Kongres
Perempuan pertama kali dilaksanakan pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta, tidak
berselang lama setelah berlangsungnya Kongres Pemuda (Sumpah Pemuda) 28 Oktober
1928. Ada hal-hal menarik dari kongres tersebut. Pertama, mengenai masalah latar belakang mengapa kongres itu ada. Bahwa
kongres tersebut terlaksana dikarenakan atas beberapa faktor. Salah satu faktor
penyebabnya adalah ilham dari Kongres Pemuda tanggal 28 Oktober yang
berlangsung beberapa bulan sebelumnya. Kongres Pemuda dianggap sebagai suatu
moment untuk bangkit, bersatu dan membentuk suatu identitas nasional. Dalam konteks ini, perempuan Indonesia juga
ingin membentuk identitasnya sebagai seorang perempuan yang bisa terlihat
layaknya seorang laki-laki. Faktor lainnya adalah sudah menjamurnya
organisasi-organisasi perempuan terutama di Jawa. Bahkan organisasi-organisasi
perempuan sudah mulai terbentuk sejak tahun 1912 tidak terpaut lama dengan
organisasi-organisasi yang notabene adalah organisasi laki-laki seperti Budi
Utomo dan Sarikat Islam atau pun yang lainnya yang merupakan organisasi yang
paling awal lahir dalam masa gerakan nasionalisme. Sebagai sebuah organisasi
perempuan yang tumbuh di berbagai wilayah di nusantara tentu pasca Kongres
Pemuda menjadi lebih hidup dan percaya diri.
Kedua,
mengenai jalannya kongres perempuan itu sendiri. Kongres tersebut merupakan
suatu momentum yang bersejarah di tanah pribumi ini. Lahirnya Hari Ibu tanggal
22 Desember yang kemudian setelah 1950 ditetapkan sebagai Hari Besar Nasional
menunjukkan bahwa pengaruh dari kongres pertama ini adalah besar. Kongres
Perempuan 1928 merupakan suatu bentuk gerakan perempuan pertama di nusantara
pada zaman kolonial. Hal itu bisa juga dimaksudkan sebagai wujud untuk
menunjukkan eksistensi jati diri seorang perempuan di mata kolonial. Adapun mengenai
jalannya kongres, bisa dilihat dalam laporan arsip bahwa dihadiri oleh sekian
banyak orang (sekitar 1000 partisipan) dalam acara resepsi pembukaannya. Dari
hal itu saja sudah menunjukkan bahwa antusianisme
kala itu sudah besar. Suatu keantusiasan tentu ada suatu hal yang
melatarbelakanginya. Dalam hal ini keantusiasan partisipan merupakan suatu
bentuk akumulasi perasaan emosional
para perempuan Indonesia yang telah ada sejak lama. Dikatakan sejak lama karena
didasarkan atas mayoritas kultur nusantara yang mengedepankan sosok para
laki-laki dalam berbagai bidang realitas kehidupan. Artinya bahwa para
perempuan juga ingin menunjukkan baik di tanah sendiri maupun di kancah
internasional bahwa mereka juga perlu diperhitungkan secara gender dalam sendi-sendi
kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks ini dapat diasumsikan pula bahwa
akumulasi emosial perempuan di Indonesia kala itu merupakan suatu perasaan yang
sama (senasip dan sepenanggungan) yaitu sama-sama dibawah dominasi dan
eksistensi kaum laki-laki.
Ketiga,
mengenai keanggotaan atau partisipan Kongres Perempuan Pertama. Dapat dilihat
bahwa sebagian besar delegasi yang hadir berasal dari organisasi di Jawa.
Lagi-lagi tanpa disadari dan disengaja, Jawaisme
atau Jawasentris kala itu telah
muncul. Sebenarnya kalau membicarakan mengenai konsep Jawaisme atau pun
Jawasentris tentu memiliki banyak sekali pengaruhnya. Beberapa diantaranya
adalah faktor historis semisal kejayaan masa lampau akan kerajaan-kerajaan
besar seperti Majapahit, Mataram, dsb. Kemudian faktor perkembangan kota yang
sampai awal abad-20 Belanda sengaja membangun Jawa sebagai pusat perkembangan
dalam banyak bidang (industri, perdagangan, pemerintahan, pendidikan, dll).
Kesemuanya tersebut akhirnya membuat pulau Jawa sebagai pulau yang paling
strategis dari segala aspek kehidupan. Dan hal ini pula yang menimbulkan banyak
masalah di kemudian hari. Adanya identifikasi atas kecemburuan sosial
masyarakat di luar Jawa.
Kembali
pada partisipan tadi, bahwa secara tidak sadar mayoritas perwakilannya
merupakan organisasi di Jawa. Yang menarik adalah ketika mereka semua telah
memiliki rasa kebangsaan. Artinya bahwa mereka tidak merasa sebagai orang Jawa
ketika berada dalam situasi kongres melainkan merasa sebagai masyarakat bangsa
Indonesia. Jika dilihat dari berbagai pertujukan yang disuguhkan selama kongres
berlangsung memang sebagian besar masih berbau Jawa, tetapi hal itu disebabkan karena
partisipasinya sendiri masih banyak dari Jawa sehingga yang dari luar sangat
minim. Tetapi setidaknya jika berbicara masalah “rasa nasionalisme” yang
tersimpan dalam hati mereka, tentu berdasarkan laporan yang ada, telah memiliki
kebulatan jiwa nasionalisme tanpa mempersoalkan Jawa, Sumatra, Kalimantan,
Sulawesi, atau lainnya. Hal itu sekaligus mempertegas kembali apa yang telah
dicita-citakan dalam Kongres Pemuda yaitu tentang nation (bangsa).
Keempat,
mengenai isi kongres atau apa yang menjadi topik bahasan. Berdasarkan atas
topik-topik pidato yang disampaikan dalam Kongres Perempuan Pertama 1928 bahwa
setidaknya ada tiga poin penting yang diperjuangkan oleh kaum perempuan kala
itu. Ketiganya yaitu kedudukan perempuan dalam lingkup keluarga (rumah tangga),
lingkup sosial masyarakat, dan lingkup nasional. Berarti secara langsung maupun
tidak langsung, tujuan kongres tersebut telah menyangkut konsep gender dan kesetaraan. Mereka ingin merumuskan bagaimana seharusnya seorang
kaum perempuan hidup dalam masyarakat. Bagaimana kedudukannya, seperti apa
tugas dan kewajibannya dan apa saja hak-haknya sebagai seorang perempuan.
Mereka juga membandingkan dengan keadaan perempuan di luar (Eropa). Hal itu
menjadi sinkron ketika dihubungkan dengan sejarah masuknya emansipasi yang di
pelopori oleh R.A. Kartini yang notabene Kartini sendiri juga terpengaruh oleh
perpektif atau cara pandang dari luar ketika memandang kaum perempuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar