Minggu, 12 Januari 2014

The Dinamics of Global Dominance

Konsep Dominasi
Tulisan David B. Abernethy dalam bukunya The Dinamics of Global Dominance khususnya chapter 1 yang membahas tentang Ceuta, Bajador, and Beyond: Europeans on the Move, pada intinya berbicara mengenai beberapa negara tertentu yang mampu mendominasi negara-negara lain hampir di seluruh belahan dunia. Disebutkan bahwa per Januari tahun 2000, setidaknya terdapat 188 negara berdaulat di dunia. Dan 125 negara berasal dari luar Eropa. Yang menarik adalah 125 negara tersebut semuanya sama-sama pernah mengalami penjajahan kolonial bangsa atau negara imperalis Eropa. Mereka sama-sama pernah merasakan dijajah oleh kolonial Eropa. Dari 125 negara non-Eropa tersebut sebagian besar dari bumi belahan selatan. Penyebutan bumi bagian selatan dikarenakan orang yang pertama kali membuat maping atau peta bumi (globe) adalah orang Eropa sendiri yang membagi bumi menjadi dua kutup yaitu Kutub Utara dan Kutub Selatan. Kemudian bumi dibagi garis tengah yang disebut Garis Khatulistiwa sehingga muncul konsep utara-selatan dan barat-timur. Hal itu juga yang kemudian menimbulkan konsep Dunia Ketiga (dunia yang gelap, dunia buatan) yang secara mayoritas berada di wilayah bumi bagian selatan. Negara-negara Eropa seperti Portugis, Inggris, Perancis, Spanyol, Belanda, Jerman dianggap sebagai negara-negara penguasa, kolnial atau imperialis. Sedangkan negara-negara di Asia, Afrika dianggap sebagai Dunia Ketiga.
Selanjutnya merujuk tulisan David B dalam chapter satu tersebut saya akan berusaha menampilkan beberapa fakta-fakta baik secara empiris maupun konseptual mengenai bentuk-bentuk dominasi negara-negara Eropa tersebut. Bahwa penguasaan negara-negara Eropa atas negara-negara di bumi bagian selatan sudah berlangsung sejak abad ke-16. Perlu diketahui bahwa tingkat imperialisme yang dirasakan masing-masing negara jajahan berbeda karena perbedaan negara imperial yang menguasai dan lama rentan waktu penjajahan. Ada yang sampai berabad-abad, berpuluh-puluh tahun atau beberapa tahun saja. Misalkan saja VOC pernah menguasai China, Jepang tetapi tidak begitu lama dan kurang berhasil. Kemudian VOC dan Belanda yang pernah bercokol di Indonesia selama berpuluh-puluh tahun bahkan berabad-abad. Dan bahkan hampir seluruh wilayah Asia Tenggara pernah dijajah bangsa Barat. Kemudian di negara-negara Afrika dan Asia lainnya. Berbagai eksploitasi dan monopoli telah terjadi di masa lalu utamanya dalam bentuk empiris.
Penggunaan Perspektif
Penggunaan perpektif atau cara pandang akan sangat mempengaruhi cara berfikir dan menilai sesuatu. Sehingga penggunaan bermacam-macam perspektif akan menghasilkan memacam-macam hasil yang berbeda, dan dalam konteks ini adalah tulisan sejarah yang beragam. Penggunaan perspektif dalam kasus ini berkaitan erat apakah diambil dari kaca mata Barat (Eropa) atau kaca mata Timur khususnya negara-negara bumi bagian selatan. Tentu akan menghasilkan tulisan yang kontradiktif.
Bagi Barat apa yang mereka lakukan bukanlah suatu bentuk imperialisme melainkan misi memperadabkan. Hal itu jelas terdapat dalam banyak tulisan karya orang-orang Eropa. Mereka menganggap bahwa orang-orang di luar Eropa belumlah beradab kala itu sehingga ada misi peradaban yaitu memperadabkan bangsa-bangsa di luar sana. Secara otomatis jelas itu menunjukkan bahwa orang-orang Eropa memiliki derajat yang lebih tinggi dan hal itu dianggapnya sebagai sebuah takdir dari awal lahirnya kehidupan.
Namun itu akan berbeda cerita ketika menggunakan perspektif Timur atau negara-negara terjajah. Apa yang dilakukan oleh orang-orang Eropa di masa lalu bahkan sampai sekarang adalah sebagai bentuk imperialisme baik secara fisik maupun konseptual. Mereka telah menjajah bangsa-bangsa Timur, mengeksploitasi, memonopoli, mendominasi dan sejenisnya dan hal itu secara jelas membawa dampak dan pengaruh besar. Mereka merasa banyak dirugikan akibat sistem-sistem yang diberlakukan katika menjajah. SDA dan SDM mereka dianggap telah dirampas dan dimanfaatkan.
Sebenarnya jika kita menggunakan perspektif lain yang lebih netral berdasarkan atas fakta-fakta yang ada maka akan kembali melahirkan cerita yang berbeda. Bahwa sebenarnya apa yang terjadi terkadang tidak seperti yang telah banyak dituliskan dalam sejarah masa lalu. Tulisan sejarah yang hanya berbicara secara sepihak semisal pihak penjajah Eropa selalu memberi dampak yang buruk karena tidak pernah memberikan bantuan kepada pribumi. Namun sebenarnya berbagai kerja sama yang dilakukan oleh beberapa elite pribumi dengan pihak pemerintah Eropa merupakan realita yang berbeda. Misalnya saja banyak elite pribumi yang kala terjadi permasalahan intrik dalam kerajaan sendiri kemudian meminta bantuan kepada pihak Belanda. Hal itu merupakan suatu bentuk kerja sama yang saling menguntungkan antar keduanya. Paku Buwono II minta bantuan VOC untuk mengusir pemberontakan China, Amangkurat I minta bantuan VOC untuk mengusir pemberontakan Trunojoyo, Paku Buwono III minta bantuan VOC untuk melawan Mas Said (Mangkunegara I), dan lain sebagainya.
Dominasi Global
Dominasi global adalah suatu bentuk penguasaan terhadap sesuatu yang lingkupnya dunia. Mengapa terjadi pendominasian global? Tentu ada langkah-langkah tertentu baik dalam rentetan waktu yang singkat, lama dan continues. Itu sebabnya mengapa dalam tulisan David B. Ada tulisan “Europeans on the Move”. Eropa terus bergerak dalam rangka mencapai cita-cita besarnya (konsep empires). Meskipun dewasa ini merupakan generasi penerus keturunan yang keberapa dari para leluhur pendiri bangsanya, namun cita-cita, visi, misi dan tujuan raya bangsa-bangsa Eropa tetap terus diemban dan dilaksanakan.
Jika dilihat dari sejarahnya, mengenai bidang ekonomi tentu berkaitan erat dengan Revolusi Industri dan Revolusi Perancis. Kedua revolusi tersebut memiliki dampak dan pengaruh yang sebenarnya sampai sekarang masih ada. Tumbuhnya jiwa kapitalisme dan liberalisme kini kian mengglobal diseluruh negara di dunia. Hal tersebut ditunjang dengan penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional yang mana secara jelas itu membuktikan bahwa Barat khususnya Inggris memiliki tempat khusus dalam skala internasional. Sekitar 700 juta orang di luar Eropa menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Misi agama (gospel) yang sejak dahulu dijalankan juga turut mempengaruhi pembentukan dominasi global oleh Eropa. Tidak lupa ketinggalan adalah mengenai ilmu. Bahwa sampai sejauh ini Eropa masih menjadi kiblat terkait hal-hal akademis. Berbagai teori dan konsep kurang menjadi mantab ketika belum menggunakan dari Eropa khususnya Inggris, Perancis dan Amerika Serikat. Eropa juga melakukan klaim atas wilayah-wilayah teritorial di berbagai benua. Misalkan saja New Zealand, kemudian Benua Amerika yang diklaim penemuan Christoper Colombus, negara Kamerun, Nigeria dan lain sebagainya. Banyak negara dan kota-kota yang didirikan berdasarkan dengan nama-nama agama Kristen atau tokoh penemu (ekspansionis atau eksploitais). Klaim-klaim inilah yang turut memperkuat citra global dominace bangsa Eropa terutama secara geografi teritorial.
Konsep negara dominan adalah mengkalim hak otoritas terhadap negara-negara yang lemah. Negara-negara lemah sangat sulit diakui sebagai negara yang berdaulat oleh para negara yang dominan. Harus melalui tahap panjang dan rumit bagi negara-negara lemah untuk menjadi negara berdaulat. Salah satunya adalah setelah merasakan penjajahan atau imperialisme kolonialisme. Ini sejalan dengan konsep Eropa yang dianggapnya sebagai misi peradaban.
Dengan kata lain bahwa semakin majunya zaman seperti sekarang ini, tentu membutuhkan perspektif yang komplit. Bagaimana menempatkan posisi diri sendiri (negara kita masing-masing) dalam kancah internasional. Bagaimana kita memutuskan apakah akan terjun atau tidak ke ranah intenasional. Bagaimana kita bersikap isolasi atau sebaliknya dalam hal-hal tertentu. Bagaimana kita memikirkan ketergantungan terhadap bangsa-bangsa lain. Apakah selamanya kita akan menutup diri, atau justru selamanya kita terlalu terbuka dan tergantung dengan luar? Semua perlu penggunaan perspektif yang luas dan holistik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar