mereka masing-masing.
Masyarakat
pesisir pantai berbeda dengan masyarakat di wilayah pedalaman. Masyarakat
pesisir secara struktruk dihuni oleh masyarakat yang heterogen yaitu beragam
suku, etnis, agama dan budaya. Sedangkan masyarakat pedalaman cenderung homogen
yaitu tunggal atau asli masyarakat setempat. Masyarakat pesisir pantai pada
umumnya lebih bersifat terbuka dengan pengaruh budaya luar. Hal itu
berkebalikan pula dengan masyarakat yang tinggal di wilayah pedalaman yang mana
pada umumnya lebih bersifat tertutup dan tidak suka menerima tamu luar. Masyarakat pesisir lebih menunjukkan modernitasnya.
Menurut
Heddy Shri Ahimsa-Putra bahwa masyarakat pedalaman atau desa pada umumnya
memiliki tingkat keeratan, kekeluargaan, kegotongroyongan lebih tinggi dari
pada masyarakat kota. Dalam konteks ini masyarakat pesisir masuk dalam kategori
masyarakat kota karena secara kriteria hampir sama. Menurutnya bahwa dalam
masyarakat pedalaman atau desa, kebanyakan masih bersifat saudara atau
menganggap saudara sehingga mereka masih mengenal satu sama lain dalam lingkup
masyarakatnya. Hal itu tampaknya berkebalikan dengan tipikal masyarakat kota
pesisir atau kota pada umumnya yang cenderung kurang mengenal satu sama lain. Sehingga
tingkat kegotongroyongannya pun juga jauh lebih rendah.
Sifat
masyarakat pesisir yang cenderung terbuka membawa pengaruh yang cukup besar
dalam perkembangannya. Banyak masyarakat dari luar baik luar pulau maupun luar
negeri yang kemudian datang untuk tujuan tertentu. Bagi mereka sifat atau
karakter terbuka tersebut menjadi peluang atau pintu masuk dalam mencapai
tujuan. Tujuan inilah yang menjadi penting untuk kita kaji secara lebih
mendalam.
Dalam
sejarah perkembangan masyarakat pesisir tentu pelabuhan menjadi suatu tempat
yang tidak dapat dipisahkan keberadaannya. Pengaruhnya begitu sangat terasa
bagi mereka yang tinggal dipesisir-pesisir pulau. Pelabuhan-pelabuhan menjadi
tempat yang paling utama dikunjungi oleh para pedagang dari berbagai penjuru
karena disitulah pangkal kegiatan (transaksi)
jual beli, tukar-menukar barang, maupun aktifitas lainnya dilakukan. Jika
dianalogikan maka pelabuhan adalah terminal dimana berbagai alat transportasi
darat keluar masuk. Pelabuhan-pelabuhan dalam sejarah Indonesia sudah ada sejak
masa kerajaan-kerajaan Hindu-Budha berdiri. Biasanya selain memiliki pelabuhan
dagang juga memiliki seperangkat armada laut yang kuat untuk mengarungi luasnya
lautan lepas dimana sewaktu-waktu dapat dibajak atau diserang kapal musuh.
Dalam
dinamika kehidupan masyarakat pesisir yang sudah saya jelaskan tersebut tentu
terjadi penetrasi-penetrasi. Penetrasi lahir karena masyarakat pesisir yang dinamis. Penetrasi adalah suatu penembusan,
penerobosan atau pecahnya suatu pengaruh ke dalam lingkungan tertentu. Secara
garis besar saya mengklasifikasikannya ke dalam tiga jenis penetrasi yaitu
penetrasi ekonomi, budaya dan agama.
Pertama
yang akan saya uraikan adalah penetrasi
ekonomi. Penetrasi ekonomi adalah masuknya pengaruh mengenai sistem
ekonomi. Masyarakat pesisir yang mayoritas bekerja sebagai pedagang atau
nelayan tentu tujuan utamanya adalah mencari keuntungan demi memenuhi segala
kebutuhan. Sistem-sistem dalam dunia ekonomi yang diperkenalkan oleh pedagang-pedagang
atau saudagar-saudagar dari luar (luar pulau atau luar negeri) yang datang
untuk bertransaksi. Hal itu bisa dengan cara disengaja maupun tidak disengaja
oleh para pelaku. Bagaiamana sistem modal dijalankan dalam suatu ranah
perdagangan, bagaiamana sistem mencari dan menarik konsumen, bagaimana sistem
penjualan dan pemasaran, bagaimana sistem mempertahankan kepercayaan terhadap
konsumen dan sebagainya. Semua berdasarkan hitungan ekonomi rugi-laba.
Pedagang-pedagang
dari Cina misalnya. Pedagang dari Cina terkenal akan keuletannya, kegigihannya,
dan tentu keberhasilannya. Tentu itu menjadi salah satu inspirasi. Tidak hanya
Cina, musyafir-musyafir dari Arab, Persia, Gujarat juga memberi pengaruh besar
bagaimana melaksanakan sistem perdagangan yang baik dan benar. Mereka datang
jauh-jauh tentu sudah dengan persiapan yang matang baik tujuan dagang maupun
tujuan yang lainnya.
Penetrasi
ekonomi dalam konteks ini lebih mengarah pada kapitalisme. Menurut Kuntowijoyo “kapitalisme” berarti paham
tentang kapital yaitu berkaitan erat perhitungan untung-rugi. Menggunakan modal
yang seminimal mungkin dengan harapan mendapatkan untung yang semaksimal
mungkin. Hal itu dapat kita lihat dari tulisan Tsuyoshi Kato dalam artikelnya
“Rantau Pariaman: Dunia Saudagar Pesisir Minangkabau Abad XIX”. Dalam
tulisannya ia menjelaskan bahwa dunia perdagangan di pesisir menjadi salah satu
daya tarik tersendiri bagi para saudagar karena sangat berpeluang untuk
mendapatkan untung yang besar. Hal itu tergantung pada usaha, relasi dan juga
modal. Dari tulisannya maka banyak kita pelajari bagaimana seorang pedagang
yang harus banyak belajar baik dari pedagang lokal (setempat) maupun pedagang
dari luar (manca). Banyak saudagar-saudagar besar datang dari luar. Dari
situlah para pedagang lokal banyak belajar mengenai sistem ekonomi. Tentu hal
itu tidak mutlak karena dalam hal berdagang siapa saja bisa belajar tidak hanya
di wilayah perairan tetapi juga dipedalaman yang sudah mengenal sistem ekonomi
(untung-rugi).
Akibat
interaksi sosial yang intens antar pedagang akhirnya sistem ekonomi kapitalis
dengan sengaja atau sendirinya menjadi “membumi putra”. Sistem ekonomi tersebut
turun-temurun terhadap anak cucu sebagai generasi selanjutnya. Pada umumnya
mata pencaharian masyarakat pesisir adalah turun temurun mewarisi orang tuanya
(genealogis). Bila sang ayah adalah
seorang pedagang atau nelayan maka anaknya juga akan berprofesi sama. Hal itu
tentu karena sejak kecil biasanya anak-anak mereka sudah diajarkan membantu
orang tua mencari nafkah. Bagaimana berdagang yang baik, menjadi nelayan yang
baik. Sehingga tidak heran jika di masyarakat pesisir banyak anak-anak kecil
yang sudah pandai berdagang. Mereka belajar dari apa yang mereka dapatkan dari
orang tua. Jadi selain faktor genealogis juga karena faktor pendidikan,
lingkungan dan kebiasaan.
Yang
kedua adalah penetrasi budaya.
Kebudayaan adalah hasil karya manusia baik berupa materi, gagasan, ide atau
tindakan yang semuanya itu bisa diperoleh melalui cara belajar. Artinya budaya
itu karena diajarkan. Sedangkan penerima budaya mau mempelajari dan akhirnya
melakukan. Penetrasi budaya dalam lingkungan masyarakat pesisir tentu banyak
sekali jenisnya. Budaya-budaya dari luar banyak yang dibawa masuk dan kemudian
bertemu dengan budaya setempat (culture
encounter).
Karena
sifat hidup masyarakat pesisir pantai yang cenderung sangat terbuka maka hal
itu merupakan celah yang sangat terbuka lebar bagi masuknya pengaruh-pengaruh
dari luar terutama dibawa oleh para pedagang atau nelayan asing. Misalnya saja
dalam hal musik. Banyak aliran-aliran musik dari luar seperti musik “keroncong”
dari Portugis yang kemudian diadopsi oleh masyarakat setempat di daerah
pesisir. Kemudian dalam hal bangunan. Banyak sekali bangunan-bangunan model
Eropa sejak abad ke-16 yaitu sejak masuknya Portugis ke nusantara.
Tidak
hanya itu dari kancah lokal pun juga saling mempengaruhi. Misalnya saja orang
Jawa yang bermigrasi kedaerah perantauan Sumatera khususnya daerah pesisir.
Secara sengaja tidak sengaja orang Jawa membawa budaya mereka ke sana. Kemudian
karena jumlah orang Jawa di sana semakin banyak maka kemudian mereka menjadi
mayoritas. Hal itu sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat pesisir yang sudah
ada sebelumnya. Secara lambat laun budaya-budaya Jawa tertentu mulai mereka
ikuti. Misalnya saja adalah bahasa.
Bahasa adalah salah satu alat komunikasi yang paling vital dalam kehidupan
sehari-hari. Dalam hal berdagang bahasa sangat penting dalam rangka tercapainya
suatu kesepakatan. Tidak hanya orang Jawa saja tetapi juga suku-suku lain
seperti Bugis Makasar, Suku Papua, Melayu Malaysia dan sebagainya. Jadi tidak
heran jika daerah pesisir apalagi yang statusnya adalah kota, tingkat penetrasi
budaya sangat tinggi. Sehingga masyarakat pesisir mampu menguasai beberapa
bahasa (bilingual) yang digunakan
sehari-hari khususnya berniaga.
Yang
ketiga adalah penetrasi agama
(kepercayaan). Penetrasi agama tentu menjadi hal yang lumrah karena hal itu
sudah ada sejak zaman Hindu-Budha masuk ke nusantara. Disamping berdagang
sebagaian para saudagar dari luar juga memiliki misi penyebaran agama (dakwah).
Misalnya saja masa Kerajaan Sriwijaya yang dijadikan sebagai pusat penyebaran
agama Budha di Asia Tenggara. Banyak pendeta-pendeta dari India yang datang ke
Sriwijaya setelah terbangunnya relasi atau jalan menuju Sriwijaya. Kemudian
para pedagang dari Arab, Gujarat dan Persia yang datang ke pesisir barat ataupun
utara Sumatera. Kemudian berdirilah kerajaan-kerajaan Islam seperti Samudera
Pasai, Kerajaan Aceh, Kerajaan Banten, Kerajaan Demak dan sebagainya. Kemudian
disusul oleh para misionaris-misionaris Eropa yang mulai menancapkan misisya (gospel) sejak sekitar abad ke-16 dan
ke-17. Baik zending maupun misionaris secara intens masuk ke nusantara setelah
relasi sudah terhubung. Bersama-sama mereka menyebarkan agama Kristen/Katholik
yang merupakan representasi agama orang-orang Eropa.
Penetrasi
agama dapat terjadi disebabkan karena banyak faktor. Ada faktor politik,
ekonomi maupun kepercayaan. Faktor
politik adalah bahwa sejak zaman kerajaan banyak para saudagar Islam atau
ulama yang menikahi puteri-puteri raja atau pembesar setempat. Karena dalam
sistem dunia kerajaan pada umumnya rakyat akan mengikuti agama sang raja maka ketika
rajanya sudah masuk Islam maka secara otomatis sebagian besar atau bahkan semua
rakyat juga akan turut masuk Islam. Namun hal ini tampaknya sudah tidak relevan
dengan dunia pesisir saat ini. Hal itu disebabkan karena memang zamannya sudah
berbeda yaitu bukan lagi sistem kerajaan. Dan adapun yang masih mempertahankan
sistem kerajaan namun kadar aturan dalam masyarakat sudah sangat kendur (tidak mengikat). Serta asas
negara Indonesia saat ini yaitu demokrasi. Masyarakat bebas menentukan pilihannya
sendiri sesuai keyakinan yang dianutnya. Jadi penguasa setempat tidak begitu
berpengaruh lagi dalam hal keterikatan menganut agama.
Faktor
selanjutnya adalah ekonomi. Bahwa
banyak gadis-gadis kampung pesisir yang secara ekonomi keluarganya kurang mampu
sehingga ketika ingin dipersunting atau dinikahi oleh para saudagar kaya baik
Islam, Hindu-Budha, Kristen maupun agama yang lain maka gadis tersebut akan mau
menerima pinangan itu. Pada umumnya saudagar-saudagar besar yang berhasil
mempengaruhi penduduk kampung pesisir adalah mereka yang memiliki reputasi tinggi baik dalam hal kekayaan
ataupun keimanan.
Faktor
yang ketiga adalah kepercayaan. Bahwa
masyarakat di pesisir mau berpindah agama atau meningkatkan agamanya yang sudah
ada karena faktor kepercayaan. Hal ini lebih menyangkut tingkat kesholehan. Hal itu berdasarkan ilham
yang diperoleh langsung dari Tuhan kepada setiap insan manusia. Mereka percaya
bahwa apa yang mereka anut adalah yang terbaik bagi mereka. Mereka percaya
bahwa agama yang mereka anut adalah yang mampu membawa mereka pada kebahagiaan,
ketentraman baik di dunia maupun di akhirat.
Di
lingkungan masyarakat pesisir tentu mudah untuk kita temukan masjid-masjid,
gereja-gereja, vihara-vihara atau tempat-tempat sembahyang. Keberagaman
tersebut ada karena sifat dinamika masyarakat pesisir itu sendiri yang terbuka
sehingga berbagai kepercayaan tumplak
bleg (berkumpul) dalam satu kawasan. Masing-masing difungsikan oleh para
penggunanya yaitu para pedagang atau saudagar-saudagar yang sedang bersinggah
atau mendarat setelah sekian hari mereka terapung di laut lepas.
Dari
sekian bentuk-bentuk penetrasi tersebut tentu kita harus mengetahui bagaimana
sejarahnya, bagaimana perkembanganya, bagaimana karakter masyarakatnya dan
sebagainya. Sifat masyarakat yang terbuka (non-isolasi)
secara otomatis membuka ruang atau celah bagi masyarakat luar. Terbukanya ruang
memberi kesempatan bagi siapa saja yang memiliki rencana untuk mencapai visi,
misi dan tujuannya. Ada yang berekspansi untuk berdagang, ada pula yang lebih
dari sekedar itu yaitu menyebarkan budaya serta menyebarkan kepercayaan (religi).
Penetrasi-penetrasi
terwujud akibat dua pihak yang saling mempengaruhi-dipengaruhi. Pertama sebagai
pihak yang melakukan atau memberi. Kedua sebagai pihak pasif yang menerima.
Tidak semua menerima tetapi setidaknya ketika mayoritas berkata sepakat untuk
menerima maka apa yang dinamakan penetrasi pasti akan terjadi bagaimanapun
prosesnya, sulit atau mudah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar