Minggu, 12 Januari 2014

Sejarah Masyarakat Pesisir (Trilogi Penetrasi : Ekonomi, Budaya dan Agama)

Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi Indonesia merupakan negara maritim. Disamping sebagai negara agraris Indonesia juga terkenal sebagai negara maritim karena geografisnya yang didominasi oleh wilayah perairan. Wilayah Indonesia terdiri dari beribu-ribu pulau, suku, etnis dan budaya. Sebagai negara yang memiliki struktur wilayah perairan yang luas tentu mendorong kepada suatu aktifitas yang bersumber dari atau di air. Dalam konteks ini adalah perdagangan. Perdagangan menjadi opsi pertama mengapa orang-orang dari berbagai belahan dunia mau mengembara ke negeri sebrang atau wilayah orang, tidak lain karena faktor keuntungan. Untung menjadi tujuan utama kebanyakan orang. Untung di sini tentu dalam arti luas. Artinya tidak hanya materi tetapi non-materi juga termasuk.
 Jalur air berupa laut menjadi jalan utama adanya relasi atau hubungan dengan masyarakat luar. Dengan terbangunnya jalur perdagangan laut maka bermunculan pelabuhan-pelabuhan dan kota-kota dagang di pesisir pantai di berbagai wilayah di Indonesia. Dunia perdagangan sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu ketika zaman Hindu-Budha (abad ke-1) bahkan saya berasumsi sudah ada sejak zaman prasejarah (manusia belum mengenal tulisan). Dalam sejarah kemaritiman, banyak kita temukan dunia perdagangan dan pelabuhan semasa kejayaan kerajaan-kerajaan Hindhu-Budha maupun Islam.
Hubungan atau relasi dagang yang terjadi tidak hanya antar masyarakat lokal setempat melainkan antara wilayah atau pulau dan skala internasional yaitu dengan para pedagang (saudagar) Asing dari berbagai belahan dunia. Hubungan yang awalnya terbentuk sebagai hubungan dagang lama-kelamaan menjadi semakin kompleks dan variatif. Tidak hanya dalam urusan berdagang saja melainkan sudah mulai merambah ke sektor-sektor lain.
Banyak masyarakat (khususnya para pedagang/saudagar) dari luar yang mulai menetap dan kemudian tinggal berbaur dengan masyarakat setempat atau tinggal berkelompok (komunitas) di daerah pesisir-pesisir di sepanjang pantai-pantai di Indonesia seperti di pesisir Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dll. Tentu kita pernah mendengar Kampung Arab, Kampung Eropa atau Kampung Cina. Kampung-kampung tersebut dihuni oleh komunitas sesuai namanya. Jadi sebagian ada yang mau tinggal berbaur dengan masyarakat pribumi setempat dan ada pula yang lebih suka tinggal bersama dengan orang-orang yang sama asalnya (se-suku, se-etnis, se-agama atau se-negara) terbukti dengan dibuatnya kampung komunitas mereka masing-masing.
Masyarakat pesisir pantai berbeda dengan masyarakat di wilayah pedalaman. Masyarakat pesisir secara struktruk dihuni oleh masyarakat yang heterogen yaitu beragam suku, etnis, agama dan budaya. Sedangkan masyarakat pedalaman cenderung homogen yaitu tunggal atau asli masyarakat setempat. Masyarakat pesisir pantai pada umumnya lebih bersifat terbuka dengan pengaruh budaya luar. Hal itu berkebalikan pula dengan masyarakat yang tinggal di wilayah pedalaman yang mana pada umumnya lebih bersifat tertutup dan tidak suka menerima tamu  luar. Masyarakat pesisir lebih menunjukkan modernitasnya.
Menurut Heddy Shri Ahimsa-Putra bahwa masyarakat pedalaman atau desa pada umumnya memiliki tingkat keeratan, kekeluargaan, kegotongroyongan lebih tinggi dari pada masyarakat kota. Dalam konteks ini masyarakat pesisir masuk dalam kategori masyarakat kota karena secara kriteria hampir sama. Menurutnya bahwa dalam masyarakat pedalaman atau desa, kebanyakan masih bersifat saudara atau menganggap saudara sehingga mereka masih mengenal satu sama lain dalam lingkup masyarakatnya. Hal itu tampaknya berkebalikan dengan tipikal masyarakat kota pesisir atau kota pada umumnya yang cenderung kurang mengenal satu sama lain. Sehingga tingkat kegotongroyongannya pun juga jauh lebih rendah.
Sifat masyarakat pesisir yang cenderung terbuka membawa pengaruh yang cukup besar dalam perkembangannya. Banyak masyarakat dari luar baik luar pulau maupun luar negeri yang kemudian datang untuk tujuan tertentu. Bagi mereka sifat atau karakter terbuka tersebut menjadi peluang atau pintu masuk dalam mencapai tujuan. Tujuan inilah yang menjadi penting untuk kita kaji secara lebih mendalam.
Dalam sejarah perkembangan masyarakat pesisir tentu pelabuhan menjadi suatu tempat yang tidak dapat dipisahkan keberadaannya. Pengaruhnya begitu sangat terasa bagi mereka yang tinggal dipesisir-pesisir pulau. Pelabuhan-pelabuhan menjadi tempat yang paling utama dikunjungi oleh para pedagang dari berbagai penjuru karena disitulah pangkal kegiatan (transaksi) jual beli, tukar-menukar barang, maupun aktifitas lainnya dilakukan. Jika dianalogikan maka pelabuhan adalah terminal dimana berbagai alat transportasi darat keluar masuk. Pelabuhan-pelabuhan dalam sejarah Indonesia sudah ada sejak masa kerajaan-kerajaan Hindu-Budha berdiri. Biasanya selain memiliki pelabuhan dagang juga memiliki seperangkat armada laut yang kuat untuk mengarungi luasnya lautan lepas dimana sewaktu-waktu dapat dibajak atau diserang kapal musuh.
Dalam dinamika kehidupan masyarakat pesisir yang sudah saya jelaskan tersebut tentu terjadi penetrasi-penetrasi. Penetrasi lahir karena masyarakat pesisir yang dinamis. Penetrasi adalah suatu penembusan, penerobosan atau pecahnya suatu pengaruh ke dalam lingkungan tertentu. Secara garis besar saya mengklasifikasikannya ke dalam tiga jenis penetrasi yaitu penetrasi ekonomi, budaya dan agama.
Pertama yang akan saya uraikan adalah penetrasi ekonomi. Penetrasi ekonomi adalah masuknya pengaruh mengenai sistem ekonomi. Masyarakat pesisir yang mayoritas bekerja sebagai pedagang atau nelayan tentu tujuan utamanya adalah mencari keuntungan demi memenuhi segala kebutuhan. Sistem-sistem dalam dunia ekonomi yang diperkenalkan oleh pedagang-pedagang atau saudagar-saudagar dari luar (luar pulau atau luar negeri) yang datang untuk bertransaksi. Hal itu bisa dengan cara disengaja maupun tidak disengaja oleh para pelaku. Bagaiamana sistem modal dijalankan dalam suatu ranah perdagangan, bagaiamana sistem mencari dan menarik konsumen, bagaimana sistem penjualan dan pemasaran, bagaimana sistem mempertahankan kepercayaan terhadap konsumen dan sebagainya. Semua berdasarkan hitungan ekonomi rugi-laba.
Pedagang-pedagang dari Cina misalnya. Pedagang dari Cina terkenal akan keuletannya, kegigihannya, dan tentu keberhasilannya. Tentu itu menjadi salah satu inspirasi. Tidak hanya Cina, musyafir-musyafir dari Arab, Persia, Gujarat juga memberi pengaruh besar bagaimana melaksanakan sistem perdagangan yang baik dan benar. Mereka datang jauh-jauh tentu sudah dengan persiapan yang matang baik tujuan dagang maupun tujuan yang lainnya.
Penetrasi ekonomi dalam konteks ini lebih mengarah pada kapitalisme. Menurut Kuntowijoyo “kapitalisme” berarti paham tentang kapital yaitu berkaitan erat perhitungan untung-rugi. Menggunakan modal yang seminimal mungkin dengan harapan mendapatkan untung yang semaksimal mungkin. Hal itu dapat kita lihat dari tulisan Tsuyoshi Kato dalam artikelnya “Rantau Pariaman: Dunia Saudagar Pesisir Minangkabau Abad XIX”. Dalam tulisannya ia menjelaskan bahwa dunia perdagangan di pesisir menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi para saudagar karena sangat berpeluang untuk mendapatkan untung yang besar. Hal itu tergantung pada usaha, relasi dan juga modal. Dari tulisannya maka banyak kita pelajari bagaimana seorang pedagang yang harus banyak belajar baik dari pedagang lokal (setempat) maupun pedagang dari luar (manca). Banyak saudagar-saudagar besar datang dari luar. Dari situlah para pedagang lokal banyak belajar mengenai sistem ekonomi. Tentu hal itu tidak mutlak karena dalam hal berdagang siapa saja bisa belajar tidak hanya di wilayah perairan tetapi juga dipedalaman yang sudah mengenal sistem ekonomi (untung-rugi).
Akibat interaksi sosial yang intens antar pedagang akhirnya sistem ekonomi kapitalis dengan sengaja atau sendirinya menjadi “membumi putra”. Sistem ekonomi tersebut turun-temurun terhadap anak cucu sebagai generasi selanjutnya. Pada umumnya mata pencaharian masyarakat pesisir adalah turun temurun mewarisi orang tuanya (genealogis). Bila sang ayah adalah seorang pedagang atau nelayan maka anaknya juga akan berprofesi sama. Hal itu tentu karena sejak kecil biasanya anak-anak mereka sudah diajarkan membantu orang tua mencari nafkah. Bagaimana berdagang yang baik, menjadi nelayan yang baik. Sehingga tidak heran jika di masyarakat pesisir banyak anak-anak kecil yang sudah pandai berdagang. Mereka belajar dari apa yang mereka dapatkan dari orang tua. Jadi selain faktor genealogis juga karena faktor pendidikan, lingkungan  dan kebiasaan.
Yang kedua adalah penetrasi budaya. Kebudayaan adalah hasil karya manusia baik berupa materi, gagasan, ide atau tindakan yang semuanya itu bisa diperoleh melalui cara belajar. Artinya budaya itu karena diajarkan. Sedangkan penerima budaya mau mempelajari dan akhirnya melakukan. Penetrasi budaya dalam lingkungan masyarakat pesisir tentu banyak sekali jenisnya. Budaya-budaya dari luar banyak yang dibawa masuk dan kemudian bertemu dengan budaya setempat (culture encounter).
Karena sifat hidup masyarakat pesisir pantai yang cenderung sangat terbuka maka hal itu merupakan celah yang sangat terbuka lebar bagi masuknya pengaruh-pengaruh dari luar terutama dibawa oleh para pedagang atau nelayan asing. Misalnya saja dalam hal musik. Banyak aliran-aliran musik dari luar seperti musik “keroncong” dari Portugis yang kemudian diadopsi oleh masyarakat setempat di daerah pesisir. Kemudian dalam hal bangunan. Banyak sekali bangunan-bangunan model Eropa sejak abad ke-16 yaitu sejak masuknya Portugis ke nusantara.
Tidak hanya itu dari kancah lokal pun juga saling mempengaruhi. Misalnya saja orang Jawa yang bermigrasi kedaerah perantauan Sumatera khususnya daerah pesisir. Secara sengaja tidak sengaja orang Jawa membawa budaya mereka ke sana. Kemudian karena jumlah orang Jawa di sana semakin banyak maka kemudian mereka menjadi mayoritas. Hal itu sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat pesisir yang sudah ada sebelumnya. Secara lambat laun budaya-budaya Jawa tertentu mulai mereka ikuti. Misalnya saja adalah bahasa. Bahasa adalah salah satu alat komunikasi yang paling vital dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal berdagang bahasa sangat penting dalam rangka tercapainya suatu kesepakatan. Tidak hanya orang Jawa saja tetapi juga suku-suku lain seperti Bugis Makasar, Suku Papua, Melayu Malaysia dan sebagainya. Jadi tidak heran jika daerah pesisir apalagi yang statusnya adalah kota, tingkat penetrasi budaya sangat tinggi. Sehingga masyarakat pesisir mampu menguasai beberapa bahasa (bilingual) yang digunakan sehari-hari khususnya berniaga.
Yang ketiga adalah penetrasi agama (kepercayaan). Penetrasi agama tentu menjadi hal yang lumrah karena hal itu sudah ada sejak zaman Hindu-Budha masuk ke nusantara. Disamping berdagang sebagaian para saudagar dari luar juga memiliki misi penyebaran agama (dakwah). Misalnya saja masa Kerajaan Sriwijaya yang dijadikan sebagai pusat penyebaran agama Budha di Asia Tenggara. Banyak pendeta-pendeta dari India yang datang ke Sriwijaya setelah terbangunnya relasi atau jalan menuju Sriwijaya. Kemudian para pedagang dari Arab, Gujarat dan Persia yang datang ke pesisir barat ataupun utara Sumatera. Kemudian berdirilah kerajaan-kerajaan Islam seperti Samudera Pasai, Kerajaan Aceh, Kerajaan Banten, Kerajaan Demak dan sebagainya. Kemudian disusul oleh para misionaris-misionaris Eropa yang mulai menancapkan misisya (gospel) sejak sekitar abad ke-16 dan ke-17. Baik zending maupun misionaris secara intens masuk ke nusantara setelah relasi sudah terhubung. Bersama-sama mereka menyebarkan agama Kristen/Katholik yang merupakan representasi agama orang-orang Eropa.
Penetrasi agama dapat terjadi disebabkan karena banyak faktor. Ada faktor politik, ekonomi maupun kepercayaan. Faktor politik adalah bahwa sejak zaman kerajaan banyak para saudagar Islam atau ulama yang menikahi puteri-puteri raja atau pembesar setempat. Karena dalam sistem dunia kerajaan pada umumnya rakyat akan mengikuti agama sang raja maka ketika rajanya sudah masuk Islam maka secara otomatis sebagian besar atau bahkan semua rakyat juga akan turut masuk Islam. Namun hal ini tampaknya sudah tidak relevan dengan dunia pesisir saat ini. Hal itu disebabkan karena memang zamannya sudah berbeda yaitu bukan lagi sistem kerajaan. Dan adapun yang masih mempertahankan sistem kerajaan namun kadar aturan dalam masyarakat sudah sangat kendur (tidak mengikat). Serta asas negara Indonesia saat ini yaitu demokrasi. Masyarakat bebas menentukan pilihannya sendiri sesuai keyakinan yang dianutnya. Jadi penguasa setempat tidak begitu berpengaruh lagi dalam hal keterikatan menganut agama.
Faktor selanjutnya adalah ekonomi. Bahwa banyak gadis-gadis kampung pesisir yang secara ekonomi keluarganya kurang mampu sehingga ketika ingin dipersunting atau dinikahi oleh para saudagar kaya baik Islam, Hindu-Budha, Kristen maupun agama yang lain maka gadis tersebut akan mau menerima pinangan itu. Pada umumnya saudagar-saudagar besar yang berhasil mempengaruhi penduduk kampung pesisir adalah mereka yang memiliki reputasi tinggi baik dalam hal kekayaan ataupun keimanan.
Faktor yang ketiga adalah kepercayaan. Bahwa masyarakat di pesisir mau berpindah agama atau meningkatkan agamanya yang sudah ada karena faktor kepercayaan. Hal ini lebih menyangkut tingkat kesholehan. Hal itu berdasarkan ilham yang diperoleh langsung dari Tuhan kepada setiap insan manusia. Mereka percaya bahwa apa yang mereka anut adalah yang terbaik bagi mereka. Mereka percaya bahwa agama yang mereka anut adalah yang mampu membawa mereka pada kebahagiaan, ketentraman baik di dunia maupun di akhirat.
Di lingkungan masyarakat pesisir tentu mudah untuk kita temukan masjid-masjid, gereja-gereja, vihara-vihara atau tempat-tempat sembahyang. Keberagaman tersebut ada karena sifat dinamika masyarakat pesisir itu sendiri yang terbuka sehingga berbagai kepercayaan tumplak bleg (berkumpul) dalam satu kawasan. Masing-masing difungsikan oleh para penggunanya yaitu para pedagang atau saudagar-saudagar yang sedang bersinggah atau mendarat setelah sekian hari mereka terapung di laut lepas.
Dari sekian bentuk-bentuk penetrasi tersebut tentu kita harus mengetahui bagaimana sejarahnya, bagaimana perkembanganya, bagaimana karakter masyarakatnya dan sebagainya. Sifat masyarakat yang terbuka (non-isolasi) secara otomatis membuka ruang atau celah bagi masyarakat luar. Terbukanya ruang memberi kesempatan bagi siapa saja yang memiliki rencana untuk mencapai visi, misi dan tujuannya. Ada yang berekspansi untuk berdagang, ada pula yang lebih dari sekedar itu yaitu menyebarkan budaya serta menyebarkan kepercayaan (religi).
Penetrasi-penetrasi terwujud akibat dua pihak yang saling mempengaruhi-dipengaruhi. Pertama sebagai pihak yang melakukan atau memberi. Kedua sebagai pihak pasif yang menerima. Tidak semua menerima tetapi setidaknya ketika mayoritas berkata sepakat untuk menerima maka apa yang dinamakan penetrasi pasti akan terjadi bagaimanapun prosesnya, sulit atau  mudah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar