Minggu, 12 Januari 2014

Kongres Perempuan Pertama

Kongres Perempuan pertama kali dilaksanakan pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta, tidak berselang lama setelah berlangsungnya Kongres Pemuda (Sumpah Pemuda) 28 Oktober 1928. Ada hal-hal menarik dari kongres tersebut. Pertama, mengenai masalah latar belakang mengapa kongres itu ada. Bahwa kongres tersebut terlaksana dikarenakan atas beberapa faktor. Salah satu faktor penyebabnya adalah ilham dari Kongres Pemuda tanggal 28 Oktober yang berlangsung beberapa bulan sebelumnya. Kongres Pemuda dianggap sebagai suatu moment untuk bangkit, bersatu dan membentuk suatu identitas nasional. Dalam konteks ini, perempuan Indonesia juga ingin membentuk identitasnya sebagai seorang perempuan yang bisa terlihat layaknya seorang laki-laki. Faktor lainnya adalah sudah menjamurnya organisasi-organisasi perempuan terutama di Jawa. Bahkan organisasi-organisasi perempuan sudah mulai terbentuk sejak tahun 1912 tidak terpaut lama dengan organisasi-organisasi yang notabene adalah organisasi laki-laki seperti Budi Utomo dan Sarikat Islam atau pun yang lainnya yang merupakan organisasi yang paling awal lahir dalam masa gerakan nasionalisme. Sebagai sebuah organisasi perempuan yang tumbuh di berbagai wilayah di nusantara tentu pasca Kongres Pemuda menjadi lebih hidup dan percaya diri.
Kedua, mengenai jalannya kongres perempuan itu sendiri. Kongres tersebut merupakan suatu momentum yang bersejarah di tanah pribumi ini. Lahirnya Hari Ibu tanggal 22 Desember yang kemudian setelah 1950 ditetapkan sebagai Hari Besar Nasional menunjukkan bahwa pengaruh dari kongres pertama ini adalah besar. Kongres Perempuan 1928 merupakan suatu bentuk gerakan perempuan pertama di nusantara pada zaman kolonial. Hal itu bisa juga dimaksudkan sebagai wujud untuk menunjukkan eksistensi jati diri seorang perempuan di mata kolonial. Adapun mengenai jalannya kongres, bisa dilihat dalam laporan arsip bahwa dihadiri oleh sekian banyak orang (sekitar 1000 partisipan) dalam acara resepsi pembukaannya. Dari hal itu saja sudah menunjukkan bahwa antusianisme kala itu sudah besar. Suatu keantusiasan tentu ada suatu hal yang melatarbelakanginya. Dalam hal ini keantusiasan partisipan merupakan suatu bentuk akumulasi perasaan emosional para perempuan Indonesia yang telah ada sejak lama. Dikatakan sejak lama karena didasarkan atas mayoritas kultur nusantara yang mengedepankan sosok para laki-laki dalam berbagai bidang realitas kehidupan. Artinya bahwa para perempuan juga ingin menunjukkan baik di tanah sendiri maupun di kancah internasional bahwa mereka juga perlu diperhitungkan secara gender dalam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks ini dapat diasumsikan pula bahwa akumulasi emosial perempuan di Indonesia kala itu merupakan suatu perasaan yang sama (senasip dan sepenanggungan) yaitu sama-sama dibawah dominasi dan eksistensi kaum laki-laki.
Ketiga, mengenai keanggotaan atau partisipan Kongres Perempuan Pertama. Dapat dilihat bahwa sebagian besar delegasi yang hadir berasal dari organisasi di Jawa. Lagi-lagi tanpa disadari dan disengaja, Jawaisme atau Jawasentris kala itu telah muncul. Sebenarnya kalau membicarakan mengenai konsep Jawaisme atau pun Jawasentris tentu memiliki banyak sekali pengaruhnya. Beberapa diantaranya adalah faktor historis semisal kejayaan masa lampau akan kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit, Mataram, dsb. Kemudian faktor perkembangan kota yang sampai awal abad-20 Belanda sengaja membangun Jawa sebagai pusat perkembangan dalam banyak bidang (industri, perdagangan, pemerintahan, pendidikan, dll). Kesemuanya tersebut akhirnya membuat pulau Jawa sebagai pulau yang paling strategis dari segala aspek kehidupan. Dan hal ini pula yang menimbulkan banyak masalah di kemudian hari. Adanya identifikasi atas kecemburuan sosial masyarakat di luar Jawa.
Kembali pada partisipan tadi, bahwa secara tidak sadar mayoritas perwakilannya merupakan organisasi di Jawa. Yang menarik adalah ketika mereka semua telah memiliki rasa kebangsaan. Artinya bahwa mereka tidak merasa sebagai orang Jawa ketika berada dalam situasi kongres melainkan merasa sebagai masyarakat bangsa Indonesia. Jika dilihat dari berbagai pertujukan yang disuguhkan selama kongres berlangsung memang sebagian besar masih berbau Jawa, tetapi hal itu disebabkan karena partisipasinya sendiri masih banyak dari Jawa sehingga yang dari luar sangat minim. Tetapi setidaknya jika berbicara masalah “rasa nasionalisme” yang tersimpan dalam hati mereka, tentu berdasarkan laporan yang ada, telah memiliki kebulatan jiwa nasionalisme tanpa mempersoalkan Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, atau lainnya. Hal itu sekaligus mempertegas kembali apa yang telah dicita-citakan dalam Kongres Pemuda yaitu tentang nation (bangsa).
Keempat, mengenai isi kongres atau apa yang menjadi topik bahasan. Berdasarkan atas topik-topik pidato yang disampaikan dalam Kongres Perempuan Pertama 1928 bahwa setidaknya ada tiga poin penting yang diperjuangkan oleh kaum perempuan kala itu. Ketiganya yaitu kedudukan perempuan dalam lingkup keluarga (rumah tangga), lingkup sosial masyarakat, dan lingkup nasional. Berarti secara langsung maupun tidak langsung, tujuan kongres tersebut telah menyangkut konsep gender dan kesetaraan. Mereka ingin merumuskan bagaimana seharusnya seorang kaum perempuan hidup dalam masyarakat. Bagaimana kedudukannya, seperti apa tugas dan kewajibannya dan apa saja hak-haknya sebagai seorang perempuan. Mereka juga membandingkan dengan keadaan perempuan di luar (Eropa). Hal itu menjadi sinkron ketika dihubungkan dengan sejarah masuknya emansipasi yang di pelopori oleh R.A. Kartini yang notabene Kartini sendiri juga terpengaruh oleh perpektif atau cara pandang dari luar ketika memandang kaum perempuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar