Pada awal abad ke XIX tepatnya
pada 1817, Belanda mengunjungi tanah Borneo Tenggara dengan berbagai macam
rencananya. Sebagai rencana utama ialah eksploitasi berbagai Sumber Daya Alam
(SDA). Seperti ekploitasi sumber daya mineral, pembentukan perkebunan dan
berbagai kegiatan ekonomi dari dari hasil perdagangan maupun non perdagangan. Tetapi
untuk mencapai hal itu Belanda mengalami hambatan berupa kedua macam
ketidakpastian yang telah dijelaskan sebelumnya. Banyaknya kelaparan akibat
gagal panen. Gagal panen disebabkan karena iklim yang tidak menentu. Kemudian
adanya peperangan, pembajakan diwilayah-wilayah sungai, pantai atau laut serta
adanya beberapa wabah penyakit mengerikan seperti cacar dan kolera. Atas
keadaan sosial alam seperti itulah yang menyebabkan munculnya politik isolasi. Banyak masyarakat baik
lokal maupun dari luar wilayah lebih menutup diri. Misalnya saja masyarakat
Dayak yang lebih memilih mentup diri di daerah pedalaman dan enggan melakukan
kontak dengan luar. Dengan berbagai realita kehidupan seperti itu tentu menjadi
sebuah hambatan bagi Belanda untuk memanfaatkan SDM dalam rangka menguasai dan
mengekploitasi SDA. Untuk itulah kemudian Belanda mengeluarkan kebijakan baru
untuk mendisiplinkan masyarakat Borneo Tenggara2. Beberapa tindakan
utama yang dilakukan Belanda adalah mengatasi penjarahan dan pembajakan di laut
dan sungai, mengontrol ketidakpastian ekonomi, dan mengatasi wabah penyakit
menular.
Sekurang-kurangnya
Belanda telah berhasil mengubah ketidakpastian jauh dari keadaan sebelumnya
(abad XVIII dan awal abad XIX). Sebagai bukti bahwa pada 1826 telah mulai ada
kapal dagang yang mulai beroperasi di Barito Tengah, yang pada waktu sebelumnya
tidak ada kapal yang berani menjelajah wilayah tersebut. Kemudian keberhasilan
lain adalah mulai tahun 1837 telah ditekannya angka perburuan kepala manusia
yang sebelumnya umum dilakukan oleh kelompok Dayak asing, yang kemudian
digantikan dengan perburuan kepala kerbau, babi atau hewan lainnya. Dalam hal
wabah penyakit, sekitar tahun 1820-an Belanda melakukan upaya vaksinasi cacar sapi. Upaya vaksinasi
lebih awal diperuntukkan untuk daerah pesisir yang notabene merupakan daerah
yang rawan penyakit karena intensitas kontak dengan masyarakat luar. Baru
sekitar 1870-an vaksinasi mulai masuk sampai daerah pedalaman secara merata.
Hal lain yang tidak ketinggalan adalah mengenai pertanian. Sekitar tahun 1960
Belanda mengupayakan irigasi yang menyebabkan stabilitas pertanian lebih
membaik dari sebelumnya. Namun dalam keberjalanannya orientasi petani mulai
berubah ke arah pengumpulan hasil hutan yang dianggap lebih produktif dan
menguntungkan. Ketika berbagai persoalan tersebut sebagian besar telah
teratasi, maka yang terjadi adalah langkah awal penanaman modal bagi Belanda.
Dari berbagai
paparan tadi setidaknya saya melihat bahwa telah ada upaya (greget) dari pemerintah Belanda untuk
memperbaiki sistem. Sistem dibangun untuk mendukung program (planning). Dan program dibangun untuk
mencapai orientasi. Dalam hal ini ada
dua asumsi mengenai respon Borneans terhadap Belanda. Pertama, bahwa Belanda dianggap pahlawan atau penolong karena telah
memperbaiki keadaan di berbagai sektor kehidupan. Kedua, Belanda dianggap oleh sebagian kelompok yang merasa
dirugikan semisal para pemburu kepala manusia, para penjarah, perampok, dan
pembajak serta beberapa kelompok yang telah mengetahui rencana dibalik
kedatangan Belanda.
Sangat menarik
dalam memahami jalan pikiran bangsa-bangsa Eropa (dalam hal ini Belanda).
Setidaknya perlu pemahaman mengenai konsep pemikiran Belanda. Bahwa telah
tertanam secara fundamental oleh para leluhur kolonial sendiri mengenai konsep
kekuasaan (The Concept of Power). Konsep pemikiran memperadabkan bangsa-bangsa
lain khususnya luar Eropa adalah telah lazim dan sangat fundamentalis. Berbagai
daya dan upaya yang direalisasikan dalam berbagai proyek besar diorientasikan
untuk memberikan suatu keuntungan bagi negara induk. Upaya memperadapkan
bangsa-bangsa terjajah adalah sejenis bentuk politik etis sebagai suatu imbal-balik. Tetapi perlu diketahui
bahwa tetap ada suatu pembatasan dalam proses pemberadaban tersebut. Satu hal
yang menarik adalah konsep bahwa bangsa-bangsa Eropa (kolonial Belanda) adalah
bangsa yang paling beradab, paling maju dan berkembang dan berlaku sebagai
superior dalam segala hal. Politik etis dijalankan dalam ranah-ranah tertentu
dan dalam batas-batas tertentu supaya tidak mengancam eksistensi bangsa
kolonial sendiri. Yang menjadi orientasi utama tetaplah suatu keuntungan yang
sebesar-besarnya baik material maupun non-material.
Dalam kasus ini,
Belanda mencoba mencari peruntungan ketika datang ke Borneo Tenggara. Belanda
mencoba melakukan politik ekspansi,
dimana mengembangkan daerah kolonisasi yang awalnya terpusat di pulau Jawa.
Yang menarik lagi adalah niat atau keinginan kuat Belanda dalam mencoba hal
baru. Dapat dilihat dalam penjelasan sebelumnya mengenai keadaan alam dan
sosial di Borneo Tenggara yang cenderung dapat dikatakan sangat memprihatinkan,
tetapi di sisi lain justru Belanda sangat cermat dan lihai dalam mengintip kekayaan
alam yang sangat besar. Belanda melihat dari berbagai segi keuntungan dan
kerugian. Dalam mencapai tujuannya tersebut, Belanda sadar bahwa semuanya tidak
dapat diraih secara instan tetapi perlu proses panjang yang memerlukan waktu
dan daya, upaya dan biaya. Melihat tulisan Knapen, sangat menarik dalam
membahas politik isolasi yang
dilakukan oleh masyarakat Borneo Tenggara khususnya wilayah pedalaman. Jika
politik isolasi terus berjalan tentu hal itu menjadi batu sandungan bagi
Belanda. Kelancaran akses baik
komunikasi dan transportasi merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan dalam
mendukung program Belanda. Dengan latar belakang geografis yang hampir sama, dapat
dianalogikan seperti pembukaan akses transportasi dan komunikasi di Sumatra
Barat khususnya dari wilayah pesisir (Rantau) ke wilayah pedalaman (Darek) pada
akhir abad XIX sampai awal abad XX. Belanda juga membuka akses ke daerah
pedalaman supaya akses perdagangan, pengiriman barang, dll menjadi mudah
dijangkau3.
1Merujuk pada
tulisan Han Knapen yang berjudul “Epidemics,
droughts, and other uncertainties on Southeast Borneo during the eighteenth an
nineteenth centuries”, hal. 120-123.
2Smith, Linda
T.(2005). “Mendisiplinkan Bangsa Terjajah”
dalam Dekolonisasi Metodologi, hal
94.
3Merujuk pada
tulisan Tsuyoshi Kato yang berjudul “Rantau
Pariaman : Dunia Saudagar Pesisir Minangkabau Abad XIX
Tidak ada komentar:
Posting Komentar