Konsep
Dominasi
Tulisan
David B. Abernethy dalam bukunya The
Dinamics of Global Dominance khususnya chapter 1 yang membahas tentang Ceuta, Bajador, and Beyond: Europeans on the
Move, pada intinya berbicara mengenai beberapa negara tertentu yang mampu
mendominasi negara-negara lain hampir di seluruh belahan dunia. Disebutkan
bahwa per Januari tahun 2000, setidaknya terdapat 188 negara berdaulat di
dunia. Dan 125 negara berasal dari luar Eropa. Yang menarik adalah 125 negara
tersebut semuanya sama-sama pernah mengalami penjajahan kolonial bangsa atau
negara imperalis Eropa. Mereka sama-sama pernah merasakan dijajah oleh kolonial
Eropa. Dari 125 negara non-Eropa tersebut sebagian besar dari bumi belahan
selatan. Penyebutan bumi bagian selatan dikarenakan orang yang pertama kali
membuat maping atau peta bumi (globe) adalah orang Eropa sendiri yang
membagi bumi menjadi dua kutup yaitu Kutub
Utara dan Kutub Selatan. Kemudian
bumi dibagi garis tengah yang disebut Garis Khatulistiwa sehingga muncul konsep
utara-selatan dan barat-timur. Hal itu juga yang kemudian menimbulkan konsep Dunia Ketiga (dunia yang gelap, dunia
buatan) yang secara mayoritas berada di wilayah bumi bagian selatan.
Negara-negara Eropa seperti Portugis, Inggris, Perancis, Spanyol, Belanda,
Jerman dianggap sebagai negara-negara penguasa, kolnial atau imperialis.
Sedangkan negara-negara di Asia, Afrika dianggap sebagai Dunia Ketiga.
Selanjutnya
merujuk tulisan David B dalam chapter satu tersebut saya akan berusaha
menampilkan beberapa fakta-fakta baik secara empiris maupun konseptual mengenai
bentuk-bentuk dominasi negara-negara Eropa tersebut. Bahwa penguasaan
negara-negara Eropa atas negara-negara di bumi bagian selatan sudah berlangsung
sejak abad ke-16. Perlu diketahui bahwa tingkat imperialisme yang dirasakan
masing-masing negara jajahan berbeda karena perbedaan negara imperial yang
menguasai dan lama rentan waktu penjajahan. Ada yang sampai berabad-abad,
berpuluh-puluh tahun atau beberapa tahun saja. Misalkan saja VOC pernah
menguasai China, Jepang tetapi tidak begitu lama dan kurang berhasil. Kemudian
VOC dan Belanda yang pernah bercokol di Indonesia selama berpuluh-puluh tahun
bahkan berabad-abad. Dan bahkan hampir seluruh wilayah Asia Tenggara pernah
dijajah bangsa Barat. Kemudian di negara-negara Afrika dan Asia lainnya.
Berbagai eksploitasi dan monopoli telah terjadi di masa lalu utamanya dalam
bentuk empiris.
Penggunaan
Perspektif
Penggunaan
perpektif atau cara pandang akan sangat mempengaruhi cara berfikir dan menilai
sesuatu. Sehingga penggunaan bermacam-macam perspektif akan menghasilkan
memacam-macam hasil yang berbeda, dan dalam konteks ini adalah tulisan sejarah
yang beragam. Penggunaan perspektif dalam kasus ini berkaitan erat apakah
diambil dari kaca mata Barat (Eropa) atau kaca mata Timur khususnya negara-negara
bumi bagian selatan. Tentu akan menghasilkan tulisan yang kontradiktif.
Bagi
Barat apa yang mereka lakukan bukanlah suatu bentuk imperialisme melainkan misi
memperadabkan. Hal itu jelas terdapat dalam banyak tulisan karya orang-orang
Eropa. Mereka menganggap bahwa orang-orang di luar Eropa belumlah beradab kala
itu sehingga ada misi peradaban yaitu memperadabkan bangsa-bangsa di luar sana.
Secara otomatis jelas itu menunjukkan bahwa orang-orang Eropa memiliki derajat
yang lebih tinggi dan hal itu dianggapnya sebagai sebuah takdir dari awal
lahirnya kehidupan.
Namun
itu akan berbeda cerita ketika menggunakan perspektif Timur atau negara-negara
terjajah. Apa yang dilakukan oleh orang-orang Eropa di masa lalu bahkan sampai
sekarang adalah sebagai bentuk imperialisme baik secara fisik maupun
konseptual. Mereka telah menjajah bangsa-bangsa Timur, mengeksploitasi,
memonopoli, mendominasi dan sejenisnya dan hal itu secara jelas membawa dampak
dan pengaruh besar. Mereka merasa banyak dirugikan akibat sistem-sistem yang
diberlakukan katika menjajah. SDA dan SDM mereka dianggap telah dirampas dan
dimanfaatkan.
Sebenarnya
jika kita menggunakan perspektif lain yang lebih netral berdasarkan atas
fakta-fakta yang ada maka akan kembali melahirkan cerita yang berbeda. Bahwa
sebenarnya apa yang terjadi terkadang tidak seperti yang telah banyak
dituliskan dalam sejarah masa lalu. Tulisan sejarah yang hanya berbicara secara
sepihak semisal pihak penjajah Eropa selalu memberi dampak yang buruk karena
tidak pernah memberikan bantuan kepada pribumi. Namun sebenarnya berbagai kerja
sama yang dilakukan oleh beberapa elite pribumi dengan pihak pemerintah Eropa
merupakan realita yang berbeda. Misalnya saja banyak elite pribumi yang kala
terjadi permasalahan intrik dalam kerajaan sendiri kemudian meminta bantuan
kepada pihak Belanda. Hal itu merupakan suatu bentuk kerja sama yang saling
menguntungkan antar keduanya. Paku Buwono II minta bantuan VOC untuk mengusir
pemberontakan China, Amangkurat I minta bantuan VOC untuk mengusir
pemberontakan Trunojoyo, Paku Buwono III minta bantuan VOC untuk melawan Mas
Said (Mangkunegara I), dan lain sebagainya.
Dominasi
Global
Dominasi
global adalah suatu bentuk penguasaan terhadap sesuatu yang lingkupnya dunia.
Mengapa terjadi pendominasian global? Tentu ada langkah-langkah tertentu baik
dalam rentetan waktu yang singkat, lama dan continues.
Itu sebabnya mengapa dalam tulisan David B. Ada tulisan “Europeans on the
Move”. Eropa terus bergerak dalam rangka mencapai cita-cita besarnya (konsep empires). Meskipun dewasa ini
merupakan generasi penerus keturunan yang keberapa dari para leluhur pendiri
bangsanya, namun cita-cita, visi, misi dan tujuan raya bangsa-bangsa Eropa
tetap terus diemban dan dilaksanakan.
Jika
dilihat dari sejarahnya, mengenai bidang ekonomi tentu berkaitan erat dengan
Revolusi Industri dan Revolusi Perancis. Kedua revolusi tersebut memiliki
dampak dan pengaruh yang sebenarnya sampai sekarang masih ada. Tumbuhnya jiwa
kapitalisme dan liberalisme kini kian mengglobal diseluruh negara di dunia. Hal
tersebut ditunjang dengan penggunaan bahasa
Inggris sebagai bahasa internasional yang mana secara jelas itu membuktikan
bahwa Barat khususnya Inggris memiliki tempat khusus dalam skala internasional.
Sekitar 700 juta orang di luar Eropa menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan
sehari-hari. Misi agama (gospel) yang
sejak dahulu dijalankan juga turut mempengaruhi pembentukan dominasi global
oleh Eropa. Tidak lupa ketinggalan adalah mengenai ilmu. Bahwa sampai sejauh
ini Eropa masih menjadi kiblat terkait hal-hal akademis. Berbagai teori dan
konsep kurang menjadi mantab ketika belum menggunakan dari Eropa khususnya
Inggris, Perancis dan Amerika Serikat. Eropa juga melakukan klaim atas
wilayah-wilayah teritorial di berbagai benua. Misalkan saja New Zealand,
kemudian Benua Amerika yang diklaim penemuan Christoper Colombus, negara
Kamerun, Nigeria dan lain sebagainya. Banyak negara dan kota-kota yang
didirikan berdasarkan dengan nama-nama agama Kristen atau tokoh penemu
(ekspansionis atau eksploitais). Klaim-klaim inilah yang turut memperkuat citra
global dominace bangsa Eropa terutama
secara geografi teritorial.
Konsep
negara dominan adalah mengkalim hak otoritas terhadap negara-negara yang lemah.
Negara-negara lemah sangat sulit diakui sebagai negara yang berdaulat oleh para
negara yang dominan. Harus melalui tahap panjang dan rumit bagi negara-negara
lemah untuk menjadi negara berdaulat. Salah satunya adalah setelah merasakan
penjajahan atau imperialisme kolonialisme. Ini sejalan dengan konsep Eropa yang
dianggapnya sebagai misi peradaban.
Dengan
kata lain bahwa semakin majunya zaman seperti sekarang ini, tentu membutuhkan
perspektif yang komplit. Bagaimana menempatkan posisi diri sendiri (negara kita
masing-masing) dalam kancah internasional. Bagaimana kita memutuskan apakah
akan terjun atau tidak ke ranah intenasional. Bagaimana kita bersikap isolasi
atau sebaliknya dalam hal-hal tertentu. Bagaimana kita memikirkan
ketergantungan terhadap bangsa-bangsa lain. Apakah selamanya kita akan menutup
diri, atau justru selamanya kita terlalu terbuka dan tergantung dengan luar?
Semua perlu penggunaan perspektif yang luas dan holistik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar